Ada juga Ulama yang Lambat Belajar, Tapi Jadi Sangat Alim di Usia Senja

1
709

BincangSyariah.Com – Saya selalu meyakini bahwa “kealiman” adalah hak prerogatif Allah. Bisa saja Allah tidak membuat alim orang yang telah belajar dari kecil dan menghabiskan puluhan tahun umurnya untuk meneguk ilmu. Tak menutup kemungkinan juga, Allah menjadikan seseorang alim meski belajar dalam waktu yang tidak lama dan di masa tua atau mendekati tua. Sebab ta’tsir (efek) dari kealiman itu murni dari Allah. Kita cuma disuruh menanam, berbuah atau tidak, hak veto Allah yang menentukan.

Imam Ali al-Kisa’i, seorang ahli di bidang bahasa, ragam bacaan Al-Qur’an (Qira’at), nahwu (gramatika bahasa Arab), termasuk ulama yang lambat belajar. Imam Ad-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ tidak menyebutkan di umur berapa beliau ketika mulai belajar. Beliau hanya menyebutkan, ta’alama ‘an kibarin, intinya bukan di waktu belia. Meski demikian, Allah menjadikan beliau alim. Ketika beliau meninggal, di saat yang sama, salah seorang murid kinasih Abu Hanifah, al-Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani juga meninggal, Harun ar-Rasyid mengatakan,

دفنت الآن الفقه والنحو

Ilmu fikih dan nahwu telah dikebumikan hari ini

Saya memahami ungkapan itu bahwa ilmu itu hakikatnya berada di dada ulama. Karena ilmu itu malakah (kemampuan), dan kemampuan tidak tidak ditemukan di kitab, melainkan ada pada seseorang. Kalau ilmu sekedar di kitab, tentu pemilik perpustakaan atau toko buku (yang tidak membaca buku-buku yang ada) adalah orang yang paling alim.

Contoh lain adalah Abu Bakar al-Razi (w. 311 H). Di masa mudanya ia bekerja sebagai penyanyi dan penabuh gendang. Ketika umurnya beranjak tua, beliau membenci pekerjaan itu dan menganggapnya tidak tepat dengan dirinya. Setelah itu, beliau baru memutuskan belajar ilmu kedokteran dan filsafat secara totalitas setelah umurnya lebih dari 40 tahun.

Baca Juga :  Pengertian dan Dalil Tentang Asmaul Husna

Di sisa umurnya, Abu Bakar al-Razi hanya fokus terhadap ilmu. Hingga wafat, beliau telah menulis kitab al-Hawi, sebuah ensiklopedia kedokteran sebanyak 30 Jilid, dan total karya beliau mencapai 250 kitab. Demikian seperti dikatakan oleh Ibn Khalikan.

Dua cerita tersebut menggambar, banyak ulama yang lambat belajar. Tapi mereka bisa mengalahkan orang-orang yang sejak kecil sudah belajar. Syahidul Mimbaralmarhum Syaikh Dr. Ramadhan alButhi mengatakan,

العلم منحة إلهية

al-‘ilmu minhatun ilaahiyyah

Ilmu itu anugerah Allah

al-Imam Ibn Hazm, belajar ketika umur beliau 26 tahun. Demikian, tulis al-Dzahabi. Beliau terlalu masyhur dijelaskan. Karyanya terlalu agung dipaparkan. Imam al-Qaffal al-Marwazi, baru belajar di umur 40 tahun. Tapi kemudian hari beliau jadi ulama besar dalam Mazhab Syafi’i. Seorang ulama Al-Azhar, Syaikh Khalid al-Azhari baru mulai belajar ketika umur 36 tahun dan itu setelah beliau dirundung oleh seseorang. Di usia segitu, beliau memantapkan dirinya untuk belajar. Di kemudian hari, beliau menjadi ulama ahli bahasa yang sangat alim.

Sekali lagi, kealiman seseorang murni hak veto Allah. Saya suka sekali apa yang diungkapkan Imam Ibnu Malik

إذا كانت العلومُ مِنَحاً إلهية، ومواهبَ اختصاصيةً فغيرُ مستبعَدٍ أن يُدَّخَر لبعض المتأخِّرين ما عسُرَ على كثيرٍ من المتقدِّمين

Jika memang ilmu itu aneka hadiah tuhan dan pemberian nan spesial, tidak menutup kemungkinan orang-orang yang lahir belakangan dianugerahi sesuatu yang sebelumnya  tidak diterima oleh para pendahulu. 

Imam Murtadha az-Zabidi al-Azhari, seorang sufi besar yang mensyarahi Ihya’ ‘Ulumuddin al-Ghazali, berjudul Ithaf Saadah al-Muttaqin, memberi catatan atas perkataan ini,

والمعنى أن تَقدُّم الزمان وتأخُّرَه ليست له فضيلةٌ في نفسه؛ لأن الأزمانَ كلَّها متساويةٌ، وإنما المعتَبر الرجالُ الموجودون في تلك الأزمان، فالمصيبُ في رأيه ونقلِه ونقدِه لا يضرُّه تأخُّرُ زمانِه الذي أظهره اللهُ فيه، والمخطئ الفاسدُ الرأيِ الفاسدُ الفهمِ لا ينفعه تقدُّم زمانِه،

Baca Juga :  Amalan yang Mendekatkan Diri pada Keridhaan Allah

Pada hakikatnya tidak ada keutamaan pada zaman lampau dan zaman sekarang, karena mereka sama. Yang diperhitungkan adalah orang-orang yang hidup di zaman itu. Orang yang benar dalam pendapatnya, kutipan dan kritikannya, tidak dapat dipengaruhi hanya gara-gara dia di zaman mutaakhir. Dan orang yang salah pemahaman dan pendapatnya, lampaunya sebuah zaman tidak memberi efek kepadanya.

Saya memahami istilah mutakaddim dan mutaakhir, bukan sekedar orang-orang zaman lampau dan zaman mutaakhir. Saya memahaminya dengan hal lain: keterlambatan dan ketidakterlambatan. Ilmu adalah beasiswa Allah, siapapun bisa diberi beasiswa ini meski dia lambat belajar. Bisa saja Allah justru tidak memberi beasiswa yang agung ini kepada orang yang telah belajar dari sejak kecil. Makanya gak usah sok meski ditakdirkan belajar dari kecil.

Saya pernah dicurhati seorang yang lebih tua dari umur saya, “apakah saya tidak lambat kalau mau mengafal Alquran?” Spontan saya menjawab, bahwa di Jombang dulu ada seorang satpam yang mulai menghafal saat umur 60 tahun. 60 tahun, Gaes! Dan Allah berkehendak mengkhatamkan hafalannya di umur 70 tahun. Tentu semua itu preogratif Allah. Seorang ulama Al-Azhar, Syaikh Fauzi mengatakan,

“Tidak dikatakan terlambat orang yang telah memulai perjalanannya!”

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here