Nawal El Saadawi: Perjalanan Hidup dan Karya-karyanya

0
8

BincangSyariah – Nawal El Saadawi, sastrawan sekaligus feminis tersohor Mesir diberitakan meninggal dunia pada Minggu (21/03/2021). Saadawi meninggal dunia di usia 89 tahun.

Menteri Kebudayaan Mesir Inas Abdel-Dayem menyatakan bahwa tulisan Saadawi mampu menciptakan gerakan intelektual yang hebat di Mesir dan di seluruh belahan dunia.

Perjalanan Hidup

Nawal El Saadawi adalah pendiri dan presiden dari Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab dan salah satu pendiri Aososiasi Arab untuk Hak Asasi Manusia.

Pada 1981, dia mendirikan majalah feminis Al-Moawgaha yang berarti Konfrontasi. Bukunya yang paling populer adalah Perempuan dan Seks, sebuah buku yang dilarang di Mesir selama dua dekade.

Setelah buku tersebut terbit, dia kehilangan pekerjaannya sebagai Direktur Kesehatan Masyarakat pada Kementerian Kesehatan Mesir. Dia juga menulis buku Memoar dari Penjara Perempuan. Dia menentang praktik sunat perempuan (female genital mutilation).

“Perempuan tidak bisa bebas dalam masyarakat kelas atau masyarakat patriarki yang didominiasi laki-laki. Itu sebabnya kita harus menghapuskannya, melawan penindasan kelas, penindasan gender, dan penindasan keagamaan. Kita tidak bisa berbicara soal revolusi tanpa perempuan.” kata Saadawi kepada CNN pada 2011.

Pada 1993, Saadawi memutuskan untuk pindah dari Mesir ke ke Carolina Utara, Amerika Serikat dengan tujuan bekerja untuk Universitas Duke, di mana dia menjadi penulis di departemen bahasa Asia dan Afrika selama kurang lebih tiga tahun.

Selanjutnya, dia kembali ke Mesir dan pada 2005 dan mencalonkan diri sebagai presiden, tapi membatalkan pencalonannya setelah menuduh pasukan keamanan tidak mengizinkannya mengadakan demonstrasi.

Pada 2011, dia mengambil peran dalam pemberontakan massal melawan korupsi Mubarak. Saadawi tidak hanya menulis, tapi juga mewujudkan ide-ide dan perlawannya dalam tindakan yang penuh dengan risiko.

Buku-bukunya yang luar biasa dan kritis yang diterbitkan dalam lusinan bahasa juga ditujukan pada feminis Barat, termasuk temannya Gloria Steinem. Dia juga mengkritisi kebijakan para kepala negara seperti invasi mantan Presiden AS George W Bush ke Irak dan Afghanistan.

“Kami tidak memiliki feminis lagi. Feminisme bagi saya adalah untuk melawan patriarki dan kelas dan untuk melawan dominasi laki-laki dan dominasi kelas. Kami tidak memisahkan antara penindasan kelas dan penindasan patriarkal,” kata dia.

Pada 2005, Nawal El Saadawi dianugerahi Inana International Prize di Belgia. Pada 2020, Majalah Time menobatkannya dalam daftar 100 Perempuan Tahun Ini. Penghargaan tersebut sangat pantas didapatkan olehnya mengingat perjuangannya yang sangat gigih untuk mewujudkan kesetaraan gender di Mesir.

“Saya bisa menggambarkan hidup saya sebagai kehidupan yang dikhususkan untuk menulis. Terlepas dari semua rintangan, saya terus menulis.” kata El Saadawi, yang tutup usia dalam kedamaian dan meninggalkan seorang putri dan seorang putra.

Feminis Sejati

Nawal El Saadawi adalah sosok feminis yang kontroversial karena sedari kecil kelahirannya tidak diharapkan. Ia mengawali karier menulis novel non fiksi yang sempat menguncangkan pemerintahan Mesir pada saat itu.

Bahkan, Saadawi rela dipecat dengan jabatan yang dimiliki di rumah sakit, dan bahkan nyawanya sempat di ujung tanduk, sehingga perlu mengasingkan diri, ke negeri Paman Sam.

Ternyata, perjuangannya dalam menyuarakan suara perempuan tidak berhenti dan justru semakin bersemangat dengan melahirkan karya-karya baru, baik itu novel fiksi dan non fiksi.

Suara Saadawi ibarat bunyi yang menyentakkan, singa yang baru bangun dari tidurnya, aungannya mampu membelah bumi Mesir dan wilayah di  sekitar negaranya. Gebrakan yang dilakukan tidak hanya melalui tulisan juga berupa menghadiri konfrensi intenasional dan menyuarakan suara perempuan.

Kehidupan masa kecil membuatnya harus bisa menyuarakan suara perempuan, kepergiannya adalah meninggalkan semangat yang tak pernah redup bagi para perempuan untuk bersuara terus dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Nawal El Saadawi dikenal sebagai penulis novel yang memiliki fokus  pada feminisme, kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan, dan ekstremisme agama. Karya-karyanya dianggap tidak hanya mewakili kondisi Mesir namun juga mewakili kondisi masyarakat di dunia lain.

Dia adalah seorang pejuang hak-hak perempuan di dunia Arab dan meninggal di rumah sakit Kairo setelah menderita penyakit yang lama seperti apa yang dikatakan oleh putrinya, Mona Helmy, pada Al Jazeera (21/03).

Nawal adalah penulis produktif sekaligus seorang feminis terkemuka yang merevolusi diskusi tentang gender dalam masyarakat yang sangat konservatif. Dia lahir di desa Kafir Tahla pada 1931.

Saadawi kemudian menjadi terkenal pada 1972 dengan buku yang melanggar tabu berjudul Women and Sex. Dia menjadi lebih terkenal lagi dengan novelnya yang diterjemahkan secara luas yang berjudul Women at Point Zero pada 1975.

Ada lebih dari 55 buku yang ditulis atas namanya. Saadawi pernah dipenjara sebentar oleh mendiang Presiden Anwar Sadat dan dikutuk oleh Al-Azhar, sebuah otoritas Muslim Sunni tertinggi di Mesir.

“Saya menulis dalam bahasa Arab. Semua buku saya dalam bahasa Arab dan kemudian diterjemahkan. Peran saya adalah mengubah orang-orang saya,” kata Saadawi saat menghadapi banyak ancaman pembunuhan sepanjang hidupnya.

Tentang masalahnya dengan pemerintah Mesir, Saadawi pernah berkata: “Sadat memasukkan saya ke dalam penjara bersama dengan beberapa pria lainnya. Di bawah (presiden lama) Hosni Mubarak, saya telah masuk ke dalam daftar abu-abu.

Meskipun tidak ada perintah resmi yang melarang saya, saya tidak bisa tampil di media nasional – ini adalah aturan tidak tertulis. Tidak ada kesempatan bagi orang-orang seperti saya untuk didengarkan oleh orang-orang.”

Saadawi memiliki ciri feminisme yang blak-blakan dalam karya-karyanya. Dia menulis tentang topik kontroversial termasuk poligami dan sunat pada perempuan yang membuatnya mendapatkan banyak kritik di wilayah Mesir dan Timur Tengah.

Dia juga pernah berkata: “Ketika Anda mengkritik budaya Anda sendiri, ada orang-orang dalam budaya Anda yang menentang Anda, yang berkata: ‘Jangan perlihatkan kain kotor kami di luar.’ Saya tidak percaya teori ini. Saya berbicara satu bahasa, baik di dalam negeri atau di luar. Saya harus jujur pada diri saya sendiri.”

Baca: Nawal Sa’dawi; Perjuangkan Hak Asasi Perempuan Mesir Lewat Novel

Reputasi di Indonesia

Hampir sebagian besar karya Saadawi, terutama dalam bentuk novel, pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan mendapat sambutan hangat dari para pembaca.

Karyanya yang paling terkenal di Indonesia dan paling banyak dibaca adalah sebuah novel berjudul Perempuan di Titik Nol (1989) yang diterjemahkan oleh Amir Sutaarga, seorang ahli permuseuman Indonesia.

Karya tersebut juga diberi kata pengantar oleh sastrawan almarhum Mochtar Lubis. Dalam pengantranya, Mochtar Lubis menuliskan bahwa karya Nawal akan mengejutkan masyarakat Indonesia.

Sebab, meski menceritakan tentang perjuangan perempuan Mesir bernama Firdaus, tapi kisah yang dituliskan mempunyai kesamaan dengan perjuangan perempuan di Indonesia.

Karyanya yang lain, Memoar Seorang Dokter Perempuan juga tak kalah menarik. Novel yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada 1990 ini diberi kata pengangar oleh Toety Heraty Noerhadi.

Toety memberikan pengantar sebagai berikut: bila kita telusuri cerita ini, yang spontan, memberontak penuh kemarahan, dengan harapan akan hari esok yang lebih baik, sebetulnya cerita belum selesai.

Menerima eksistensi sebagai perempuan atau menolaknya, tetap sarat dilema. Tubuh jadi masalah, memakukan atau sesuatu yang disyukuri? Lelaki jadi masalah, hidup jadi masalah.

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Saadawi bukan hanya kemampuan menulis,  tapi juga latar belakang pendidikan kedokteran di Universitas Kairo dan pernah bekerja sebagai psikiater.

Dalam karya Memoar Seorang Dokter Perempuan, misalnya. Istilah kedokteran bermunculan. Salah satunya dalam paragraf berikut ini:

“Kupegang pisau bedah dan kupotong otak itu dalam bagian kecil-kecil, dan bagian-bagian itu kupotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Kuteliti, kuraba-raba dan tak kutemukan apa-apa. Hanya sepotong daging lembut yang hancur dalam genggaman tanganku.”[]

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here