Abu Bakar dan Riwayat Pembakaran al-Fuja’ah as-Sulami

0
1941

BincangSyariah.Com – Kelompok-kelompok teroris selalu menjadikan sisi gelap masa silam (baca salaf) sebagai patokan dan landasan aksi-aksi mereka untuk meneror dan memberikan kengerian bagi masyarakat yang mereka anggap sebagai telah keluar dari Islam meski sering salat, puasa dan haji, Bagi mereka berislam dengan cara seperti itu tidak cukup. Jika tidak ingin menjadi murtad, seorang muslim harus berlepas dari dari sistem-sistem non-Islam seperti Pancasila, UUD 45, demokrasi dan lain-lain. Seorang muslim yang taat kepada sistem negara Pancasila dengan membayar pajak, bekerja di dalamnya dan tidak berlepas diri darinya akan dianggap sebagai kafir dan telah keluar dari Islam. Implikasi keluar dari Islam ialah dibunuh dengan berbagai cara, termasuk dibakar hidup-hidup seperti yang dialami oleh pilot Yordania dan beberapa orang dari suku Kurdi Irak. Ini jelas kekejaman yang luar biasa.

Anehnya lagi praktik pembakaran ini dicarikan justifikasinya dari praktik sahabat. Mereka berdalih bahwa Abu Bakar pernah memerintahkan untuk membakar al-Fuja’ah as-Sullami, seorang muslim yang murtad dari kalangan Bani Sulaim. Riwayat pembakaran Fuja’ah ini sangat masyhur diceritakan dan  bahkan sering dijadikan rujukan oleh kelompok teroris untuk membunuh, membakar bahkan membom orang-orang yang tidak bersalah. Padahal riwayat yang mengisahkan kasus pembakaran ini sangat bermasalah jika kualitas perawi hadis yang meriwayatkannya ditilik ulang dan ditinjau kembali.

 

Kritik Sanad Hadis Pertama

Ada dua riwayat yang dituturkan at-Tabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk dalam kaitannya dengan peristiwa pembakaran al-Fuja’ah. Kedua riwayat ini tidak beda jika dilihat dari ide umum dan alur cerita tentang peristiwa pembakaran ini. Karena riwayatnya yang begitu panjang, tulisan ini hanya menceritakan garis besar kisahnya dengan mengutip dari al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Kathir namun untuk penilaian perawi, tulisan ini mengambil dari Tarikh al-Umam wa al-Muluk seperti telah disebut di atas..

دخـل الفجـاءة علـى أبي بكر – وهو لا يعرفه – وقال له: إني مسلم وقد أردت جهاد من ارتد فاحملنـي وأعنـي فحمله أبو بكر على دابة وأعطاه سلاحاً، فخرج يأخذ أموال الناس ويقتل من خالفه فأرسل إليه أبو بكر من جاء به وأحرقه بالنار

Baca Juga :  Mengenal Sistem Kafalah di Arab Saudi

“al-Fuja’ah as-Sulami datang menemui Abu Bakar. Abu Bakar sendiri sebenarnya tidak mengenal al-Fuja’ah ini. al-Fuja’ah meminta pasukan dan  persenjataan perang kepada Abu Bakar untuk memerangi orang murtad. Abu Bakar mengabulkan permohonannya dan akhirnya ia diberi komando untuk memimpin pasukan yang dipersenjatai secara lengkap. Namun sayangnya, al-Fuja’ah menyalahgunakan wewenang dengan merampok, menjarah dan merampas harta orang-orang Islam sekaligus orang-orang murtad. Ia memerangi siapapun yang menentang dan menghalang-halanginya. Akhirnya Abu Bakar mengutus pasukan untuk mengangkapnnya dan membakarnya.”

Riwayat ini dapat kita tinjau terlebih dahulu dari sisi otoritas keilmuan dan kesalihan para perawi yang meriwayatkan peristiwa pembakan al-Fuja’ah. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir at-Tabari dari as-Sirry dari Syu’aib bin Ibrahim al-Kufiy dari Saif bin Umar dari Sahl bin Yusuf bin Sahl bin Malik al-Anshari dari Abu Yaqub Sa’id bin Abid at-Tha’i.

Dari jalur periwayatan ini, kita dapat melihat dan menganalisis biografi masing-masing periwayat. Pertama, Ibn Jarir at-Tabari. Beliau merupakan seorang ulama yang hafidz dan menguasai berbagai cabang keilmuan terutama tafsir dan sejarah. Dikenal sebagai sosok yang thiqat sehingga hadis riwayatnya dapat dipercaya bila tidak dirusak oleh periwayat lainnya yang bermasalah.

Kedua, as-Sirri. Beliau adalah gurunya at-Tabari dengan nama panjang as-Sirriy bin Yahya bin as-Sirry at-Tamimi al-Kufi yang dijuluki Abu Ubaidah. As-Sirri merupakan sosok ulama hadis yang thiqat selevel dengan al-Ataridiy. Ibnu Abi Hatim menilai as-Sirri sebagai periwayat hadis yang jujur atau saduq.

Ketiga, Syu’aib bin Ibrahim al-Kufiyy. Ibnu Adiyy menilai rawi ini sebagai tidak diketahui. Artinya ia terkena penilaian jahalah. Dalam hal ini Ibnu Adiyy pernah berkomentar: Syuaib bin Ibrahim memiliki banyak hadis dan khabar yang tidak diketahui jalurnya dan bahkan ada sebagain hadis-hadis riwayat darinya yang terhukumi munkar.

Baca Juga :  Orang Bisu Masuk Islam, Apakah Wajib Mengikrarkan Dua Syahadat dengan Lisan?

Keempat, Saif bin Umar. Nama panjangnya ialah Saif bin Umar ad-Dobby al-Asidi dan sering disebut juga dengan nama at-Tamimi al-Barjami. Riwayat lain menyebutkan juga bahwa ia disebut as-Sa’di al-Kufiy, pengarang kitab-kitab tentang sejarah penaklukan dan kemurtadan dan lain-lain. Ibnu Hajar menilai Saif bin Umar sebagai daif dalam meriwayatkan hadis-hadis.

Kelima, Sahl bin Yusuf bin Sahl bin Malik. Perawi ini oleh Ibnu Abd al-Barr dinilai majhul.  Keenam, Abu Yaqub Sa’id bin Abid at-Tha’iy. Beliau adalah saudara Uqbah bin Abid. Ibnu Hajar menilainya sebagai thiqat dalam meriwayatkan hadis-hadis.

Singkatnya, sanad dalam hadis ini bisa dibilang tidak bisa dijadikan sandaran bagi kebenaran yang dikandung di dalamnya karena ada beberapa periwayat hadis yang dinilai lemah baik karena majhul, doif atau pun karena munkar. Dalam tradisi ilmu hadis, kualitas periwayat sangat menentukan kualitas hadis.

Kritik Sanad Hadis Kedua

Sementara itu, riwayat kedua yang disajikan at-Tabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk memiliki beberapa perawi, di antaranya Ibnu Jarir at-Tabari dari Yunus bin Abd al-A’la dari Yahya bin Abd Allah bin Bukair dari al-Layth bin Sa’ad dari Ulwan dari Solih bin Kaysan dari Umar bin Abd ar-Rahman bin Auf dari Abd Rahman bin Auf.

Kita akan mulai pembahasan mengenai para periwayat ini dengan terlebih dulu melihat periwayat yang pertama setelah Ibnu Jarir at-Tabari, yakni Yunus bin Abd al-A’la bin Maysarah bin Hafs bin Hayyan as-Sadafi Abu Musa al-Misriy. Ibnu Hajar al-Asqalani menilai perawi ini sebagai thiqat.

Kedua, Yahya bin Abd Allah bin Bukair al-Quraisyi al-Makhzumi. Terkait perawi ini, Ibnu Hajar menilaianya thiqat jika riwayat hadisnya didengar dari al-Layth bin Sa’ad namun dipertanyakan jika riwayat hadisnya didengar dari Malik bin Anas.

Baca Juga :  Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis

Ketiga, dalam jalur periwayatan ini juga kita temukan perawi hadis bernama al-Laiyth bin Sa’ad bin Abd ar-Rahman al-Fahmi Abu al-Harith al-Misriy. Beliau ialah bekas budak Abd ar-Rahman bin Khalid bin Musafir. Terkait perawi ini, Ibnu Hajar menilainya sebagai thiqat-thabat dan ulama fikih yang terkenal.

Keempat, perawi bernama Ulwan bin Dawud. Ada pandangan yang mengatakan bahwa namanya yang sebenarnya ialah Ibnu Solih al-Bajali. Al-Bukhari menilai Ulwan sebagai munkar hadis riwayatnya. al-Uqayli menilai bahwa hadis-hadisnya kebanyakan tidak memiliki jalur periwayatan lain dan bahkan tidak dikenal. Senada dengan al-Bukhari Abu Said bin Yunus menilai bahwa hadis-hadisnya munkar.

Kelima, perawi hadis selanjutnya bernama Salih bin Kaysan al-Madaniy yang dinilai oleh Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai thiqat-thabat dan ahli fikih.

Selanjutnya yang keenam ialah Salih bin Kaysan al-Madani. Terkait perawi ini Ibnu Hajar al-Asqalani menilainya sebagai perawi yang thiqat dan thabat.

Sementara itu, yang ketujuh ialah Umar bin Abd ar-Rahman bin Auf al-Qurasyi az-Zuhri. Perawi ini dinilai oleh Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai maqbul.

Sedangkan periwayat terakhir dari jalur transmisi hadis ini ialah sahabat Nabi bernama Abd Rahman bin Auf. Seorang sahabat Nabi yang dikabarkan akan masuk surga.

Secara sederhana, hadis-hadis yang memiliki perawi yang dinilai bermasalah akan berimplikasi pada penolakan jalur periwayatannya. Hadis ini – meski diriwayatkan oleh ulama-ulama besar sekaliber Salih bin Kaysan, al-Layth bin Sa’ad dan lain-lain namun karena ada perawi bermasalah seperti Ulwan bin Dawud – dinilai daif dan tidak bisa dijadikan sebagai andalan untuk melihat kebenaran informasi yang disampaikannya.

Karena itu, praktik pembakaran kaum murtad oleh Abu Bakar ini tidak ada landasan hadis dan qurannya dan karenanya aksi-aksi teroris tidaklah legitimatif. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here