6 Kondisi Dibolehkan Membuka Aib Orang Lain

12
37141

BincangSyariah.Com – Dalam Islam membicarakan aib orang lain adalah suatu hal yang dilarang, hal itu ibarat seorang muslim memakan daging muslim lainnya. Namun ada ada beberapa kondisi di mana seseorang diperbolehkan membuka aib sesamanya, hal ini sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam al-Nawawi (w. 676 H) dalam karyanya al-Adzkar li al-Nawawi.

Imam Nawawi tidak sendiri di dalam hal ini dalam kaitannya dengan memperbolehkan seseorang membuka aib orang lain. Sebelum itu Imam al-Ghazali (w. 505 H) dalam karyanya Ihya’ Ulum al-Din juga menyinggung hal ini. Demikian juga dengan beberapa ulama lain. Argumentasi mereka adalah beberapa sabda Nabi Saw di antaranya adalah riwayat Imam Bukhari di bawah ini.

Suatu ketika seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi Saw. Setelah itu Rasulullah Saw mengatakan, “berilah dia izin, seburuk-buruk orang adalah orang dari suku ‘Asyirah.” Laki-laki yang dimaksud adalah Uyainah bin Hishn al-Fazari yang terkenal sebagi orang yang pandir namun ditaati. Karena alasan ini kemudian Imam al-Bukhari membolehkan membicarakan aib orang yang suka berbuat onar (ahl al-fasad).

Adapun enam kondisi diperbolehkannya membicarakan aib orang lain sebagaimana dikutip dalam kitab al-Adzkar adalah berikut ini.

Pertama adalah ketika melaporkan sebuah kezaliman. Orang yang dalam posisi dizalimi dalam Islam diperbolehkan melaporkan kepada penguasa, hakim atau pihak-pihak terkait yang memiliki kewenangan untuk menindak tegas pihak yang menzalimi. Misalnya orang yang dizalimi diperbolehkan mengatakan bahwa seseorang telah melakukan pemukulan terhadap dirinya, pencemaran nama baik atau hal-hal semacamnya.

Kedua, ketika meminta bantuan untuk merubah kemungkaran atau ketika hendak merubah orang yang berbuat maksiat agar kembali kepada kebaikan. Ini bisa diilustrasikan ketika seseorang melaporkan tindakan kemungkaran atau kemaksiatan kepada pihak-pihak yang memiliki kuasa untuk merubah kemungkaran tersebut. Seperti ketika seseorang melapor kepada polisi bahwa terdapat permainan judi di sekelilingnya.

Baca Juga :  Dua Orang Non-Muslim ini Berjasa di Kehidupan Rasulullah

Ketiga, ketika meminta fatwa (istifta’), seperti pada saat seseorang meminta fatwa kepada mufti bahwa kakak atau ayahnya telah melakukan ini dan itu atau ketika istrinya telah melakukan ini itu. Tujuannya tidak lain adalah agar mufti mengerti duduk perkaranya dan memberikan fatwanya dengan tepat sesuai pertanyaan orang yang meminta fatwa.

Namun menurut Imam Nawawi alangkah baiknya jika nama orang yang berkaitan disamarkan dengan hanya menyebut seorang laki-laki atau seorang istri. Adapun alasan kebolehan menyebutkan aib ketika meminta fatwa adalah hadis Hindun yang menyebut suaminya sebagai orang yang pelit, sebagaimana riwayat ‘Aisyah berikut.

قَالَتْ هِنْدٌ أُمُّ مُعَاوِيَةَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ آخُذَ مِنْ مَالِهِ سِرًّا قَالَ خُذِي أَنْتِ وَبَنُوكِ مَا يَكْفِيكِ بِالْمَعْرُوفِ.

Pernah suatu ketika Hindun Umm Mu’awiyyah mengadu kepada Rasulullah Saw bahwa suaminya, yang bernaman Abu Sufyan adalah orang yang sangat kikir, maka apakah ia boleh mengambil harta suaminya secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah Saw pun menjawab, “Silahkan ambil untukmu dan anak-anakmu secukupnya dengan cara yang baik!”

Keempat, ketika memperingatkan umat Islam tentang suatu keburukan atau ketika menasehati mereka. Seperti halnya dalam periwayatan sebuah hadis, seorang perawi yang memiliki  kecacatan bahkan wajib diutarakan kecacatannya, bukan bermaksud untuk mengeksploitasi keadaan perawi namun untuk menjaga kualitas hadis dan secara tidak langsung menjaga agama Islam dari pemalsuan.

Kelima, ketika seseorang mendeklarasikan diri atau terang-terangan melakukan perbuatan fasik atau bid’ah, seperti ketika seseorang terang-terangan minum-minuman keras di tempat umum. Maka aib semacam ini hukumnya wajib untuk disampaikan, bahkan menurut imam Nawawi, haram hukumnya jika membicarakan orang tersebut tidak sebagaimana adanya.

Baca Juga :  Keistimewaan Nuzul al-Quran

Keenam, sebagai bentuk identifikasi (al-ta’rif). Hal ini terjadi seperti dalam kasus beberapa orang yang memiliki nama lain untuk mengidentifikasi dirinya seperti al-A’raj (orang pincang), al-A’masy (orang yang rabun), atau al-Ashamm (orang yang tuli) dan lain sebagainya. Hukum menyebut mereka dengan sebutan semacam itu diperbolehkan asalkan diniatkan sebagai bentuk identifikasi bukan yang lain.

Demikianlah enam hal di mana seseorang diperbolehkan menyebutkan aib orang lain. Setidaknya hal ini menunjukkan bahwa agama Islam bukanlah agama yang kaku tanpa kompromi, namun agama Islam adalah agama yang adaptif dan mampu menyerap keresahan pemeluknya dengan baik. Wallahu a’lam.

12 KOMENTAR

  1. Assalamu’alaikum…. Kalau kasusnya begini bagaimana ya? Orang tua berselingkuh, saya hendak meminta pendapat suami apa diperbolehkan menceritakan masalah perselingkuhan ini pada suami karena saya tidak tahu harus cerita pada siapa… Terimakasi…

  2. Bagaimana kalo kasusnya untuk memilih pemimpin lalu kita mengshare apa yang buruk dari orang tersebut dengan tujuan supaya tidak salah pilih? Terima kasih.

  3. Assalamu’alaikum… saya ingin bertanya bagaimana misalnya dalam kasusnya, seseorang yang menjadi partner saya ditipkan uang untuk orang lain misalnya 10000. Namun ketika orang yang dititipkan itu diberi uangnya, dia merasa bahwa nominal yang harusnya dititipkan memang tidak lebih dari 9000. Lalu partner saya yang dititipkan itu merasa sisa uang itu adalah haknya karena telah membantu dalam mengurusi titipan tersebut. Kebetulan partner saya ini jauh lebih tua, jadi saya sulit menasihatinya. Lalu saya pun yan mengetahui hal itu diberi upah dari uang sisa titipan oleh partner saya. Dalam hal ini saya merasa ini tidak benar dan berniat mengembalikan uang yang diberikan kepada saya ke orang yang dititipi. Dalam hal ini, haruskah saya mengungkapkan kecurangan yang dilakukan partner saya kepada orang yang dititipi, atau saya berikan saja uangnya tapi tetap menutupi kecurangan partner saya?

  4. Assalamu’alaikum

    Sebelum nya mau nanya nih teman saya ada yang berpacaran tetapi mereka berdua itu sudah terbawa hawa nafsu terkadang kaum adam tersebut memegang bagian dada dan intim dari kaum hawa sedangkan mereka masih bersekolah tetapi saya menyebarkan aib itu ke guru itu berdosa atau tidak

  5. Assalamu’alaikum

    Sebelum nya mau nanya nih teman saya ada yang berpacaran tetapi mereka berdua itu sudah terbawa hawa nafsu terkadang kaum adam tersebut memegang bagian dada dan intim dari kaum hawa sedangkan mereka masih bersekolah tetapi saya menyebarkan aib itu ke guru itu berdosa atau tidak

    Terimakasih

  6. Temen saya ada yang kutuan. Saya ketularan. Sudah sy bilang suruh bersihin, tp smp skrg mash ada. Sy kesel bgt sm dia gak mau ngaku kl kutuan. Sy kira cuma sy aja yg tau, ternyata ada yg lain dan sama ketularan. Kalo kita saling surhat masalah begitu apa termasuk ghibah juga? Kalo sy bilang ke orang lain jangan deket2 dia krn kutuan apa sama aja menyebarkan aib? Kl gak dikasih tau nnti banyak makin korbannya. Saya mau kasih tau dia lagi gak enak. Gak dikasih tau salah, selalu parno kalo deket dia tkt ketularan lg. Dia gak mikir nnti temen2nya pd ketularan gitu. Dengan enaknya manin tidur si bantal orang, pinjem2 baju kan bete

  7. Kalo misalnya si A musuhan sama si B, terus ketika si A minta maaf ke si B ga di maafin, nah terus siA cari jalan lain dengan cara minta maaf lewat siC tapi siC juga harus tau apa masalahnya, ada apa, kenapa. nah berarti di situ siA menceritakan keburukan siB kepada siC agar siC bisa berterus terang kepada siB agar bisa di maafin siA itu. Apakah boleh menceritakan siB kepada siC?

  8. Assalamu’alaikum
    Saat ini ana merasa bingung apakah ana boleh membuka aib orang tua ana, ana hendak mengatakan mengenai bp saya terhadap ibu. Tapi ana khawatir nantinya akan terjadi perceraian tapi ana juga tidak ingin ibu sakit hati. Jadi bagaimana solusinya?

  9. Assalamu’alaikum wr.wb.sya mau tanya .bolehkah sya membuka keburukkan saudara yg berselingkuh .dan memberitahukan kepada keluarga yg bersangkutan.mohon pencerahan nya trimakasih.wasalam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here