Riset Perilaku Keagamaan Selama Ramadan 2020: Dari Tarawih Berjamaah di Rumah sampai Gus Baha’

0
506

BincangSyariah.Com – Ramadan di tahun 2020 memang telah berlalu tiga hari yang lalu. Tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya, pada ramadan kali ini kita dihadapkan suasana yang benar-benar berbeda. Memilukan, tapi masih ada hikmah yang bisa kita petik. Selama Ramadhan, masyarakat muslim di Indonesia tetap melaksanakan kegiatan keagamaannya sebisa mungkin dengan beradaptasi terhadap kebijakan kerja di rumah atau PSBB. Sebuah lembaga survei Alvara Research Center, merilis laporan survei mereka terkait perilaku keagamaan selama Ramadan 2020. Seperti apa isinya ?

Riset yang dilakukan secara online terhadap 701 orang yang tersebar dari berbagai daerah, usia, status, kelas sosial dan ekonomi di seluruh Indonesia. Pada bagian “Ibadah Ramadhan Saat Covid-19”, lebih dari 67 % menyatakan bahwa di masjid/mushola di sekitar mereka tarawih berjamaah masih dilaksanakan. Kita tahu, sebelum memasuki bulan Ramadan, perdebatan terjadi ketika Pemerintah dengan didukung MUI dan sejumlah organisasi Islam meneyetujui untuk tidak mengadakan shalat berjamaah di masjid, di wilayah yang dinyatakan zona merah Covid-19, yaitu zona yang penularan Covid-19 tinggi.

Meskipun ada lebih dari 67 % masjid yang masih mengadakan tarawih berjamaah, namun lebih dari 55 % masyarkat kali ini memilih untuk shalat di rumah saja. Dan dari 55 % tersebut, 61 % bahkan menyatakan tetap melaksanakan tarawih berjamaah walaupun di rumah saja. Ulama juga banyak menyampaikan pandangannya soal shalat tarawih di rumah ini, dengan dasar diantaranya bahwa di masa Nabi Saw. hanya dikerjakan beberapa hari di masjid. Apalagi di kondisi pandemi seperti sekarang, sangat wajar mengingat shalat berjamaah di masjid itu memang hukumnya sunnah, bukan wajib.

Mendengarkan Ceramah

Selama Ramadan, biasanya banyak kegiatan ceramah keagamaan di berbagai kegiatan seperti shalat tarawih dan menjelang buka puasa bersama misalnya, baik di kantor, lembaga pemerintahan, sekolah dan perkumpulan lainnya. Namun kali ini itu semua tidak bisa dilakukan dahulu. Namun, hampir 80 % (79,6 %) masyarakat menyatakan tetap mendengar ceramah agama meskipun di rumah. Waktu prime time mendengarkan ceramah itu secara berurutan adalah sahur sampai subuh, menjelang buka puasa, dan setelah tarawih.

Baca Juga :  Hukum Memanggil Orang Lain dengan Nama Hewan

Lalu, apa platform yang dipilih untuk mendengarkan ceramah agama itu ? Pengguna Televisi dan platform Youtube bersaing tipis di angka 53-54 %, dilanjutkan dengan live di Internet yang hanya 18 % dan radio di angka 7 % saja.

Siapa Penceramahnya? Apa Kontennya?

Ustadz Abdul Somad (UAS) masih menempati tetap tertinggi (18 %) diantara penceramah yang didengarkan selama Ramadan. Namun, yang menarik adalah kemunculan K.H. Bahauddin Nursalim di tempat kedua (15 %). Padahal, Gus Baha’ secara umum tidak pernah mengadakan live pengajian – karena sejak lama ia tidak menginginkan – kecuali rekaman beberapa pengajian besar saja. Karena ia punya standar nilai diantaranya tidak mau diundang kecuali oleh yang beliau nyatakan sebagai guru atau orangtua. Di bawahnya, ada beberapa nama diantaranya Gus Mus (selama ramadan, rutin live pengajian kitab di waktu sahur, menjelang berbuka, dan sesudah tarawih), Aa Gym (beberapa kali mengadakan live dialog dengan berbagai tokoh juga ceramahnya sendiri), Prof. Quraish Shihab (muncul di berbagai kesempatan lewat diantaranya platform Narasi.tv milik putri beliau, Najwa Shihab) dan Ustadz Adi Hidayat. Beberapa nama seperti Gus Muftah, Ustadz Maulana, Ustadz Dhanu (terkenal dengan meruqyah seseorang dalam acara live di televisi) sampai Cak Nun tetap menjadi nama-nama yang juga ditonton.

Untuk persebaran tema, amal ibadah Ramadhan dan fiqh kehidupan sehari-hari adalah diantaranya yang dicari selama Ramadan (50 – 51 %). Yang menarik, pengajian kitab berada di urutan sesudahnya. Kita tahu, selama Ramadan akibat pesantren diliburkan selama Ramadan untuk menghindari penularan, sejumlah Kyai mengadakan live streaming pengajian kitab kuning. Pesantren besar seperti Roudhotut Thalibin asuhan Gus Mus dan Pesantren Lirboyo juga menyiarkan langsung pengajiannya. Belum lagi dari para dai yang sudah lama melakukan live streaming pengajian kitab, seperti Ulil Abshar Abdalla yang istiqamah pengajian Ihya’ Ulumuddin dan al-Munqidz min ad-Dhalal selama ramadan.

Baca Juga :  HAM Pasca Post-Modern dalam Perspektif Ke-Indonesiaan

Ibadah Ramadan Selama Pandemi

Untuk ibadah ramadan selama pandemi, dengan contoh diantaranya shalat malam, membaca Al-Qur’an, i’tikaf, dan ziarah kubur; hampir separuh dari responden mengatakan untuk poin satu dua yang mereka lakukan sama saja dari tahun-tahun yang lalu. Jumlah yang berbeda ditunjukkan untuk I’tikaf dan ziarah kubur, dimana yang menyatakan meningkat hanya 14,5 % dan 4,4 %. Bahkan jumlah besar respoinden menyatakan tahun ini mengurangi kedua ibadah tersebut. Untuk i’tikaf, akibat pengentian sementara kegiatan di rumah ibadah sementara diantara hukum i’tikaf yang dipegang mayoritas ulama adalah dilakukan di masjid, membuat intensitasnya cukup berkurang. Begitu juga ziarah kubur, karena orang-orang menghindari kerumunan yang dikhawatirkan terjadi saat ziarah, khususnya jika menjelang ramadan dan di hari raya idul fitri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here