77 Santri di Banyuwangi Positif Covid-19, Begini Aturan Protokol Kesehatan di Pesantren

0
56

BincangSyariah.Com – Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi menemukan klaster baru Covid-19 di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Banyuwangi. Pada 21 Agustus 2020, Dinas Kesehatan Banyuwangi melaporkan bahwa ada 77 santri dari pondok pesantren yang terpapar Covid-19. (Baca: Banyak Dikaitkan dengan Covid-19, Kapan Bintang Tsurayya itu Muncul?)

Nihayatul Wafiroh, juru bicara Ponpes Darussalam Blokagung Banyuwangi mengklarifikasi hal tersebut. Ada dua langkah yang kemudian dilaksanakan. Pertama, santri yang positif dengan gejala agak berat langsung dipisahkan dengan santri positif Covid-19 tanpa gejala.

Yang kedua, santri dengan hasil swab negatif juga dipisahkan. Sedangkan santri yang positif tanpa gejala diwajibkan melakukan isolasi mandiri. Dalam klaster baru ini, pasien yang positif kebanyakan adalah orang tanpa gejala atau OTG.

Sebenarnya, Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan panduan protokol kesehatan untuk pembelajaran di pesantren dan pendidikan keagamaan. Panduan tersebut berlaku untuk pesantren, pendidikan keagamaan tidak berasrama, dan pendidikan keagamaan berasrama.

Pendidikan Keagamaan Islam yang berasrama adalah pesantren. Di dalamnya ada sejumlah satuan pendidikan, yaitu Pendidikan Diniyah Formal (PDF), Muadalah, Ma’had Aly, Pendidikan Kesetaraan pada Pesantren Salafiyah, Madrasah atau Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Kajian Kitab Kuning (nonformal). Selain pesantren, ada juga MDT dan LPQ.

Berikut adalah empat ketentuan utama yang berlaku dalam pembelajaran di pesantren dan pendidikan keagamaan di masa pandemi virus Covid-19. Ketentuan utama tersebut meliputi:

  1. Membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19
  2. Memiliki fasilitas yang memenuhi protokol kesehatan
  3. Aman Covid-19, dibuktikan dengan surat keterangan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 atau pemerintah daerah setempat.
  4. Pimpinan, pengelola, pendidik, dan peserta didik dalam kondisi sehat, dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
Baca Juga :  Pertanyaan Buat Gus Baha dan Quraish Shihab; dari Mimpi Bertemu Rasul Sampai Soal Cinta

Berikut ini protokol kesehatan bagi pesantren dan pendidikan keagamaan di masa pandemi COVID-19 yang diatur Kemenag:

  1. Ketentuan protokol kesehatan yang berlaku pada pendidikan keagamaan yang tidak berasrama berlaku juga untuk pesantren dan pendidikan keagamaan yang berasrama.
  2. Membersihkan ruangan dan lingkungan secara berkala dengan disinfektan, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer dan papan tik, meja, lantai dan karpet masjid/rumah ibadah, lantai kamar/asrama, ruang belajar, dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan.
  3. Menyediakan sarana CTPS (cuci tangan pakai sabun) dengan air mengalir di toilet, setiap kelas, ruang pengajar, pintu gerbang, setiap kamar/asrama, ruang makan dan tempat lain yang sering di akses. Bila tidak terdapat air, dapat menggunakan pembersih tangan (hand sanitizer).
  4. Memasang pesan kesehatan cara CTPS yang benar, cara mencegah penularan Covid-19, etika batuk/bersin, dan cara menggunakan masker di tempat strategis seperti di pintu masuk kelas, pintu gerbang, ruang pengelola, dapur, kantin, papan informasi masjid/rumah ibadah, sarana olahraga, tangga, dan tempat lain yang mudah di akses.
  5. Membudayakan penggunaan masker, jaga jarak, CTPS, dan menerapkan etika batuk/bersin yang benar.
  6. Bagi yang tidak sehat atau memiliki riwayat berkunjung ke negara atau daerah terjangkit dalam 14 (empat belas) hari terakhir untuk segera melaporkan diri kepada pengelola pesantren dan pendidikan keagamaan.
  7. Mengimbau agar menggunakan kitab suci dan buku/bahan ajar pribadi, serta menggunakan peralatan ibadah pribadi yang dicuci secara rutin.
  8. Menghindari penggunaan peralatan mandi dan handuk secara bergantian bagi lembaga pesantren dan pendidikan keagamaan yang berasrama.
  9. Melakukan aktivitas fisik, seperti senam setiap pagi, olahraga, dan kerja bakti secara berkala dengan tetap menjaga jarak, dan menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang sehat, aman, dan bergizi seimbang.
  10. Melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan warga satuan pendidikan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) minggu dan mengamati kondisi umum secara berkala.
  11. Apabila suhu ≥37,3°C, maka tidak diizinkan untuk memasuki ruang kelas dan/atau ruang asrama, dan segera menghubungi petugas kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan setempat:
  12. Apabila disertai dengan gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan/atau sesak nafas disarankan untuk segera menghubungi petugas kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
  13. Apabila ditemukan peningkatan jumlah dengan kondisi sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b segera melaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau dinas kesehatan setempat.
  14. Menyediakan ruang isolasi yang berada terpisah dengan kegiatan pembelajaran atau kegiatan lainnya.
  15. Menyediakan sarana dan prasarana untuk CTPS (cuci tangan dengan sabun) termasuk sabun dan pengering tangan (tisu) di berbagai lokasi strategis.
  16. Menyediakan makanan gizi seimbang yang dimasak sampai matang dan disajikan oleh penjamah makanan (juru masak dan penyaji) dengan menggunakan sarung tangan dan masker.
Baca Juga :  Nabi Membolehkan Abu Bakar Sedekah Seluruh Hartanya tapi Melarang Sa'ad bin Abi Waqqash

Protokol kesehatan wajib dilakukan di masa new normal atau kewajaran baru mengingat kasus positif Covid-19 di Indonesia yang cenderung naik dari hari ke hari. Karena pesantren adalah tempat belajar dengan banyak orang dalam satu tempat, maka protokol kesehatan wajib dilaksanakan. Sebab, lingkungan tempat tinggal adalah garda terdepan pencegahan Covid-19.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here