Zaim Saidi, Tersangka Kasus Koin Dinar-Dirham

0
30

BincangSyariah.Com – Dunia maya sedang dihebohkan oleh kasus Zaim Saidi, seorang pegiat pasar muamalah yang menjadi tersangka kasus koin dinar dan dirham. Zaim dikenal sebagai seorang tokoh yang menjadi pelopor sekaligus mempopulerkan koin dinar dan dirham di Indonesia.

Pada 3 Februari 2021, Bareskrim Polri menangkap pendiri Pasar Muamalah Depok, Zaim Saidi. Penangkapan tersebut dilaksanakan karena Zaim diduga memiliki peran penting dalam proses transaksi yang menggunakan koin dinar dan dirham. (Baca: Apakah Bertransaksi Memakai Dinar dan Dirham Termasuk Sunnah Nabi?)

Riwayat Hidup Zaim Saidi

Zaim dikenal sebagai salah seorang pegiat ekonomi syariah secara kaffah. Salah satu cara yang ia lakukan adalah memakai dinar dan dirham sebagai alat transaksi. Tercatat bahwa pemikiran dan biografi Zaim Saidi pernah diulas oleh Bachtiar Erwin dalam tesisnya dengam judul Konsep Ekonomi Syariah Perspektif Zaim Saidi (2017).

Tesis tersebut menyebutkan bahwa Zaim Saidi lahir di Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada 21 November 1962. Zaim trercatat menikah pada 1994 dengan seorang perempuan bernama Dini Damayanti.

Zaim Saidi adalah seorang ahli gizi yang merupakan alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1986.

Pada tahun 1991, Zaim Saidi berhasil memeroleh beasiswa bernama Public Interest Research Fellowship dari Multinational Monitor di Washington DC. Pada tahun 1996, ia juga berhasil mendapatkan Merdeka Fellowship dari pemerintah Australia dalam rangka 50 tahun kemerdekaan RI.

Ia lalu memanfaatkan beasiswanya untuk melakukan studi banding tentang perlindungan konsumen. Setelah studi banding selesai, ia melanjutkan petualangan intelektualnya dengan menempuh studi S-2 jurusan Public Affairs di Department of Government and Public Administration di University of Sydney, Australia.

Dalam rentang tahun 2005-2006, Zaim Saidi kemudian belajar lebih jauh tentang muamalat dan tasawuf langsung dari Syekh Umar Ibrahim Vadillo dan Syekh Dr. Abdul Qadir as-Sufi sembari melakukan penelitian di Dallas College, Cape Town, Afrika Selatan.

Hasil studinya di Afrika Selatan tersebut kemudian ditulis dalam sebuah buku Ilusi Demokrasi: Kritik dan Otokritik Islam. Zaim adalah seseorang yang cerdas dan pintar membaca peluang yang ada.

Selain latar pendidikan yang beragam, Zaim Saidi juga tercatat pernah aktif di berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). lembaga-lembaga tersebut di antaranya adalah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Ia juga tercatat pernah mengasuh dua acara talkshow di televisi. Pertama, sebuah acara bertajuk Kamar 619 yang mengusung tema lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 2000 dan acara yang kedua bernama Gerbang Agribisnis yang juga ditayangkan TVRI sejak 2002.

Kesuksesan Zaim Saidi

Selain kesuksesan di bidang akademis, dunia pertelevisian dan sosial, Zaim juga tercatat pernah mendirikan sebuah lembaga riset pada 1997 yang bernama Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC).

PIRAC tercatat aktif melakukan kegiatan riset, studi kasus, pelatihan, dan advokasi. Hal tersebut dilakukan PIRAC untuk mempromosikan kedermawanan sosial di Indonesia.

Pada 1999-2002, Zaim juga tercatat pernah bekerja pada Development Alternative Inc. atau biasa disingkat DAI. DAI adalah sebuah perusahaan konsultan yang berdiri di Amerika Serikat.

Pada 2000, Zaim Saidi mendirikan dan memimpin Wakala Adina, yang sejak Februari 2008 berubah menjadi Wakala Induk Nusantara (WIN). WIN adalah pusat distribusi dinar emas dan dirham perak di Indonesia.

Pada periode selama 2008-2010, ia tercatat menjabat sebagai Direktur Tabung Wakaf Indonesia (TWI) Dompet Dhuafa. Zaim pernah mencanangkan Festival Hari Pasaran (FHP) Dinar Dirham Nusantara sebagai gerakan pengembalian pasar-pasar rakyat pada 2009.

Dalam festival tersebut, dinar dan dirham berlaku sebagai alat tukar. Belum selesai sampai di situ. Berbarengan dengan festival tersebut, Zaim juga tercatat memelopori pembentukan jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar dan Dirham Nusantara atau biasa disingkat dengan JAWARA.

Kasus Transaksi Dinar-Dirham

Saat ini, Zaim Saidi telah ditangkap polisi. Penangkapan tersebut dilatarbelakangi oleh kegiatan transaksi dinar dan dirham yang ia geluti. Detik.com mewatrakan bahwa Zaim Saidi berperan sebagai inisiator dan penyedia lapak Pasar Muamalah.

Konon, Pasar Muamalah yang dikelola Zaim disebutkan sebagai pengelola dan Wakala induk untuk menukar rupiah dengan koin dinar atau dirham. Penangkapan juga dilatarbelakangi oleh informasi yang diterima penyidik pada Kamis 28 Januari 2021.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa ada video yang beredar dan viral tentang penggunaan dinar emas dan dirham perak yang dipakai untuk transaksi di lapak di Pasar Muamalah, Beji, Depok, Jawa Barat.

Polisi sudah menyelidiki dan menemukan ada sebanyak lima orang saksi yang diperiksa, baik dari pengawas, pedagang, hingga pemilik lapak. Ada juga sejumlah barang bukti yang ditemukan berupa dinar dan dirham yang kini sudah diamankan oleh pihak kepolisian.

Sebelumnya, Zaim sempat membantah tentang transaksi dengan mata uang asing. Ia menyatakan bahwa penggunaan dinar dan dirham hanya digunakan sebagai istilah. Ia juga menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan untuk memperkenalkan alat tukar sunnah yang dahulu diadakan oleh Nabi Muhammad Saw.

Kepada CNN Indonesia, Zaim menyatakan, “nah, yang ketiga, kita memang di dalam alat tukar itu, kita memperkenalkan alat tukar sunah yang diadakan oleh Nabi SAW, yaitu koin emas, koin perak, dan koin tembaga. Nah, jadi koin kita itu bukan dinar dan dirham namanya. Itu ngawur, itu orang nggak paham. Dikiranya itu adalah dinar Irak, atau dirham Kuwait, atau dirham Maroko, makanya dikaitkan dengan Undang-Undang Mata Uang,”

Menurut Zaim Saidi, ia tidak ada urusan dengan mata uang. Ia mengklaim mengusir jika ada yang membawa mata uang dari Kuwait atau mata uang dari Maroko atau dari Irak. Baginya, beberapa mata uang yang disebutkan tersebut adalah haram di tempatnya apalagi memakai kertas asing yang dibawa-bawa ke pasar.

Pemeriksaan Polisi

Saat ini, polisi memberikan keterangan akan memeriksa tentang antam dan soal dinar-dirham Zaim Saidi. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri berencana memanggil pihak perwakilan dari PT. Aneka Tambang (Antam) yang berkaitan dengan pembuatan koin dinar dan dirham yang menjadi alat transaksi Pasar Muamalah Depok, Jawa Barat.

Melalui siaran pers, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan menyatakan, “pasti kami ambil keterangannya (PT. Antam) kan kita enggak tahu. Kami harus tahu dulu dia memesan di Antam itu seperti apa,”

Dalam perkara hukum yang menimpa Zaim, polisi sudah menetapkan pendiri sekaligus inisiator Pasar Muamalah Depok, Jawa Barat tersebut sebagai tersangka. Ramadhan juga menerangkan tentang kasus Zaim, bahwa penyidik perlu mendalami keterangan dari Antam disebabkan karena tersangka membuat koin-koin alat transaksi dari perusahaan tersebut.

Ramadhan juga menambahkan bahwa perlu ada klarifikasi dan serangkaian keterangan tersangka kepada polisi terkait perusahaan pelat merah tersebut. Ramadhan juga menyebutkan bahwa ia belum bisa merinci lebih lanjut tentang pelaksanaan pemeriksaan Antam terkait kasus Zaim.

Kasus Zaim diungkap oleh pihak kepolisian setelah sebuah video yang menjadi viral di media sosial pada 28 Januari 2021 lalu. Video viral pada 2021, sementara Pasar Muamalah telah beroperasi sejak tahun 2014 silam.

Keberadaan Pasar Muamalah tersebut sulit diperiksa oleh aparat kepolisian karena hanya beroperasi pada waktu-waktu tertentu selama satu bulan dan terbatas untuk para anggota komunitasnya.

“Pasar ini cuma dua jam sampai empat jam. Awalnya juga di komunitas dia, sekarang seiring dengan berjalannya waktu, ya pedagangnya 10 sampai 15. Nah, karena penggunaan koin kan enggak begitu ketahuan amat, gitu kan,” terang Ramadhan.

Penyidik dari pihak kepolisian telah berhati-hati dalam mengusut kasus tersebut. Saat ini, kepolisian telah memastikan bahwa peristiwa itu memenuhi unsur-unsur pidana sebelum menangkap tersangka.

Atas perbuatannya, Zaim Saidi disangkakan Pasal 9 Undang-undang nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP dan Pasal 33 Undang-undang nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Zaim terancam hukuman penjara paling lama 15 tahun.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here