Dosen IAIN Surakarta: Indonesia Sangat Berpotensi Jadi Pusat Kajian Tafsir Asia Tenggara

0
321

BincangSyariah.Com – “Indonesia sangat berpotensi jadi pusat kajian tafsir Asia Tenggara”, demikian dinyatakan oleh Dr. Islah Gusmian, dalam diskusi “DIalektika Alquran dan Budaya Lokal: Menyingkap Nalar Tafsir Nusantara” yang dilaksanakan oleh Pusat Studi Alquran, Ciputat, Tangerang Selatan, pada 28 Februari 2019 lalu.

Gagasan ini adalah bagian dari pandangannya bahwa literatur penafsiran Alquran di Nusantara ini sangat kaya. Memang, selama ini kajian sejarah tentang kajian tafsir di Nusantara masih terfokus pada kitab Turjuman al-Mustafid karya Syaikh Abdur Rauf As-Sinkili pada abad ke-17 M.

Namun, Islah Gusmian, dalam penelitiannya berjudul “Bahasa dan Aksara Tafsir Alquran di Indonesia: Dari Tradisi, Hierarki, hingga Kepentingan Pembaca” menegaskan kalau masih ada bukti yang lebih tua lagi, sebelum abad ke-17 M. Mengutip temuan Anthony H. Johns, pada abad ke-16 di berbagai wilayah Nusantara telah terjadi apa yang disebut pembahasalokalan (vernakularisasi) keilmuan Islam. Ini didukung dengan temuan naskah Tafsir Surah al-Kahfi (QS Al-Kahfi/18 : 9) yang muncul pada awal abad ke-17. Naskah ini kemudian dibawa dari Aceh ke Belanda dan saat ini menjadi koleksi Perpustakaan Universitas Cambridge.

Meskipun terjadi pembahasalokalan, lanjut dosen IAIN Surakarta yang terkenal dengan kajiannya atas Khazanah Tafsir Indonesia, para ulama di Indonesia juga terus mengembangkan relasi karyanya dengan karya-karya tafsir besar dari Timur Tengah. Misalnya, Abu al-Fadhl Senori, Kyai besar dari Tuban di abad ke-19, menulis banyak kitab dalam bahasa Arab. Salah satunya di bidang tafsir Alquran dengan corak fikih. Di sana, beliau seringkali membahas pengaruh qira’at (ragam riwayat cara membaca ayat Alquran) terhadap perbedaan hukum fikih. “Ini luar biasa, menurut saya”, tegas beliau.

Baca Juga :  Akibat Mengatakan Maulid Nabi Bidah Dhalalah, Pria Ini Sakit Selama Setahun

Ini kalau kita hanya memasukkan yang karya tafsir saja. Tapi di luar itu, sebenarnya masih banyak model-model interaksi budaya Nusantara terhadap Alquran dalam bentuk tulisan. Tapi karena tema kita bukan itu, saya tidak membahasnya.

Indonesia Berpotensi jadi Pusat Kajian Tafsir Asia Tenggara

“Saya kira Indonesia sangat berpotensi jadi pusat kajian tafsir Asia Tenggara/ASEAN”. “Saya beberapa kali ke Singapura, dan Malaysia, masih kalah dengan Indonesia”, terang Dr. Islah. Di Singapura, ia menemukan karya tafsir yang terkenal justru ditulis oleh orang Solo, yang kemudian pindah dan jadi warga negara Singapura. Di Malaysia, justru tafsir-tafsir orang Indonesia yang terkenal. “Yang laris manis di Malaysia itu, Tafsir Buya Hamka (al-Azhar), Tafsir Hasbi As-Shiddieqy, dan Tafsir A. Hassan (Al-Furqan)”, imbuhnya. Sementara, di Indonesia lebih beraneka ragam. “Ini masih bisa diperkaya lagi, dengan khazanah tafsir kelisanan kita, yaitu lewat pengajian-pengajian tafsir atau bertema Alquran. Misalnya pengajian Mbah Sya’roni (Kudus) sampai pengajian tafsir al-Ibriz oleh Gus Mus (Rembang)”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here