Mengukur Toleransi Beragama di Perguruan Tinggi

2
11

BincangSyariah.Com – Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta merilis hasil survei nasional tentang toleransi beragama di perguruan tinggi secara daring yang berjudul “Kebinekaan di Menara Gading: Toleransi Beragama di Perguruan Tinggi.”

Peluncuran survei tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh yakni H. Syaiful Huda (Ketua Komisi X DPR RI), Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., MT. (Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI), Prof. Aris Junaidi (Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud RI), dan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana (Rektor Institute Hindu Dharma Negeri, Bali).

Selain itu, ada juga Prof. Dr. Jamhari Makruf, M.A. (Dewan Penasehat PPIM UIN Jakarta), dan Sakdiyah Ma’ruf, S.S., M.A. (Generasi Muda dan Pengamat Kebinekaan). Turut hadir juga para peserta dari berbagai pihak, seperti kementerian, kedutaan, NGO, aktivis, civitas akademika dari berbagai universitas, dan rekan-rekan media.

Hasil Survei

Ada tiga temuan utama dari hasil Survei Nasional tentang Toleransi Mahasiswa dan Dosen di Indonesia. Pertama, terkait sikap dan perilaku toleransi mahasiswa di Indonesia. Kedua, tentang tingkat toleransi PTA, PTS, dan PTK. Ketiga, terkait gambaran interaksi dan iklim sosial di lingkungan perguruan tinggi.

Ada dua faktor penting dalam toleransi beragama di perguruan tinggi. Pertama, mahasiswa yang memiliki pengalaman interaksi sosial dengan kelompok yang berbeda, menunjukkan tingkat toleransi beragama yang tinggi. Sayangnya, muncul banyak kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu seperti lembaga dakwah kampus yang membuat toleransi beragama mahasiswa menjadi semakin rendah.

Kedua, iklim sosial kampus yang memengaruhi toleransi beragama mahasiswa. Kebijakan penerimaan dan penghormatan kampus terhadap kelompok minoritas memiliki pengaruh pada toleransi beragama pada mahasiswa pemeluk agama selain Islam, sementara sikap toleransi beragama dosen berpengaruh pada sikap toleransi agama pada mahasiswa Muslim, terutama pada PTA dan PTS. Kondisi ekonomi orang tua juga berpengaruh terhadap toleransi beragama mahasiswa, meskipun hasil ini terbatas pada mahasiswa PTN.

PPIM menyatakan bahwa perbedaan survei toleransi beragama di perguruan tinggi dengan survei-survei sebelumnya adalah bahwa obyek responden tidak berfokus pada mahasiswa dan dosen dari kelompok Islam saja. Survei nasional toleransi beragama di perguruan tinggi dilaksanakan pada November 2020. Responden mahasiswa dan dosen berasal dari beragam kelompok agama yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu dan aliran kepercayaan.

Ketua Riset, Dr. Yunita Faela Nisa menjelaskan, “Survei nasional ini adalah bagian dari upaya PPIM dalam mengedepankan evidence-based policy di bidang pendidikan dan melengkapi beberapa survei yang sudah dilakukan sebelumnya pada 2017 dan 2018 yang hanya fokus pada kalangan Muslim. Kali ini mencakup semua kelompok agama lain (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu dan aliran kepercayaan),”

PPIM menyatakan melalui ppim.uinjkt.ac.id bahwa secara konseptual, definisi toleransi beragama yang digunakan dalam survei ini adalah kesediaan seseorang untuk menerima hak-hak sipil individu atau kelompok agama lain yang tidak disukai atau tidak disetujui. Hal ini didasarkan pada tiga komponen utama.

Pertama, toleransi mensyaratkan kemauan untuk menghargai pernyataan atau perilaku mereka yang tidak disukai atau disetujui. Kedua, definisi kami menekankan hubungan dengan pihak lain yang berbeda agama sebagai subjek sikap atau perilaku toleransi. Meskipun keyakinan keagamaan dapat menjadi salah penyebab intoleransi beragama, namun keyakinan keagamaan bukan satu-satunya akar persoalan.

Ketiga, dalam survei ini mendefinisikan objek toleransi beragama secara lebih luas dengan melihat hak-hak sipil pihak atau kelompok agama lain dalam konteks kehidupan bernegara. Sementara itu, survei ini melihat lebih jauh tentang pendidikan dan toleransi.

Untuk melihat sejauh mana toleransi berkorelasi dengan pendidikan, survei PPIM melihat interaksi sosial dan iklim sosial di lingkungan kampus. Dalam literatur yang ada menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan individu, maka semakin tinggi pula tingkat toleransi beragama terhadap sesama.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama yang tergolong tinggi dan sangat tinggi. Sebanyak 24,89% mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama yang rendah, dan sebanyak 5,27% lainnya tergolong memiliki sikap toleransi beragama yang sangat rendah.

Bila digabungkan, sebanyak 30,16% mahasiswa Indonesia memiliki sikap toleransi beragama yang rendah atau sangat rendah. Sementara itu, dari sekitar 69,83% mahasiswa yang tergolong memiliki sikap toleransi beragama yang tinggi, 20% tergolong memiliki toleransi yang sangat tinggi terhadap pemeluk agama lain.

Sementara dari aspek perilaku toleransi beragama, menunjukkan bahwa hanya sekitar 11,22% mahasiswa Indonesia menunjukkan perilaku toleransi yang rendah (10,08%) atau sangat rendah (1,14%). Sisanya, sekitar 88,78% mahasiswa Indonesia menunjukkan perilaku toleransi yang tinggi atau sangat tinggi terhadap pemeluk agama lain.

Mahasiswa dari PT Kedinasan memiliki toleransi yang lebih tinggi, disusul PT Negeri, PT Swasta, dan PT Agama. Temuan yang senada juga didapatkan dari tingkat persepsi keterancaman, dimana mahasiswa dari PTA paling tinggi persepsi ketrancamannya, disusul oleh PTS, PTN, dan PTK.

Dalam hal interaksi sosial lintas kelompok, rata-rata interaksi sosial lintas kelompok mahasiswa Muslim lebih rendah dibandingkan kelompok pemeluk agama lain. Intensitas ritual keagamaan mahasiswa PTA dan PTK lebih tinggi dibanding PTN dan PTS.

Pada aspek ekonomi, rata-rata pendapatan orang tua mahasiswa Muslim lebih rendah dibandingkan orang tua mahasiswa pemeluk agama lain. Selain itu, persepsi keterancaman mahasiswa Muslim rata-rata lebih tinggi dari mahasiswa pemeluk agama lain. Berdasar pada hasil temuan survei terbaru di atas, PPIM UIN Jakarta mendorong para pemangku kebijakan untuk memperhatikan beberapa hal.

Pertama, Mempromosikan kekayaan pengalaman sosial dan interaksi sosial lintas kelompok keagamaan. Kedua, memperbaiki iklim sosial kampus dengan meningkatkan kultur toleransi beragama di kalangan sivitas akademik dan penghormatan kepada keragaman dan kelompok-kelompok minoritas. Ketiga, program atau kebijakan peningkatan toleransi beragama mahasiswa dengan memperhatikan kekhasan konteks sosial PT dan kondisi sosial-demografi mahasiswa.

Tantangan dan Rekomendasi

Dalam ringkasan survei nasional tersebut, tim peneliti menuliskan bahwa temuan-temuan dalam survei memiliki sejumlah implikasi penting bagi PT atau pengambil kebijakan terkait dalam merumuskan kebijakan atau iklim kampus yang tepat untuk memupuk toleransi beragama di kalangan mahasiswa. Selain itu, heterogenitas PT dan mahasiswa mengisyaratkan diperlukannya kebijakan yang sensitif dan responsif dengan kondisi sosial demografi yang ada. Kebijakan tunggal mungkin tidak dapat bekerja efektif untuk memupuk sikap toleransi beragama di tengah-tengah beragamnya kondisi mahasiswa dan PT.

PPIM menambahkan bahwa salah satu tantangan dalam proses pengambilan data adalah tidak tersedianya data proporsi afiliasi keagamaan mahasiswa di setiap perguruan tinggi. Data tersebut bisa jadi dimiliki oleh perguruan tinggi, namun tidak bisa diakses oleh publik. Ini tentu saja menyulitkan proses pengambilan data karena afiliasi keagamaan mehasiswa merupakan basis stratifikasi sampling.

Meski demikian, ketiadaan data ini tidak memengaruhi secara signifikan hasil penelitian ini mengingat proses sampling acak yang dilakukan dalam survei ini sudah mewakili proporsi afiliasi agama mahasiswa secara nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beragama adalah hal yang terbukti berhubungan dengan toleransi beragama mahasiswa.

Hal tersebut menunjukkan bahwa upaya untuk memupuk toleransi beragama di kalangan mahasiswa memerlukan pendekatan strategis dan komprehensif, yang melibatkan atau menyentuh berbagai aktor. Bukan hanya mahasiswa, upaya tersebut juga perlu melibatkan dosen dan juga kampus secara umum.[]

Baca: Keunikan dan Urgensi Toleransi dalam Islam

100%

2 KOMENTAR

  1. Yang paling penting untuk disampaikan diawal definisi toleransi yang dipakai versi siapa dan batasannya apa..

    kl didalam Islam jelas..QS Al Kafirun..definisi toleransi yang paling tinggi untuk manusia..tdk ada double, triple standard dstnya..clear..

    Dan sejarah mencatat, kekuasaan yang dipegang oleh kaum muslimin yang taat sangat menjaga keberagamaan diluar Islam..sedangkan ketika kekuasaan dipegang oleh non muslim.. keberagamaan kaum muslimin terancam..dan sekarangpun masih terlihat..mis. di perancis, myanmar, india, dstnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here