Ada Keberkahan pada Berpikir, Ini Penjelasannya Menurut Ulama

0
115

BincangSyariah.Com – Hal yang mungkin tidak banyak dirasakan seseorang sebagai sebuah pahala besar adalah berpikir. Tentu berpikir dalam hal-hal yang positif. Karena bagaimanapun suatu pekerjaan bisa berhasil adalah disebabkan tidak jauh dari hasil berpikir. Jadi tidak heran, kenapa di dalam Alquran sering kali menemukan bacaan di akhir ayat “afala ta’qilun” afala tatafakkarun” karena saking pentingnya berpikir.

Luar biasanya, satu-satunya makhluk Allah yang diberikan otak untuk berpikir adalah manusia. Sehingga manusia dituntut untuk selalu berpikir dalam setiap tindakan dan keputusannya. Jika manusia tidak berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, apa bedanya dengan makhluk lain yang tidak diberikan otak.

Pikiran yang baik akan menghasilkan produk yang baik. Berpikir yang baik bukan semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri, tapi untuk kepentingan ummat manusia. Sebab pada hakikatnya berpikir itu tidak cukup jika tidak bersinergi dengan nurani kita sebagai manusia. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama ‘arif billah:

الفكرة سراج القلب فإذا ذهبت فلا إضاءة له

“Pikiran itu adalah pancaran dari hati, jika pikiran itu hilang maka tidak akan lagi bersinar”

Maka dari itu, stabilitas rohani dan hati akan berpengaruh pada cara berpikir. Karena pikiran yang baik itu tergantung pada kejernihan hati. Begitu juga dengan kecerdasan. Manakala kecerdasan tidak turun ke hati maka akan muncul tindakan yang tidak tepat sasarannya. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Alawi dalam kitab Risalatul Mu’awanah, hal. 11

 واعلم أن صلاح الدنيا والدين موقوف على صحة التفكر

“Ketahuilah bahwasanya kebaikan dunia dan agama tergantung pada kesehatan atau kejernihan berpikir”.

Maka semakin jelas, bahwa posisi otak manusia adalah berpikir tentang kemaslahatan agama dan bangsa. Sebab Rasulullah pernah bersabda:

Baca Juga :  Anjuran Menyambung Silaturahim kepada Sahabat Orang Tua

 تفكرو ا في آيات ولا تفكروا فى الله

“Berpikirlah kamu tentang tanda-tanda kekuasaan Allah (makhluk Allah) dan jangan berpikir tentang Allah”

Dengan demikian, berpikir itu akan bernilai ibadah. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama yang juga dikutip dari kitab Risalatul Mu’awanah hal. 11,

تفكر ساعة خير من عبادة سنة

“Berpikir sesaat itu lebih baik dari ibadah satu tahun”

Bayangkan, kira-kira betapa beratnya beribadah satu tahun penuh. Namun, dengan berpikir hal itu bukan sesuatu yang sulit untuk didapatkannya. Kata Sayyidina Ali:

لا عبادة كاالتفكر

“Tidak ada ibadah yang seperti berpikir”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here