6 Hal yang Perlu Diketahui oleh Pencari Kebenaran

1
1118

BincangSyariah.Com – Katakanlah: “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah dengan keterangan yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108) Bagi pencari kebenaran, hal pertama yang harus diketahui adalah jalan siapa yang akan dia tempuh. Pemilihan jalan di awal perjalanan akan menentukan ke arah mana tujuan  ia labuhkan. Oleh karena itu, memberikan segenap daya upaya untuk mencari jalan kebenaran adalah urgensi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak orang tersesat karena salah memilih jalan, kenapa pasal? Karena mereka memilih tanpa ilmu, hanya ikut-ikutan dengan dasar kebodohan.

Kedua, pencari kebenaran di awal kesadarannya seperti gelas bening yang siap diisi apa saja. Jika yang meraihnya pertama kali adalah pecinta minuman kopi maka warnanya berubah menjadi hitam, jika peminum teh maka akan menguning, begitupula jika dipakai untuk minum air putih maka warnanya akan tetap bening.

Ketiga, bagi umat Islam, jalan kebenaran secara absolut adalah jalan yang pernah ditempuh oleh Nabi Muhammad Saw, Nabi ummi yang diutus dari bangsa Arab untuk seluruh alam. Dia adalah rahmat bagi semesta. Kebenaran adalah ketika dapat memahami dan meneladani seluruh dimensi kehidupannya. Bagi orang-orang yang pernah hidup sezaman dengan Beliau, kebenaran diperoleh dengan melihat dan menyaksikan sikap dan prilaku serta mendengar secara langsung sabda Beliau.

Adapun mereka yang tidak pernah bertemu secara langsung dengan beliau, ajaran kebenaran itu dapat diperoleh melalui talaqqi kepada orang yang pernah berjumpa dengan beliau. Begitulah seterusnya secara estafet sampai akhir zaman kebenaran Beliau diwariskan. Tidak diterima sebuah ‘kebenaran’ yang tidak bersambung kepada Beliau. Untuk itu, tidak layak diikuti setiap ‘orang berilmu’ yang tidak memiliki sambungan kepada Nabi Saw.

Baca Juga :  Terkait Film Jejak Khilafah di Nusantara Buatan HTI, Ini Penjelasan Sejarawan  

Sambungan itu disebut dengan sanad, yang berarti sandaran. Artinya ilmu kita bersandar kepada orang yang darinya kita belajar. Begitupun guru kita bersandar kepada gurunya, gurunya bersandar kepada gurunya lagi sampai kepada Nabi Saw.

Keempat, agama memiliki logika terbalik dengan teknologi. Jika teknologi semakin akhir berpotensi semakin maju dan mendekati kesempurnaannya dalam kebenaran maka agama semakin akhir semakin jauh dari kebenaran dan kesempurnaannya. Itu sebabnya Nabi Saw bersabda “sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah generasiku begitu seterusnya”.

Dari itu, para pencari kebenaran yang hidup jauh setelah Nabi Saw harus berhati-hati dengan fitnah-fitnah yang bisa muncul kapan saja. Baik fitnah yang dihembuskan oleh outsider (orang luar) maupun fitnah insider (orang dalam). Bahkan, fitnah orang dalam agama seringkali jauh lebih berbahaya dari orang luar agama itu sendiri. Siapa mereka orag dalam agama yang menjadi fitnah bagi pencari kebenaran?

Adalah mereka yang tidak memiliki seperangkat keilmuan untuk berijtihad, akan tetapi memaksakan diri untuk berijtihad. Mereka memperkosa dalil-dalil agama untuk menghasilkan hukum dan ‘kebenaran’ serta menafsirkan dalil-dalil tersebut secara serampangan untuk menjustifikasi hasil ijtihadnya. Orang-orang seperti itu tidak masuk dalam sabda Nabi Saw bahwa jika ijtihadnya salah akan mendapat satu pahala, jika benar mendapat dua pahala.

Kelima, kebenaran tidak diperoleh secara instan dan otodidak. Siapapun yang beranggapan bahwa secara otodidak seseorang dapat menguasai kebenaran, maka ia telah jatuh pada keselahan yang fatal. Untuk itu, seorang pencari kebenaran harus mengonstruksi ilmunya mulai dari tingkat dasar, seperti ilmu alat, ilmu ushul, balaghoh, bahasa arab, dasar-dasar fiqih, tauhid dan agama secara keseluruhan.

Konstruksi ilmu itu harus dibangun melalui bimbingan seorang guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Sangat tidak diperkenankan para pencari kebenaran di awal pencariannya hanya melalui baca-baca buku seorang diri. Karena, selain berpotensi tersesat dalam pemahamannya, kebenaran tidak hanya tentang kebenaran itu sendiri, tetapi juga tentang teladan seorang guru di dalam mempraktikkan kebenaran yang diajarkan kepada muridnya.

Baca Juga :  Menyikapi Wabah Secara Proporsional

Keenam, para pencari kebenaran tidak boleh berpuas diri pada pemahaman satu kelompok saja. Artinya, mereka harus rajin-rajin ‘piknik’ ke pemahaman kelompok lain. Karena, boleh jadi terdapat kebenaran di kelompok lain yang justru tidak ada di kelompoknya. Atau, mungkin saja mereka tersesat dan yang mampu mengembalikan mereka ke jalan kebenaran adalah kelompok yang berada di luar mereka. Wallohu a’lam bisshowab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here