Ustadz Ahong: Tak Ada Riwayat yang Membolehkan “Hayya ‘Alal Jihad” dalam Azan

1
33

BincangSyariah.Com – Dalam cuitannya di Twitter, Ustadz Ahong merespons tentang sekelompok orang yang mengumandangkan azan dengan mengganti atau menambahkan kalimat “hayya ‘alal jihad”.

Hayya ‘alal jihad memiliki makna “marilah kita jihad”. Kalimat tersebut digunakan untuk menggantikan “hayya ‘alas sholah” yang memiliki arti “marilah kita shalat”.

Ustadz Ahong menuliskan sebagai berikut:

“Pada masa awal-awal korona, kita juga pernah dengar seorang muazin dari Kuwait yang mengganti “hayya ‘alas sholah” dengan “shollu fi buyutikum atau shollu fi rihalikum” ‘shalat lah di rumah kalian masing-masing’. Nah, kalau yang ini ada riwayat dan landasannya.

“Apabila engkau telah selesai mengumandangkan asyhadu alla ilaha illallah asyhadu anna muhammadan rasulullah, maka janganlah mengucapkan hayya alas shalah (mari kita shalat), ucapkanlah shallu fi buyutikum (shalatlah kalian di rumahmu).”

Maka sebagian sahabat seolah-olah mengingkari hal itu. maka Abdullah bin Abbas berkata: “Kamu heran dengan hal ini? Padahal ini sudah dikerjakan oleh seorang yg jauh lebih dari sy yaitu Nabi Saw.

Beliau Saw adalah kepastian, dan saya kurang suka menyuruh keluar rumah sehingga kamu berjalan di tanah becek dan berlumpur.” (H.R. Muslim). Jadi, shollu fi rihalikum atau fi buyutikum menggantikan hayya ‘alas sholah itu ada landasannya.”

Ia menjelaskan bahwa konteks mengganti azan pada waktu itu memang karena ada banjir yang melanda. Maka, umat Muslim tidak bisa shalat di masjid.

Lantas, bagaimana dengan “hayya ‘alal jihad?” yang memiliki makna “marilah kita berjihad” ditambahi atau menggantikan “hayya ‘alas sholah” pada waktu azan?

Ustadz Ahong menyatakan bahwa dalam literatur Syiah, ada penambahan redaksi azan “hayya ‘ala khairil ‘amal” (marilah melakukan kebaikan) setelah “hayya ‘alal falah”.

Konon, hal ini pernah dilakukan oleh sahabat Ali. Apabila ulama Sunni tidak pernah menambahi redaksi azan, apalagi menggantinya.

Selain itu, dalam syarah al-Muhadzab, terdapat pendapat dari kalangan ulama mazhab Syafii yang menyatakan bahwa makruh menambahkan redaksi azan dengan hayya ‘ala khairil ‘amal. (al-Bahr al-Raiq, juz 1, hal 275).

Meski begitu, masih ada ulama yang menoleransi penambahan “hayya ‘ala khairil ‘amal”.

Menutup utasnya, Ustadz Ahong menyatakan bahwa meskipun jihad dari zaman Nabi, sahabat, dan tabiin sudah ada, tapi ia tidak pernah menemukan riwayat bolehnya menambahkan “hayya ‘alal jihad”.[] (Baca: Berjihad Merajut Perdamaian dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar)

Artikel ini terbit atas kerjasama dengan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here