Abu Hanifah: Pendiri Mazhab Hanafi

3
5725

BincangSyariah.Com – Di antara aliran hukum Islam yang berusia tua adalah mazhab Hanafi. Mazhab ini dinamai sesuai dengan nama ulama pendirinya, yaitu Abu Hanifah. Nama lengkapnya adalah Nu’man bin Tsabit. Imam Abu Hanifah lahir pada tahun 702 M di Kufah, Irak.

Ayahnya merupakan seorang pedagang sutra asal Persia (Iran, sekarang) yang masuk Islam pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Imam Abu Hanifah mengawali studinya di bidang filsafat dan dialektika atau yang dikenal dengan ilmu Kalam. Namun setelah mengusai berbagai disiplin keilmuan tersebut, ia meninggalkannya dan mulai mendalami fikih dan hadis.

Di antara guru Imam Abu Hanifah adalah Imam Hammad bin Zaid, salah seorang ulama hadis pada saat itu. Darinya Abu Hanifah kecil belajar di bawah bimbingannya selama delapan belas tahun. Proses belajar ini, ia tempuh sampai sang guru wafat pada tahun 742 M. Setelah sang guru wafat, Imam Abu Hanifah ditunjuk sebagai penerus ajaran sang guru di mana saat itu ia berusia 40 tahun.

Pada usia yang tidak lagi muda tersebut, Abu Hanifah merupakan ulama yang disegani oleh para petinggi Abbasiyah. Ia ditawari untuk menjadi qadhi (hakim pengadilan), namun ia menolaknya. Penolakan tersebut ternyata berimbas pada dirinya dipenjara oleh raja Dinasti Abbasiyah, yang kala itu dipimpin oleh Abu Ja’far al-Manshur. Imam Abu Hanifah dipenjara hingga sampai akhir hayatnya. Abu Hanifah digolongkan oleh banyak penulis sejarah hukum Islam sebagai bagian tabi’iin shigor (murid para sahabat). Hal ini dikarenakan ia merupakan murid langsung generasi sahabat yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi.

Pembentukan Mazhab Hanafi

Imam Abu Hanifah mendasarkan metode pengajarannya pada prinsip dialog-interakfif. Misalnya Abu Hanifah menyodorkan beberapa problem hukum Islam melalui pertanyaan yang diajukan kepada murid-muridnya, lalu tiap-tiap murid memberikan jawaban atas persoalan yang ditanyakan. Ternyata metode ini nantinya yang menyebabkan banyak murid Abu Hanifah mengarang kitab-kitab fikih mazhab Hanafi. Semacam kumpulan pemikiran sang guru dan pendapat para muridnya. Contohnya Imam Muhammmad al-Syaibani menulis kitab bernama al-Kharraj (pajak) dalam hukum Islam. Kitab ini memuat banyak pemikiran hukum Islam Imam Abu Hanifah dan pendapat-pendapat pengarang (sang murid) sendiri.

Baca Juga :  Hukum Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Alat Mencari Duniawi

Meski dikenal sebagai ahli fikih, Imam Abu Hanifah sebelumnya sangat mendalami ilmu kalam (teologi Islam). Dengan kata lain, mazhab fikih ini terbiasa berangkat dari hipotesis-hipotesis dan menemukan solusinya. Corak pertanyaaan hukum dimulai dengan “bagaimana jika”, maka tidak heran kalau mazhab Hanafi dikenal dengan ahlu ra’y (kaum rasionalis).

Di antara murid-murid Abu Hanifah adalah Muhammad al-Syaibani dan Abu Yusuf. Pengarang kitab dan sekaligus penulis yang banyak mengutip pendapat fikih gurunya.

Sumber-Sumber Hukum

Para ahli mazhab Hanafi awal mendeduksi problem hukum Islam dari beberapa sumber seperti Alquran, hadis, ijma’, qiyas (analogi-deduktif), istihsan dan urf (adat, kebiasaan). Menurut mazhab Hanafi, begitupun mazhab lainnya.

Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal menyebutkan bahwa Abu Hanifah merupakan kelompok ahl ra’yi, sehingga mereka menggunakan qiyas dan istihsan sebagai metode pengambilan hukum. Hal ini berbeda dengan kalangan ahli hadis awal yang hanya menggunakan Alquran, sunnah dan ijma’, semata dalam menggali hukum Islam.

Di antara sumber hukum Islam yang penting menurut mazhab Hanafi adalah urf  (tradisi). Dari konsep urf ini, para ahli hukum Islam mampu mengakomodasi tradisi-tradisi lokal yang tidak disebutkan secara langsung oleh nash-nash syariat Islam. Dari pengakuan terhadap otoritas tradisi ini, lahir kaidah al-‘Aadah Muhakkamah. Selama perkara tradisi lokal, tidak bertentangan dengan nilai syariat Islam, maka tradisi tersebut bisa diakomodasi sebagai sumber hukum.  

Beberapa negara menerapkan mazhab Hanafi. Pada abad ke-19, disebutkan beberapa pemerhati hukum Islam bahwa keberadaan mazhab Hanafi tersebar di berbagai negara, seperti India, Pakistan, Irak, Syiria, Turki dan negara-negara lainnya. Penyebaran mazhab ini banyak dipengaruhi oleh Kerajaan Ottoman di Turki di mana disusun undang-undang negara yang menganut mazhab Hanafi pada Abad ke-19.

3 KOMENTAR

  1. imam jafar as shodiq kok ndak disebut padahal beliau adalah gurunya abu hanifah…sampai1 beliau berkata kalau tdk ada yang dua tahun maka celakalah abu hanifah…
    Mhn maaf..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here