KOMUJI: Nasehat TGB, Al-Qur’an Bisa Menjadi Pedoman Hidup Jika..

0
1224

BincangSyariah.Com – Ketua Komunitas Musisi Mengaji (KOMUJI) Chapter Jakarta, Kikan Namara, kembali mengadakan picnikustik bertemakan; The Miracle of The Holy Qur’an dengan mendatangkan TGB Zainul Majdi dan Ngatawi al-Zastrouw.

Bagi umat Islam, al-Qur’an merupakan kitab pedoman hidup. Tapi permasalahannya bagaimana cara menjadikan al-Qur’an itu sebagai kitab petunjuk, mengingat al-Qur’an  berbahasa Arab dan tidak semua orang bisa memahami kandungannya dengan baik dan tepat.

“Al-Qur’an memang hadir untuk manusia. Jelas sekali, tertera dalam firman-Nya,” kata TGB. lalu ia menyitir sebuah firman Allah Swt dalam al-Qur’an yang berbunyi

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah; 2)

“Al-Qur’an adalah Hudan yang artinya petunjuk, tapi bisa ga kita mengamalkan petunjuk al-Qur’an tersebut?” katanya lagi.

Agar Al-Quran bisa menjadi petunjuk dan mukjizat dalam kehidupan umat muslim, jelas TGB, maka terdapat tiga pedoman yang harus diperhatikan, di antaranya;

Pertama, harus memiliki keyakinan bahwa Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi umat manusia. Dalam kelanjutan ayat surat al-Baqarah tadi, yaitu hudan lil muttaqin, petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Siapa orang yang bertakwa? yaitu orang yang mengimani Allah Swt.

“Yaitu petunjuk bagi orang-orang yang mempercayainya. Sekalipun dia pintar tapi tidak meyakininya maka tidak akan bisa menjadi petunjuk,”

TGB kemudian mengilustrasikan seperti orang-orang yang pertama kali berjumpa dengan Islam setelah orang Arab adalah orang Persia dan orang Romawi, mereka adalah dua bangsa yang cerdas dan berperadaban tinggi. Tapi mereka meyakini dan mau mempelajari Islam.

“ketika islam datang dan menyampaikan risalahnya bangsa-bangsa itu juga belajar. Mereka meskipun sudah pintar tapi dengan segala kerendahan hatinya mau belajar.” tegasnya,

Baca Juga :  Apakah Bunga Bank Sama dengan Riba? Yuk Bicarakan di Kajian KOMUJI Bulan Ini!

kedua, memiliki kemauan untuk belajar dan kata kunci belajar adalah membaca. Sebagaimana wahyu pertama yang turun kepada Nabi; iqra bismirabbika lladzi khalaq.

“Jadi Hidayah itu tidak hanya untuk orang yang pintar tapi siapa saja yang ada keyakinan. Dan kemudian yang kedua ada kemauan untuk belajar,”

Ketiga, mencari guru yang kompeten dan baik. Sebab beragama itu adalah sesederhana siapa yang menyampaikan islam kepada kita. “Maka dalam memahami alquran agar bisa menjadi hidayah/mukjizat dalam kehidupan, pastikan belajar islam dari guru yang mampu menghadirkan keindahan islam,” lanjut TGB.

Hal ini senada dengan nasehat Umar bin Khathtab, khalifah kedua Islam. Umar berkata; laa tubaaghidhullaha ila ‘ibaadihi, jangan membuat Allah dijauhi hamba-hambanya,”

Sahabat lain bertanya, “Maksudmu apa umar?

Umar lalu berkata “Jika salah seorang dari kalian menjadi imam, maka ia memanjangkan shalatnya, sehingga mereka jadi tidak suka shalat jamaah lagi, atau di antara kalian ada yang berceramah lalu dibuat lama ceramah itu sehingga mereka jadi tidak suka dengar ceramah lagi.”

Nasehat Umar ini sejalan dengan dengan pesan nabi agar saat jadi Imam membaca ayat al-Qur’an yang sedang saja jangan terlalu panjang karena di antara makmum itu ada anak kecil, perempuan, orang tua dan orang yang punya keperluan.

“Memperpanjang shalat di masjid yang umum, itu tidak hanya membuat orang-orang menjauhi dia tapi ujung-ujungnya orang bisa kapok datang ke masjid,” kata TGB.

Jadi demikianlah pentingnya mencari guru yang mampu menghadirkan sisi keindahan Islam, dan pastikan kita berguru kepada guru tersebut. Sebab beragama itu sesederhana kita berguru pada siapa dan bagaimana guru itu menjelaskan Islam kepada kita. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here