Hukum Memanfaatkan Diskon Hari Natal

2
37

BincangSyariah.Com – Belanja dengan harga murah meriah adalah sebuah kebahagaiaan tersendiri bagi para penikmatnya, sehingga tak jarang banyak orang yang memburu moment-moment tertentu agar mendapatkan barang dengan potongan harga atau diskon. Di mana diskon belanja  dapat diperoleh dengan cara yang beragam salah satunya seperti diskon yang diberikan oleh tempat perbelanjaan di hari natal.

Pada momen natal dan tahun baru biasanya diskon di tempat-tempat pembelanjaan mulai merebak diskon hari natal dan tahun baru. Namun sebagian muslim kemudian bertanya, jika diskon tersebut sengaja diberikan untuk turut menyambut datangnya hari natal, lalu bagaimana hukumnya memanfaatkan diskon hari natal tersebut menurut para ulama’?

Menurut Islam hal yang sangat prinsipil untuk menopang keabsahan dalam melakukan transaksi adalah melakukannya dengan adanya kerelaan dan tanpa paksaan di antara kedua belah pihak, sebagimana firman Allah dalam surat An-Nisaa’ [4]: 29 yang berbunyi

يَا اَيُّهَا الَّذِينَ اَمَنُوا لَا تَاءْكُلُوا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّا اَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مَنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian makan dari harta di antara kalian dengan cara yang tidak benar, kecuali perniagaan atas dasar saling rela di antara kalian

Ayat di atas menjelaskan bahwa salah satu bentuk transaksi yang tidak dibenarkan oleh agama adalah transaksi yang dilakukan tidak dengan saling merelakan, mengandung riba atau penipuan serta cara buruk lainnya, dan transaksi yang dilegalkan adalah yang berdasar atas suka rela. Selain prinsip yang telah disebutkan tentang akad yang dilarang, maka pemahaman terbalik dari ayat tersebut adalah setiap transaksi yang tidak mengandung unsur-unsur ke-bathilan maka tetap dilegalkan oleh syariat sebagimana kaidah fikih yang berbunyi

اَلْاَصْلُ فَى الْمُعَامَلَةِ اَلْاِبَاحَةُ اِلَّا اَنْ يَدُلَّ الدَّلِيلُ عَلَى تَحْرِيْمِه

Hukum asal transaksi adalah legal, kecuali ketika ada dalil yang menunjukkan atas keharamannya

Petikan dari kaidah fikih tersebut memberikan pesan pada kita semua bahwa setiap manusia diberikan kebebasan untuk membelanjakan hartanya dan melakukan transaksi apapun selama transaski tersebut belum ada dalil yang melarangnya, dan tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan. (Mirwan Ibrahim al-Qaisi, Mawsu’ah Huqūq al-Insān fi al-Islām, 2014, h.173)

Berkaitan langsung dengan fenomena diskon, diskon dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebuah potongan harga yang biasanya diberikan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan omset penjualan suatu benda. Tradisi ini nyatanya memang biasa dilakukan oleh para pedagang zaman dahulu hingga masa sekarang.

Pemberian diskon yang dilakukan para pedagang nyatanya merupakan anjuran tersendiri yang diajarkan oleh rasulullah dalam transaksi jual beli sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Jabir bin Abdillah bahwa rasulullah SAW. bersabda

رَحِمَ اللَهُ رَجُلًا سَمْحًا اِذَا بَاعَ, وَ اِذَا اشْتَرَى, وَ اِذَا اقْتَضَى

Allah mengasihi seseorang yang berlapang dada ketika menjual, ketika membeli, dan ketika mengadili

Imam al-Bukhari memberikan penafsiran kalau kata samhan dalam hadis tersebut sebagai orang yang mempermudah, dan lapang dada dalam melakukan sebuah transaksi. (al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Fikr). Mempermudah dalam transaksi dan kelapangan dada ini jika dikontekstualisasikan dapat berupa pemberian diskon kepada para pelanggan agar dapat mempermudah para konsumen untuk mendapatkan benda yang diinginkan dengan harga yang relatif murah.

Selain anjuran untuk mempermudah dalam transaksi kemudian ajaran Islam juga sangat menganjurkan bagi para pengikutnya untuk tidak berlebihan dalam mengambil laba dalam perdagangan, Syaikh Ahmad bin Abdirrazaq menjelaskan terkait etika mengambil laba dalam perdagangan

يَجُوزُ لِمَنْ اِشْتَرَى بِضَاعَةً لِلتِّجَارَةِ اَوْ لَلْاِقْتِنَاءِ اَنْ يَبِيْعَهَا بَعْدُ بِاَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِهَا حَاًلا اَوْ مُؤَجَّلًا, وَلَا نَعْلَمُ حَدًّا يَنْتَهِى اِلَيْهِ فِى الرِّبْحِ, لَكِنِ التَّخْفِيفُ وَ التَّيْسِيرُ هُوَ الَّذِى يَنْبَغِى, لِمَا وَرَدَ فِيهِ مِنَ التَّرْغِيبِ

Diperbolehkan bagi seseorang yang membeli sebuah barang baik untuk dijual atau dikonsumsi untuk menjualnya lagi dengan harga yang lebih mahal dari harga aslinya baik secara kontan atau tidak, dan saya tidak mengetahui adanya batasan maksimal dalam pedagangan, namun memperingan dan mempermudah (dalam jual beli) adalah hal yang seharusnya dilakukan karena terdapat hadis yang menganjurkan atas hal tersebut

Dari ungkapan di atas sangat jelas bahwa meski ajaran agama islam melegalkan pengambilan laba dari sebuah transaksi, namun Islam juga menganjurkan untuk mempermudah dan memperringan dalam bertransaksi, sebab sistem muamalah yang diajarkan oleh Islam didasari atas prinsip kekeluargaan dan saling tolong menolong yang tidak hanya mengedepankan sistem laba dan keuntungan. (Ahmad bin Abdirrazaq Ad-Duwasy, Fatawil Lajnah Ad-Daimah Lil Buhust al-Ilmiyyah wal-Ifta’, Ar-Riyadh Mamlakah As-Suudiyyah al-Arabiyyah, Vol. 7 h. 50)

Dari uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menikmati promo dan diskon hari natal bukanlah sebuah larangan, selama benda yang dibeli bukan merupakan benda-benda yang dilarang oleh agama. Hal ini karena transaksi yang dilakukan selama tidak mengandung unsur-unsur yang dilarang oleh syariah dalam jual beli, maka pada prinsipnya, jual beli itu sah dan diperbolehkan. Pun begitu juga dengan pemberian diskon yang diberikan atas dasar kemurahan hati penjual yang memang sesuai dengan etika berbisnis dalam Islam serta tidak adanya muatan negatif di dalamnya. Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here