5 Fase Membentuk Karakter Anak Versi Islam

0
939

BincangSyariah.Com – Sudah umum diketahui bahwa anak merupakan suatu gambar yang telah dilukisakan oleh orang tuanya. Jelak atau bagusnya gambar tergantung orang tuanya dalam melukis. Selain itu, anak juga merupakan aset berharga yang nantinya dapat berguna bagi orang tua baik di dunia maupun di akhirat. Maka dari itu, aset tersebut harus dijaga dipelihara dan dibentuk agar menjadi aset yang berkualitas.

Islam dan pembentukan karakter anak

Islam adalah agama yang sempurna, tentunya rahmatan li al-‘aalamiin. Dalam hal membentuk akhlak atau karakter anak, Islam memberikan cerminan mulai dari anak masih dalam kandungan sampai anak tumbuh menjadi dewasa. Serta memberikan figur yang dapat dijadikan contoh dalam membentuk karakter anak. Yaitu Nabi Muhammad. Menurut Roidah dalam  “Membentuk Akhlak Anak, Cara Membentuk Akhlak Anak Menurut Islam” (2017), cara membentuk akhlak pada anak menurut Islam ada lima fase. Yaitu fase dalam kandungan, fase anak usian nol sampai enam tahun, fase anak usia tujuh sampai empat belas tahun, fase anak usia 15 sampai 21 tahun, dan fase anak usia 21 tahun ke atas.

Fase dalam kandungan, ketika anak masih berada dalam kandungan orang tua dapat membentuk karakter anak dengan mulai memperkenalkan dan lebih membiasakan calon anak untuk mengenal Allah terlebih dahulu. Meskipun pada dasarnya anak dalam kandungan dalam keadaan hanif.

Pada Fase ini seorang ibu dapat mengajak calon anak berinteraksi seperti mendengarkannya dengan ayat-ayat al-Qur’an, sholawat, serta mengajak bicara ketika akan melakukan ibadah. Selain mengajak anak berinteraksi, orang tua harus senantiasa mendoakan calon anak agar menjadi seoarang anak seperti yang diimpikan. Agar terkabulnya do’a orang tua kepada anak, maka orang tua harus bisa menjaga diri dengan membiasakan makan makanan yang halal dan menjahui makan makanan yang haram. Kemudian orang tua sebisa mungkin menghindari maksiat dan memperbanyak ibadah. Serta menyambut kedatangan anak ke dunia dengan memperdengarkan adzan di telinga seoarang anak.

Baca Juga :  Parenting Islam; Ini 14 Tipikal Karakter Anak yang Harus Kamu Tahu

Fase anak usia nol-enam tahun. Pada fase ini orang tua dapat mencontoh Rasulullah. Fase tersebut Rasulullah memperlakukan anak layaknya seorang raja. Pada masa-masa ini orang tua perlulah memanjakannya, memberikan perhatian penuh, menemani anak belajar dan bermain, selalu menghadirkan wajah yang ceria, menanamkan akhlak mulia, meneladankan kejujuran kepada anak, mengajarkan adab serta sedikit demi sedikit menanamkan tauhid kepada anak. Barulah ketika anak menginjak usia tujuh tahun perlakuan sebagai raja dikurangi sedikit demi sedikit.

Fase anak usia tujuh sampai empat belas tahun. Pada fase ini Rasulullah memperlakukan anaknya sebagai tawanan perang. Sebagamana tawanan perang, orang tua tidak lagi memanja anaknya, namun memperingati, memarahi jika memang anaknya melakukan kesalahan, bahkan memukul jika tidak lagi dapat diperingatkan.

Pada periode ini Rasulullah menganjurkan orang tua untuk menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab pada anak. Sebagaimana perintah shalat. pada usia tujuh tahun anak diperintahkan untuk mendirikan shalat dan menganjurkan kepada orang tua untuk memukul anak ketika berumur sepuluh tahun, jika anak tersebut meninggalkan shalat. Shalat merupakan tanggung jawab pertama yang harus diemban oleh seorang anak, dan menyuruh anak mengerjakan shalat tepat waktu merupakan bentuk penanaman kedisiplinan. Selain shalat, orang tua dapat memperkenalkan ibadah-ibadah lainnya, seperti membaca al-Qur’an, puasa, dan berzikir. Karena pada dasarnya fase ini dirasa terbaik untuk pembentuk karakter anak.

Fase anak usia 15 tahun sampai 21 tahun. Pada fase ini,  Rasulullah memperlakukan anak-anaknya sebagai teman diskusi, sahabat, dan teman berjihad. Perlakuan tersebut didasari dengan rasa hormat, menghargai, mendukung, dan mengarahkan. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus bisa menempatkan dan memposisikan diri sebagai teman, bukan lagi sebagai majikan kepada pembantu. Karena pada fase ini anak sudah diharuskan melaksanakan berbagai ibadah, maka orang tua harus mendampingi anak dan mengajaknya untuk tekun beribadah dan berbuat kebajikan. Serta mengarahkan anak agar menghindari kemunkaran.

Baca Juga :  Hikmah Puasa: Kesalehan Sosial

Fase anak usia 21 tahun ke atas. Pada usia ini orang tua sejatinya harus sudah bisa memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada anaknya. Karena pada usia tersebut anak sudah mendapatkan bekal yang cukup untuk menemukan jati dirinya dan sudah mendapatkan bekal untuk dijadikan benteng dalam kehidupan anak. Akan tetapi dalam perjalanan  fase ke fase orang tua harus memperhatikan lingkungan. Karena lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter atau akhlak seorang anak.

Ketika lingkungan keluarga sudah baik, maka yang harus diperhatikan adalah lingkungan sosial dan lingkungan pendidikan. Orang tua harus memperhatikan teman-teman yang dekat dengan anak. Sebagai orang tua harus sensitif terhadap orang yang akan menjadi teman anaknya. Karena teman yang baik akan berpengaruh pula pada penbentukan akhlak yang baik pula. Selain itu lingkungan pendidikan. Sebagai orang tua sebisa mungkin mencarikan sekolah yang tidak hanya mempelajari ilmu umum saja akan tetapi juga mempelajari ilmu agama.

Dengan perlakuan tersebut, karkter anak akan terbentuk sedikit demi sedikit. dengan karakter dan akhlak yang terpuji, anak dapat menjadi aset yang berharga untuk orang tuanya kelak. Karena sesungguhnya anak adalah titipan sang Pencipta, dan kelak menjadi pemimpin di dunia, maka perlulah anak memiliki akhlak yang mulia. Wa Allahu a’lamu bi ash-Showaab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here