Abu Laits As-Samarqandi: Ahli Fikih yang Pakar Tafsir

1
691

BincangSyariah.Com – Sejarah mencatat bahwa ketekunan menghasilkan kepakaran, siapapun dan apapun bidang yang digeluti, jika dibarengi dengan ketekunan akan melahirkan hasil gemilang, demikian pula yang telah ditorehkan oleh para cendekiawan muslim. Sejumlah ulama yang gigih mendedikasikan dirinya untuk pengetahuan berhasil tampil cemerlang dengan menghasilkan karya tulis dalam berbagai rumpun pengetahuan yang amat berguna bagi generasi mendatang.

Secara rapi nama-nama mereka terukir di kitab Siyar A’lam al-Nubala’ karya Imam adz-Dzahabi, Mu’jam al-Mufassirin karya Adil al-Nuwayhidh, Thabaqat al-Mufassirin karya al-Suyuthi, Mu’jam al-Muallifin karya Umar Ridha Kahalah, dan kitab-kitab lain yang memuat biografi cendekiawan muslim berserta penyebutan karya-karyanya. Di antara para cendekiawan yang namanya terukir adalah Abu Laits As-Samarqandi, ahli fikih yang juga pengarang tafsir Bahrul Ulum atau tafsir al-Samarqondy.

Abu al-Layts Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim as-Samarqandi al-Balkhi atau yang lebih akrab disapa Abu al-Layts al-Samarqandy merupakan seorang ahli fikih, pakar hadis, piawai tafsir. Imam as-Samarqandi dilahirkan di Samarkand, sebuah daerah di negara Uzbekistan, pada awal abad ke-4 H, tepatnya pada tahun 301 H. Beliau merupakan ulama yang terkenal memiliki tutur nasihat yang penuh faidah dan memiliki banyak karya tulis.

Tidak banyak yang mengulas tentang keluarganya, barangkali ia lahir dari keluarga biasa, tidak disebutkan tentangnya kecuali perihal Abu Laits dan ayahnya. Demikian tulis Dr. Zakariyya dalam kata pengantar Tafsir as-Samarqandi.

Samarkand, kota kelahirannya, merupakan salah satu daerah Khurasan. Daerah ini merupakan kiblat bagi pecinta ilmu. Banyak para ulama, fuqoha, penasehat dan ahli sufi pergi ke sana. Samarkand, yang terletak di daerah Khurasan, serta negara-negara lain yang digolongkan sebagai negara di belakang sungai (bilad ma wara’ al-nahr), pada masa daulah Samaniyyah merupakan pusat penyebaran kebudayaan islam, keluarga kerajaan memperhatikan nasib pengetahuan dan para ulama saat itu,

Baca Juga :  Hadas Maknawi: Antara Sifat Hewani dalam Diri dan Tokoh Agama yang Gemar Mencaci

As-Samarkandi merupakan ulama yang berkecimpung dalam ranah Fiqih Hanafi. Oleh karena itu ia berangkat ke daerah Balkh. Di sana beliau berguru ke tokoh-tokoh besar seperti Ali Abu Ja’far al-Hindiwani (w. 362 H), Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhy al-Mufassir (w. 319 H), Kholil bin Ahmad bin Ismail (w. 368 H), Muhammad bin al-Husain al-Haddady ( w. 388 H), dan tokoh-tokoh lainnya.

Mengenai gelar al-faqih yang dinisbatkan kepadanya,,hal tersebut menunjukkan kepakaran beliau dalam bidang tersebut. Penisbatan al-faqih yang disandang oleh al-Samarkandy memiliki sejarah menarik, karena gelar tersebut disematkan oleh Nabi Saw langsung.

Sebagaimana ditulis oleh Dr. Zakariya Abdul Hamid dalam muqaddimah tahqiq tafsir Bahrul Ulum, tatkala Imam as-Samarkandy usai menuntaskan bukunya tanbih al-ghafilin, beliau membawanya menuju raudah Nabi, beliau bermalam di sana. Al-Samarqandy bermimpi melihat Nabi mengambil kitabnya tersebut dan menimangnya, kemudian Nabi berkata, “Ambil kitabmu, wahai Faqih!, kemudian ia terjaga dan mendapati buku tersebut ada di tempat di mana Nabi menaruhnya. Kemudian beliau mengalap berkah dengan gelar tersebut

Dalam ranah Ushuluddin, Abu Layts merupakan ulama yang piawai pada zamannya. dalam bidang ilmu tajwid, beliau juga terkenal sebagai sosok pendebat ulung. Al-Sam’any berkata : Abu Layts al-Samarqandy merupakan pembesar mazhab Hanafi dan masyhur sebagai ahli berdebat”.

Selain itu, beliau juga mahir berbahasa Persia. Seorang peneliti tafsir mendapati bahwa Imam al-Samarqandy menyebutkan beberapa makna kalimat dalam al-Qur’an yang tidak memiliki suka kata asli dari bahasa Ara seperti al-Firdaus dalam firman Allah dalam surah al-Muminun 11,

الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Beliau berkata : al-Firdaus bermakna taman-taman dalam bahasa Romawi.

As-Samarqandy memiliki murid-murid yang banyak, Sebagian ada yang mengambil periwayatan kitab dari al-Samarqandy, di antara mereka adalah Luqman bin Hakim al-Firghany, Nuaim al-Khatib Abu Malik, Muhammad bin Abdurrahman al-Zubayri, Ahmad bin Muhammad Abu Sahl, Tohir bin Muhammad bin Ahmad al-Haddady, dan lain-lain.

Baca Juga :  Tentang Haghia Sophia

Dalam muqaddimah tafsir, Dr. Zakariyya Abdul Hamid mengurai setidaknya ada 11 karya al-Samarqondy dalam bidang fiqih, di antaranya ada yang tercetak dan ada yang masih berbentuk manuskrip. Hal ini melebihi karya-karya beliau dalam bidang zuhud yang berjumlah 3 buku, ushuluddin berjumlah 6 buku, dan tafsir 1 buku.

Abu al-Layts al-Samarqandi menghembuskan nafas terakhir pada malam selasa tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 375 / 3893H, dikuburkan pada siang hari di kota Balkh di samping kuburan gurunya, Abu Ja’far al-Hindiwany.

Al-Samarkandi meninggalkan banyak karya tulis. Di antara warisan keilmuannya adalah kitab Khizanatul Fiqh, Tanbihul Ghafilin fi al-Wa’zhi wa al-Akhlaq wa al-Ta’amul, al-Nawazil fi al-Fatawa, ta’sis al-Nazhair al-Fiqhiyah, Uyun al-Masail fi furu’ al-Fiqh al-Hanafi, Bustan al-Arifin, Asrar al-Wahy, Syarh Jami’ al-Shagir, al-Nawadir al-Mufidah, dan karya beliau dalam bidang tafsir yang tersohor Bahr al-Ulum atau yang dikenal khalayak luas sebagai Tafsir al-Samarqandy.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here