Adab-Adab Sebelum Makan Menurut Imam al-Ghazali

1
2051

BincangSyariah.Com – berbicara tentang adab, maka ia memang tidak dikategorikan langsung sebagai hukum yang meniscayakan hukum. Adab mencakup banyak hal dalam sendi kehidupan manusia, termasuk yang setiap hari dibutuhkan, makan. Menurut al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin (j. 2 h. 4-5), ada beberapa adab sebelum makan yang perlu diperhatikan,

Pertama, setelah kita mengetahui bahwa makanan yang akan dikonsumsi itu secara dzat (kandungannya) itu halal dan baik, didapatkan dengan cara yang baik juga, ia juga tidak didapatkan dengan cara-cara yang makruh di mata agama. Itulah mengapa dalam surah an-Nisa’ [4]: 29, Allah mendahulukan larangan mengkonsumsi harta yang didapatkan dengan cara yang batil sebelum bunuh diri, sebagai penegasan betapa pentingnya makanan yang halal,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian makan harta kalian dengan cara-cara yang batil, kecuali harta tersebut adalah harta perdagangan yang ada saling keridhoan diantara kalian. Dan janganlah kalian bunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang terhadap kalian (An-Nisa’ [4]: 29)

Kedua, mencuci tangan. Kata al-Ghazali, tangan sebagai indra yang sering digunakan untuk berinteraksi tidak terlepas dari kotoran. Maka membersihkannya lebih dekat kepada kebersihan. Selain itu, karena makan dengan tujuan untuk memudahkan menjalankan agama adalah sebuah ibadah, maka sangat baik jika makan dimulai dengan membersihkan tangan layaknya hendak memulai shalat

Ketiga, meletakkan makanan di atas safarah, sejenis alas makan/nampan yang digunakan untuk makan. Hikmah makan di bawah ini, menurut al-Ghazali, mendekatkan kepada sifat tawadhu’. Lalu apakah dengan makan di atas safarah ini kita dilarang untuk makan di atas meja makan dan yang lazim hari ini dilakukan, telah dijelaskan pada artikel ini.

Baca Juga :  Larangan Berlebihan dalam Memuji, Ini Enam Bahayanya Menurut Imam Ghazali

Keempat, duduk yang baik di hadapan safarah, dan tidak berubah-rubah duduknya. Cara duduk saat makan yang dilakukan Rasulullah Saw. adalah menegakkan kaki sebelah kanan dan duduk di atas kaki yang kiri (seperti orang tasyahud).

Kelima, meniatkan saat makan tersebut agar makanannya menjadi kekuatan untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan sebaiknya tidak berniat untuk mencari kelezatan dan bernikmat-nikmat dengan rasa makanan. Karena kalau hanya berniat untuk bisa ibadah, maka ia tidak akan makan secara nafsu sekali hingga perut terasa kenyang. Ini berdasarkan sabda Nabi Saw. yang diantaranya diriwayatkan oleh at-Tirmidzi,

 

ما ملأى أدمي وعاءً شرا من بطنه، حسب ابن آدم لقيمات تقمن صلبه، فإن لم يفعل فثلث للطعام، وثلث للشراب، وثلث للنفس

Wadah yang paling buruk dipenuhi oleh Bani Adam adalah perutnya sendiri. Cukuplah bagi Bani Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang belakangnya. Jika tidak (bisa begitu), maka bagilah sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan seperti tiga untuk pernafasan. (H.R. At-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Keenam, ridha dengan apa saja yang dihindakan dan tidak perlu pilih-pilih makanan, atau mencari yang paling enak dulu baru makan.

Ketujuh, berusaha mengajak yang lain ketika makan (makan bareng), meskipun cuma hanya bersama istri dan anak-anak. Dasarnya diantaranya sebuah hadis riwayat Abu Dawud,

إجتمعوا على طعامكم يبارك لكم فيه

berkumpullah kalian saat ada makanan, Allah berkahi kalian di dalamnya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here