Budayawan Ngatawi Al-Zastrouw di KOMUJI; Jangan Sampai Jadi Korban Malpraktek Agama

0
187

BincangSyariah.Com – Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) Chapter Jakarta yang diketuai oleh eks vokalis Cokelat, Kikan Namara kembali menggelar acara Picnikustik. Picnikustik kali ini bertemakan, The Miracle of The Holy Qur’an, dengan mengundang dua pembicara;  TGB Zainul Majdi dan Budayawan Ngatawi al-Zastrouw.

Sebagai mukjizat, al-Qur’an merupakan petunjuk bagi umat Islam. Permasalahannya, bagaimana cara menjadikan al-Qur’an itu sebagai kitab petunjuk, mengingat al-Qur’an itu berbahasa Arab dan tidak semua orang bisa memahami kandungannya dengan baik dan tepat.

Menurut Budayawan Ngatawi al-Zastrouw, agar Al-Qur’an bisa menjadi petunjuk yang betul maka perlu memakai  ilmu. “Perlu dielmuni, harus pakai ilmu. Kalau tidak pakai ilmu hanya ngutip dalil lalu diterapkan bisa gubrak,”

Adapun jika tidak punya ilmu-ilmu tersebut, jelas Ngatawi, maka harus ada guru yang mempunyai keilmuan yang dimaksud. Seperti ilmu mantiq, ilmu asbabul wurud, ilmu balaghah. Sehingga bisa memaknai, mentakwil dan menafsirkan al-Qur’an secara tepat.

Ngatawi mengingatkan, jika ada seseorang yang bilang mengajak kembali ke al-Qur’an dan Hadis tanpa memakai ilmu dikhawatirkan akan tersesat. Sebab kata-kata dalam al-Qur’an itu nilai sastranya tinggi sehingga diperlukan ilmu yang membantunya untuk memahami dan mengerti makna yang tepat.

“Bisa sembrono kalau bilang kembali ke al-Qur’an dan Hadis tapi tidak dikasih ilmunya,”

Menurut Ngatawi, memahami al-Qur’an dan Hadis tanpa memakai ilmu bisa menjurus pada malapraktik. Seperti halnya seorang yang tidak sekolah kedokteran dan hanya bermodal membaca buku panduan. Hal ini sama saja dengan mengajak kembali al-Qur’an dan Hadis tapi tidak punya kapasitas ilmu dan langsung merujuk ke kitabnya.

“Bayangkan orang tidak sekolah kedokteran, udah gak usah sekolah kedokteran baca saja buku kedokteran habis itu bikin obat sendiri, nyuntik sendiri. Kan, jadi malapraktik. Kalau malapraktik dokter yang mati satu orang, kalau malapraktik agama yang mati jadi banyak.”

Baca Juga :  Ketua Dewan Pertimbangan MUI Tolak NKRI Bersyariah, Ini Alasannya

Ngatawi menggaris-bawahi, disinilah pentingnya harus mencari guru yang benar tidak hanya asal ngomong yang akhirnya jadi malapraktik. Bukan hanya orang Indonesia, bahkan orang Arab yang notabene bahasa Arab adalah bahasanya juga tidak mengerti kandungan makna al-Qur’an jika tidak membacanya dengan ilmu.

Ngatawi lalu menyitir tentang kisah Imam Syafi’i dan Gubernur Bashrah Abdurrahman bin Mahdi.

Suatu waktu, Abdurrahman bin Mahdi membaca al-Qur’an. Ia berusaha memahaminya tapi merasa bingung. Lalu ia mengirim surat ke Imam Syafi’i, “Wahai Imam Syafi’i, ini bagaimana saya memahami al-Qur’an, kok ini ada ayat bertabrakan dengan ayat yang lain dan macam-macam lainnya,”

Akhirnya Imam Syafi’i membalas mengirim surat ke Abdurrahman tentang bagaimana cara memahami al-Qur’an. Imam Syafi’i menerangkan, di antaranya harus mengerti munasahab bil ayat, tafsir ayat bil ayat, ayat bil hadis, dan macam-macam prosedur lainnya.

Akhirnya dari surat-surat balasan Imam Syafi’i itu diterbitkan menjadi kitab yang namanya al-Risalah, yaitu kitab metodologi memahami al-Qur’an. Yang sampai saat ini bisa dinikmati oleh umat muslim sedunia.

“Jadi bagi yang tidak memiliki kapasitas keilmuan hendaknya ia memiliki wisdom atau kebijaksanaan untuk belajar dan mengikuti guru yang mempunyai ilmu. Sebab kehebatan al-Qur’an itu harus ditunjang dengan keilmuan atau kecerdasan akal agar bisa menuntun kita menuju The Miracle of The Holy al-Qur’an,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here