Ada Titipan Salam, Wajibkah Disampaikan dan Dijawab?

0
1488

BincangSyariah.Com – Menitipkan salam kepada seseorang untuk disampaikan kepada sejawat, teman, guru, kiai, atau famili merupakan kebiasaan yang masih lumrah dilakukan oleh masyarakat kita saat ini. Biasanya titipan salam tersebut tidak menggunakan bahasa Arab, melainkan menggunakan bahasa nasional atau lokal, semisal: “Salam ya buat kyaimu”. Apakah wajib bagi orang menjadi perantara tadi untuk menyampaikan salam tersebut? Dan apakah bagi orang yang menerima titipan salam tersebut wajib untuk menjawabnya? (Baca: Hukum Menyampaikan Titipan Salam untuk Nabi Muhammad Saw)

Dalam literatur fikih, mengirim salam melalui utusan kepada orang lain hukumnya sunah. Dan orang yang dititipi salam tadi dikategorikan sebagai wakil dari orang yang menitip salam. Ia wajib untuk menyampaikan salam tersebut, sebab hal itu merupakan amanah yang harus ia pikul. Kewajiban ini berlaku bila ia setuju atau rela untuk menyampaikan salam tersebut. Bila ia menolak ataupun diam saat disuruh oleh pihak yang menitipkan salam, maka kewajibannya menjadi gugur, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fathul Muin hamisy Ianatut Thalibin (4/215):

(فُروعٌ) يُسَنُّ إِرْسَالُ السَّلَامِ لِلْغَائِبِ وَيَلْزَمُ الرَّسُوْلَ التَّبْلِيْغُ لِإَنَّهُ أَمَانَةٌ وَيَجِبُ أَدَاؤُهَا وَمَحَلُّهُ مَا إِذَا رَضِيَ بِتَحَمُّلِ تِلْكَ الأَمَانَةِ أَمَّا لَوْ رَدَّهَا فَلَا وَكَذَا إِنْ سَكَتَ.

“Menyampaikan salam kepada orang yang berada di tempat lain hukumnya sunah. Orang yang menjadi perantara salam tersebut wajib untuk menyampaikannya, sebab salam tadi merupakan amanah yang wajib ia tanggung. Kewajiban menyampaikan titipan salam ini berlaku bila sang perantara rela dengan amanah yang ia pikul ini. Bila ia menolaknya, ataupun diam, maka hukumnya tidak wajib”

Karena menyampaikan salam merupakan sebuah amanat, maka apabila semisal belum sempat disampaikan hingga menanggung sepuluh titipan salam, orang yang dititipi salam tadi wajib menyampaikannya  sebanyak sepuluh kali juga. Tanggungan titipan salam baru gugur bila sudah disampaikan kepada orang yang dituju, atau dititipkan lagi kepada utusan lain untuk disampaikan lagi kepada orang yang dituju (Fathul Muin, 125).

Orang yang menerima kiriman salam wajib bersegera untuk menjawab salam dengan lisan. Namun kiriman salam yang wajib dijawab hanyalah ketika lafal salam diucapkan dengan benar sesuai dengan sighatnya (lafal assalamualaikum dan sepadannya) dari salah satu kedua pihak, yaitu orang menitipkan salam dan orang yang menjadi utusan.

Baca Juga :  Rasul Menyebut Surat Alfatihah Sebagai Surat Paling Agung

Contoh menitipkan salam dengan lafal yang benar semisal “Sampaikan kata assalamualaikum kepada ayahmu dariku. Sedangkan contoh lafal salam yang benar dari orang yang dititipi salam semisal ucapan “Fulan menyampaikan assalamualaikum kepadamu”. Bila di antara kedua pihak tadi tidak mengucapkan salam dengan lafal yang benar, maka salam tersebut tidak wajib dijawab. Ketentuan ini lebih jelasnya dapat kita baca dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin (314):

(فَرْعٌ) إِذَا أَرْسَلَ السَّلَامَ مَعَ غَيْرِهِ إِلَى آخَرَ فَإِنْ قَالَ: سَلِّمْ لِيْ عَلَى فُلَانٍ. فَقَالَ الرَّسُوْلُ: فُلَانٌ يَقُوْلُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أَوِ السَّلَامُ عَلَيْكَ مِنْ فُلَانٍ وَجَبَ الرَّدُّ. وَحَاصِلُ ذَلِكَ أَنَّهُ لَا بُدَّ فِيْ الاِعْتِدَادِ بِهِ لِوُجُوْبِ الرَّدِّ مِنْ صِيْغَةِ مِنَ الـمُرْسِلِ أَوِ الرّسُوْلِ. فَلَوْ قَالَ الـمُرْسِلُ: سَلِّمْ لِيْ عَلَى فُلَانٍ، فَقَالَ الرَّسُوْلُ لِفُلَانٍ: زَيْدٌ يُسَلِّمُ عَلَيْكَ فَلَا اعْتِدَادَ بِهِ وَلَا يَجِبُ بِهِ الرَّدُ.

“Apabila ada orang mengirim salam lewat seseorang kepada orang lain, jika ia mengatakan:’Sampaikan salamku kepada si Fulan’. Kemudian orang yang dititipi salam mengatakan (kepada orang yang dituju):’Fulan mengatakan assalamualaika padamu’ atau mengatakan:‘assalamualaika dari Fulan’, maka wajib untuk menjawab salamnya. Kesimpulannya, bahwa penitipan salam hanya bisa terhitung dan wajib dijawab apabila terdapat bentuk kata salam dari dari orang yang menitipkan salam atau dari orang yang dititipi salam. Apabila orang yang menitipkan salam berkata: ‘Sampaikan salamku untuk Fulan’ lalu orang yang dititipi salam mengatakan: ‘Zaid menyampaikan salam padamu’, Maka salam tersebut tidak dianggap dan tidak wajib untuk dijawab.”

Bagi pihak yang menerima salam, selain wajib untuk menjawab salam dari pihak penitip, juga sunah terlebih dahulu untuk menjawab salam bagi orang yang dititipi salam tersebut sebagai imbalan atas kesanggupannya mengemban amanah. Jadi kalimat jawaban salam yang lengkap adalah:

Baca Juga :  Kisah Harun Ar-Rasyid dan Ustadz Amatir

وَعَلَيْكَ وَعَلَيْهِ السَّلَامُ

Semoga anda dan dia dilimpahkan keselamatan”

Atau lebih utama dan sempurna bila dijawab dengan:

وَعَلَيْكَ وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga anda dan dia dilimpahkan keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya” Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here