Kenapa NU Usulkan Sebutan Kafir kepada Non-Muslim Dihapus?

0
2257

BincangSyariah.Com – NU mengusulkan agar sebutan kafir untuk Non-Muslim dihapuskan. Usulan itu dibahas dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, pada acara Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU), yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/02).

Pimpinan sidang, Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan para kiai yang hadir dalam Munas berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para Non-Muslim di Indonesia. Karenanya mereka mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam.

Menurut hasil sidang yang dikeluarkan Munas NU, bahwa penyematan kata kafir pada seseorang yang tidak memeluk Islam mengandung unsur kekerasan teologis. Akan lebih bijaksana jika menyebut mereka dengan Muwathinun atau warga negara. Dengan demikian status mereka sama dengan warga negara lain baik Muslim atau Non-Muslim.

“Memberikan label kafir kepada WNI yang ikut merancang desain negara Indonesia rasanya tidak cukup bijaksana,” jelas Moqshit.

Setidaknya keputusan Munas NU, menurut penulis tidak jauh dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam Perjanjian Piagam Madinah. Kala itu, Rasulullah menyatakan bahwa mereka sama dalam hal warga negara Madinah dan dapat hidup berdampingan, serta tidak ada penyebutan kafir di dalam piagam tersebut.

Terlebih lagi yang perlu digaris bawahi dalam keterangan yang disampaikan Moqshit sebagaimana dilansir Tempo.co, ia menekankan penghapusan tersebut hanya berlaku pada penyebutan terhadap Non-Muslim di Indonesia, bukan berarti menghapus seluruh kata kafir yang disebutkan dalam Alquran dan Hadis.

Hal ini penting untuk diperhatikan karena kata kafir dalam Alquran tidak hanya ditujukan kepada kelompok yang tidak memeluk Islam, lebih jauh kata tersebut juga disematkan kepada siapa pun yang melanggar perintah Allah dan melakukan kefasikan. Tidak peduli ia Muslim atau Non-Muslim.

Baca Juga :  Apakah Onani Dapat Membatalkan Puasa?

Adapun keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang Non-Muslim. Sementara ini rekomendasi tersebut hanya sebatas narasi akademis bukan rekomendasi yang terkait dengan kebijakan yang dikeluarkan negara. Menurut Moqshit, NU kembali membahas hal itu lantaran ada sekelompok masyarakat yang mulai memberikan atribusi diskriminatif.

“Biasanya rekomendasi itu terkait dengan kebijakan yang dikeluarkan negara. Sementara ini hanya narasi akademis,” ujarnya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here