3 Landasan Inti dalam Amar Makruf Nahi Mungkar Menurut Imam al-Ghazali

2
23

BincangSyariah.Com – Amar makruf nahi mungkar atau yang biasa disebut dengan hisbah, memang diperintahkan dalam syariat dan menjadi bagian dari ajaran Islam. Tidak hanya sebagai upaya dalam menjaga hubungan vertikal antara manusia dengan Allah, perilaku ini justru lebih berdampak besar pada hubungan horisontal sesama manusia sendiri. Akan tetapi dalam praktiknya, tidak sedikit upaya–yang mengatasnamakan–amar makruf nahi mungkar justru menimbulkan polemik dalam masyarakat. Di antara hal yang menimbulkan polemik itu ialah kurang adanya pertimbangan ketika memilih dan menggunakan metode dalam ber-hisbah.

Jika kurang tepat dalam memilih metode, bukan tidak mungkin, hisbah yang memiliki makna “mengajak pada kebaikan dan mencegah dari adanya kemungkaran”, berbelok makna menjadi “memerintah pada kebaikan dengan cara kemungkaran (amar ma’ruf bi al-munkar)”. Karena pentingnya hisbah, juga pentingnya metode dalam ber-hisbah, dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, tepatnya dalam bab al-amr bi al-ma’ruf wa an-nahy ‘an al-munkar, Imam Abu Hamid al-Ghazali memberikan beberapa catatan penting yang harus dipegang teguh oleh orang yang beramar makruf nahi mungkar (al-muhtasib).

Pertama, ilmu. Orang yang melakukan amar makruf nahi mungkar (hisbah) itu hendaknya mengetahui perkara yang menjadi objek hisbah-nya, mengetahui situasi maupun kondisi ketika melakukan hisbah, juga mengetahui batasan-batasan dalam melakukan hisbah. Imam al-Ghazali berpendapat bahwa, pengetahuan tersebut bertujuan supaya tindakan yang diambil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar tidak melanggar tatanan hukum Islam dan tetap berada dalam bingkai syariat.

Kedua, kehati-hatian dalam mengambil tindakan (wara’/wira’i). Sikap ini perlu ditanamkan oleh pelaku amar makruf nahi mungkar supaya jiwanya dapat terkendali dan terhindar dari perilaku yang berseberangan dengan pengetahuannya. Karena memang tidak semua orang berilmu itu mampu melaksanakan sesuai dengan apa yang diketahuinya.

Pelaku hisbah (al-muhtasib) yang mengambil tindakan berlebihan ketika ber-hisbah itu terkadang sudah mengetahui bahwasanya yang dilakukannya termasuk dalam kategori tindakan berlebihan dan melampaui batas-batas yang ditentukan syariat. Tetapi sayangnya, tetap saja ia melancarkan tindakannya itu demi tujuan lain dan memenuhi apa yang diinginkannya.

Lebih lanjut Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa, sifat wira’i ini harus tetap dipegang oleh pelaku hisbah supaya ucapan dan nasihatnya dapat didengar–terlebih diterima–oleh orang lain. Akan sangat lucu, menjadi bahan tertawaan, bahkan mungkin saja ditentang, apabila kita mengajak pemeluk agama lain untuk mengikuti ajaran Islam tetapi dengan cara merusak tempat ibadah mereka. Jika hal demikian terjadi, bukannya mereka berkenan mengikuti ajakan kita, tetapi justru gunjingan dan kecamanlah yang kita dapatkan atas perilaku yang kita lakukan.

Ketiga, baiknya pekerti. Mengajak pada suatu kebaikan dan mencegar adanya kemungkaran tentu harus dibarengi dengan pekerti yang baik, sikap lemah lembut, juga penuh dengan kasih sayang. Merujuk pendapat Imam al-Ghazali, pekerti yang baik merupakan inti sekaligus menjadi sebab dari adanya amar ma’ruf nahi munkar. Selain itu, ilmu dan wira’i semata tidak cukup untuk dijadikan bekal dalam ber-hisbah. Karena ketika amarah berkobar, ilmu dan wira’i tak mampu menahannya selama tak ada karakter yang baik dalam jiwa.

Berdasar penjelasan di atas, dapat dimengerti bahwasanya sikap hati-hati (wara’/wira’i) tidak akan menjadi sempurna tanpa adanya pekerti yang baik dan kemampuan untuk mengendalikan diri. Dengan dibarengi pekerti yang baik pula, seseorang akan mampu bersabar dalam memperjuangkan agama Allah. Jikalau tidak, ketika menerima ujian dalam memperjuangkan agama Allah, niscaya ia akan lupa dengan tujuannya ber-hisbah, lupa dengan ketentuan-ketentuan agama Allah, dan justru terlena dengan kepentingannya sendiri.

Itulah 3 landasan inti dalam ber-hisbah yang dikemukakan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin. Ketiganya apabila benar-benar dimiliki oleh seseorang, maka akan menjadi jalan untuk memudahkan amar makruf dan menjauhkan dari kemungkaran. Resep di atas sejatinya bermuara pada hadis Nabi Saw., yang menjelaskan tentang pentingnya kebaikan dalam mengajak pada kebaikan.

مَنْ أَمَرَ بِمَعْرُوْفٍ فَلْيَكُنْ أَمْرُهُ بِمَعْرُوْفٍ

“Barangsiapa mengajak pada kebaikan, maka ajakannya harus dengan cara yang baik.” (H.R. Baihaqi)

Sekali lagi, dan perlu kita ingat, meski tujuannya baik, tetap harus dilakukan dengan cara yang baik-baik. Jika tujuannya untuk berbuat baik kepada manusia dan demi kebaikan manusia, maka perlu juga dilakukan dengan cara yang manusiawi. Wallahu a’lam bish shawab.

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here