5 Macam Riya Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani yang Harus Kita Hindari

0
1125

BincangSyariah.Com– Dalam satu kesempatan, terkadang seseorang beribadah karena ingin terlihat oleh orang lain. Tentu semua tau bahwa sikap tersebut termasuk perbuatan riya. Dengan perbuatan inilah, setan memalingkan pelaku ibadah dari keikhlasannya. Dan Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa perbuatan riya termasuk perbuatan syirik yang kecil. (Baca: Tips Agar Terhindar dari Sifat Riya Ala Kiai Sholeh Darat)

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maraqil Ubudiyyah mengatakan setidaknya ada 5 macam riya yang harus kita hindari:

Pertama, riya dengan menampakkan anggota badan. Maksudnya seseorang menampakkan kelelahan matanya sehingga dikatakan bahwa dia kurang tidur karena seringkali beribadah pada tengah malam.

Kedua, riya dengan penampilan. Contoh konkrit yang terjadi di masyarakat sekarang adalah orang-orang yang gemar merawat bekas sujud dalam keningnya yang hitam. Kalau memang sudah terjadi memang tidak apa-apa, namun sebaiknya kita berjaga agar kita terhindari dari perbuatan riya dalam hal ini.

Ketiga, riya dengan perkataan. Mungkin riya dalam hal ini yang sering dilakukan oleh sebagian muslim, baik disengaja maupun tidak. Contoh dari perbuatan ini adalah berdzikir, menasihati di depan khalayak umum. Memang perbuatan tersebut sangat mulia, namun bisa saja kita terjebak sehingga terperangkap dalam perbuatan riya

Keempat, riya dengan perbuatan. Sejatinya dalam hal ini seringkali diiringi dengan ibadah. Menampakkan kekhusyu’an saat ibadah, melamakan sujud dan lainnya, bisa saja termasuk dalam perbuatan riya.

Kelima, riya dengan menyombongkan diri kepada teman, tamu, dan yang lainnya.

Memahami riya bukan berarti kita dapat meninggalkan perbuatan-perbuatan baik, hanya karena tidak ingin dikatakan riya. Karena tentu saja perbuatan baik apapun haruslah kita jaga. Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar mendefenisikan riya dengan mengutip perkataan dari Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau berkata:

Baca Juga :  Tanda Penceramah yang Ikhlas Menyampaikan Ceramahnya

ترك العمل لأجل الناس رياء و العمل لأجل الناس شرك

Artinya: “Meninggalkan perbuatan baik karena manusia adalah riya, dan melakukan perbuatan baik karena manusia adalah syirik.”

Mungkin masih banyak yang belum tau akan perkataan dari Fudhail bin ‘Iyadh, salah seorang tabi’in ini. Dari perkataan di atas, Fudhail menganggap bahwa riya bukanlah melakukan suatu perbuatan karena ingin terlihat oleh manusia, karena perbuatan tersebut sejatinya adalah syirik.

Riya menurut Fudhail adalah meninggalkan suatu perbuatan baik hanya karena tidak ingin terlihat oleh orang lain. Sehingga ini merupakan jawaban di atas, bahwa perbuatan tersebut termasuk riya. Dan tentu harus kita hindari, karena dapat mengotori keikhlasan kita dalam berbuat.

Sudah sejatinya kita menghindari perbuatan riya, karena hal tersebut merupakan penyakit hati yang dapat merusak amal kebaikan kita. Namun kita juga harus senantiasa melaksanakan ibadah dan kebaikan lainnya dengan istiqomah. Bukan berarti, karena tidak ingin disebut riya kita sampai meninggalkan kewajiban kita sebagai hamba Allah.

Semoga kita sama-sama dijauhkan oleh Allah dari segala penyakit hati ini. Aamiin Allohumma Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here