Grand Syaikh al-Azhar dan Paus Fransiskus Sepakati Piagam Persaudaraan Kemanusiaan, Ini Isinya

3
526

BincangSyariah.Com– Pada 3-5 Februari 2019 kemarin, Council of Muslim Elders (Majlis al-Hukama’ al-Muslimin) sebuah lembaga yang mewadahi cendekia muslim sedunia dibawah kepemimpinan Grand Syaikh al-Azhar, mengadakan Konferensi Internasional untuk Persaudaraan Kemanusiaan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Acara yang diselenggarakan dibawah naungan langsung Amir Abu Dhabi, Syaikh Muhammad bin Zayed Ali Nahyan. Pertemuan selama tiga hari tersebut dihadiri oleh para tokoh agama-agama dunia, mulai dari Islam, Kristen, hingga Hindu dan Budha. Namun, yang paling mencolok adalah kehadiran langsung Paus Fransiskus sebagai pemimpin umat Kristen Katolik sedunia. Ini juga merupakan kunjungan pertama pemimpin katolik sedunia ke negara Timur Tengah. Dari Indonesia, terlihat hadir Prof. Quraish Shihab yang memang masuk ke dalam keanggotaan Majlis al-Hukama’ al-Muslimin dan Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis.

Konferensi selama tiga hari ini kemudian menghasilkan sebuah piagam persaudaraan kemanusiaan yang disebut Watsiqatu Abu Zhabiyy (Piagam Abu Dhabi). Piagama Persaudaaraan Kemanusiaan tersebut dimulai dengan beberapa ungkapan terkait kemanusiaan, yaitu: Dengan Nama Allah yang menciptakan manusia setara hak, kewajiban, dan martabatnya; Atas Nama jiwa manusia yang suci yang dilarang Allah untuk dizalimi, bahwa siapa saja yang membunuh satu jiwa (dengan zalim) maka seolah ia telah membunuh kemanusiaan seluruhnya; Atas Nama kaum fakir, miskin, terzalimi dan terpinggirkan yang Allah perintahkan untuk berbuat baik dan mengulurkan bantuan pada mereka; Atas Nama anak-anak yatim, para pengungsi, dan yang terusir dari rumah-rumah dan negaranya sendiri, serta para korban perang; Atas nama rakyat yang kehilangan keamanan dan kedamaian serta harmoni; dan beberapa ungkapan problematika kemanusiaan lain seperti keadilan, persaudaraan, dan kemerdekaan.

Beberapa poin piagam tersebut adalah sebagai berikut seperti dikutip dari laman berita UAE Albayan,

Pertama, kesadaran penuh bahwa ajaran hakiki dari agama-agama sejatinya menyeru untuk memegang nilai-nilai perdamaian dan menjunjung tinggi interaksi yang terus menerus, persaudaraan kemanusiaan, hidup bersama, berhikmat pada kebijaksanaan keadilan dan kasih sayang, serta membangkitkan rasa beragama sejak belia. Ini bertujuan untuk melindungi generasi mendatang dari cengkeraman pola fikir materialistik serta konflik politik mencari keuntungan secara membabi buta.

Baca Juga :  Sabda Nabi tentang Enam Hak Antar Sesama Muslim

Kedua, kemerdekaan adalah hak setiap insan. Kemerdekaan itu berupa keyakinan, gagasan, berpendapat, hingga tindakan. Bahwa adanya perbedaan agama, warna kulit, suku bangsa, dan bahasa adalah diantara kebijaksanaan kehendak Ilahi. Allah sudah menakdirkan menciptakan manusia dengan keragaman. Dan keragaman menjadi prinsip mendasar dalam melihat kebebasan berkeyakinan, berbeda pendapat, dan memaksa orang lain untuk menganut satu agama atau budaya tertentu tanpa alasan yang jelas.

Ketiga, keadilan yang berdiri di atas prinsip kasih sayang adalah jalan yang harus ditempuh demi kemuliaan hidup

Keempat, dialog, saling memahami, menebar budaya toleransi dan hidup bersama, dipraktikkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan yang kini menjadi problem besar umat manusia

Kelima, dialog antara kaum beragama berarti sama-sama mencari titik temu untuk nilai-nilai keruhanian, kemanusiaan, dan kemasyarakatan yang disepakati bersama. Itu diwujudkan lewat akhlak mulia dan nilai-nilai luhur yang diserukan semua agama serta menjauhi debat kusir.

Keenam, Melindungi rumah ibadah, baik berupa gereja, masjid, dan kuil, adalah kewajiban yang dipenuhi semua agama, nilai-nilai kemanusiaan, serta etika internasional. Setiap upaya untuk mengganggu rumah ibadah, atau niatan untuk permusuhan terhadap rumah ibadah adalah praktik yang nyata bukan bagian dari ajaran agama serta pelanggaran terhadap hukum internasional.

Ketujuh, terorisme yang mengusik ketenteraman manusia baik di seluruh dunia beserta ketakutan dan teror yang menyertainya sama sekali bukan bagian dari ajaran agama – meski para terorisme menggunakan simbol-simbol agama dalam aksinya.

Kedelapan, gagasan kebangsaan berdiri di atas prinsip kesamaaan hak dan kewajiban yang dinikmati oleh semua orang secara adil. Karena itu, menjadi kewajiban untuk menguatkan pemahaman kebangsaan secara tuntas bagi setiap bangsa dan menghilangkan penggunaan semena-mena atas istilah “minoritas” yang mengandung citra dipojokkan bahkan tidak dianggap eksistensinya. Istilah “minoritas” itu kelak akan menjadi dasar timbulnya benih-benih fitnah dan perpecahan.

Baca Juga :  PBNU dan PP Muhammadiyah Sepakat Tolak Paham Khilafah

Kesembilan, hubungan  baik barat dan timur adalah hubungan yang sangat dibutuhkan. Maka kedua belah pihak tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Barat punya kemungkinan untuk menimba dari peradaban timur untuk menyelesaikan krisis ruhani dan keagamaan yang menjangkiti masyarakatnya akibat pola pikir materialisme. Sementara Timur punya kemungkinan untuk menimba dari barat untuk menyelesaikan persoalan kelemahan masyarakat, perpecahan, serta kemandegan pengetahuan, teknologi, dan budaya. Namun penting untuk tetap menyadari adanya perbedaan keagamaan, budaya, latar belakang sejarah antara barat dan timur yang mempengaruhi kepribadian masing-masing masyarakatnya.

Kesepuluh, keharusan mengakui bahwa perempuan punya hak untuk belajar, bekerja, dan menunaikan hak-hak politiknya. Begitu juga, kewajiban untuk membebaskan kaum perempuan dari latar-latar sosial historis yang menyandera mereka serta bertentangan dengan keimanan dan martabat.

Kesebelas, hak-hak dasar tumbuh kembang anak dalam keluarga, gizi, pendidikan, dan pengasuhan, adalah kewajiban seluruh keluarga dan masyarakat yang harus dipenuhi dan dibela.

Keduabelas, memproteksi hak-hak orang tua, kaum lemah, serta berkebutuhan khusus dan orang-orang miskin adalah kewajiban agama dan masyarakat. Hal itu perlu dilakukan dengan aturan-aturan yang tegas serta pengeterapan perjanjian-perjanjian internasional khusus terkait mereka.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here