Innalillah, Ibunda Gus Baha Wafat Hari Ini

1
1818

BincangSyariah.Com – Kabar duka kembali datang dari salah satu ulama besar di Indonesia. K.H. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau biasa akrab disapa dengan Gus Baha’. Nyai Hj. Yuhanidz Noersalim, Ibunda Gus Baha’ wafat pada hari ini (15/4) di RSUD Dr. Soetrasno, Rembang, Jawa Tengah setelah sebelumnya dirawat beberapa hari. Mengutip situs NU Online, Almarhumah dikabarkan wafat karena penyakit lambung yang dideritanya.

Abdul Chakim Noersalim, salah satu saudara Gus Baha’ menyampaikan pesan singkat kepada NU Online, “Telah dipanggil kehadirat Allah SWT, ibunda tercinta Nyai Hajjah Yuchanidz Noersalim di RSUD DR Soetrasno Rembang. Semoga Allah memberikan anugerah ampunan-Nya dan husnul khatimah. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.”

Almarhumah disemayamkan di rumah duka, di Pesantren Al-Qur’an Desa Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah.

Gus Baha’ begitu mengistimewakan sosok ibunya. Dalam berbagai kesempatan, Gus Baha’ menjelaskan bahwa salah satu alasannya tidak menerima undangan ke berbagai pengajian karena menjaga ibunya yang sudah sepuh, demikian seperti dikutip dari bangkitmedia.com.

Dalam kesempatan lain, bagi Gus Baha’ berbakti kepada orangtua tidak bisa digantikan dengan alasan apapun. Seperti dikutip dari NU Online yang menarasikan salah satu pengajiannya, “saya pernah ketika Ibu sering sakit karena ditinggal Bapak. Uang saya hanya 5 juta. Bayar rumah sakit pas 5 juta, sisa hanya 100 ribu. Saya bilang kepada santri yang membayarkan ke rumah sakit: “Uang ini habiskan!, untuk membayar merawat ibu di rumah sakit”. Saya senang sekali uang saya habis digunakan untuk berbakti kepada orang tua. Seperti apa hinanya saya jika uangnya habis digunakan untuk ke bar dan hal yang tidak jelas.

 

Jangan mengeluh harta benda habis untuk merawat ibu. Kamu harus bangga karena harta benda habis untuk merawat ibu. Dan itu berarti habis karena untuk ibadah.

Seperti apa kalau habis karena ikut dengan orang nakal, ikut judi. Jadi kita ini karena sering salah istilah, malah kadang santri saja seperti itu. “Orang tuaku sakit menghabiskan harta benda”, mestinya jangan seperti itu, seharusnya “Harta benda saya tasharufkan (dialokasikan) ke hal yang benar, Alhamdulillah.”

Semoga Allah senantiasa mencurahkan ganjarannya dan keberkahan kepada keluarga besar Pesantren Al-Qur’an Narukan, Rembang, Jawa Tengah. Kemudian kita bisa dianugerahi taufik-Nya untuk meneladani dan meniru perilaku beliau. Amiin.

Baca Juga :  Fragmen Gus Baha: Kenapa Kiai Cenderung ‘Menghindari’ Bab Jihad?

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here