Brunei Darussalam: Kesultanan Islam yang Bertahan Menjadi Negara di Asia Tenggara

0
739

BincangSyariah.Com – Kesultanan yang masih bertahan hingga kini dan menjadi negara kaya adalah Kesultanan Brunei Darussalam. Ia merupakan kerajaan yang pernah berada di bawah kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit. Pada tahun 1368 raja Alang Awak masuk Islam dan mengubah kerajaan tersebut menjadi kesultanan dan berasaskan Islam untuk sistem bertata negara. Pemerintahannya bersifat monarki. Sejak berubah menjadi kesultanan, terdapat penyematan kata “Darussalam” di depan kata “Brunei” pada adab ke-15 untuk menekankan bahwa ia merupakan negara Islam.

Sumber daya alam yang melimpah berupa minyak dan gas alam cair besar menjadikan Brunei sebagai negara yang kaya dan maju, meskipun wilayahnya kecil. Dari kekayaannya itulah penduduk Brunei mendapatkan jaminan berupa kesehatan, pendidikan, dan hari tua. Kesultanan Brunei pernah mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16. Hal tersebut ditunjukkan salah satunya adalah dengan meluasnya wilayah kekuasaannya berupa Serawak, Sabah, Mindanao, dan Kepulauan Sulu.

Menurut sejarah, Islam masuk ke Brunei Darussalaam pada tahun 977 melalui jalur timur Asia Tenggara oleh pedagang-pedagang dari negeri Cina. Semenjak Raja Awang Alang Betatar memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Shah. Setelah itulah Islam menjadi agama resmi sekaligus sistem bernegara. Islam berkembang pesat di Brunei setelah Kesultanan Malaka yang pernah menjadi pusat ajaran Islam jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Setelah keruntuhan Malaka, banyak tokoh agama Islam yang akhirnya pindah ke Brunei. Pasca jatuhnya Malaka, Brunei akhirnya mengambil alih kekuasaan di Malaka.

Kemajuan Kesultanan Brunei Darussalam berawal sejak pemerintahan raja ke-tiga, Sultan Syarif Ali pada tahun 1425. Hal tersebut dikarenakan sultan sebelumnya mengawinkan Sultan Syarif Ali dengan salah satu keturunan Rasulullaah SAW. Perkawinan tersebut yang akhirnya melahirkan keturunan-keturunan berupa Sultan-sultan Sambas dan Sultan-sultan Sulu. Kini, wilayah Brunei tidak seluas dahulu. Semua bermula dari perebutan kekuasaan di antara keturunan dan upaya penjajah dari Eropa untuk mengambil wilayah dan menguasai perekonomian Brunei.

Baca Juga :  Hari Ini Wafat, K.H. Maimun Zubair: Mengabdi Untuk Pesantren dan Negeri

James Broke, penjajah dari Inggris mendatangi Serawak untuk merebut wilayah tersebut pada tahun 1839. Penyerangan tersebut membuat Brunei kehilangan wilayah kekuasaannya. Kemudian pada tahun 1846 wilayah Labuan dan sekitarnya diserahkan kepada James Broke. Perlahan-lahan wilayah Brunei pun berkurang karena penyerangan dari negara jajahan. Awal abad ke-19 wilayah kekuasaan Brunei mulai mengecil, disusul oleh perang saudara dan gangguan kekuatan kolonial Barat. Brunei baru merdeka dari Inggris pada 1 Januari 1984.

Ibu kota Brunei Darussalam adalah Bandar Seri Begawan dan menjadi tempat yang paling banyak dihuni oleh penduduk negara Brunei. Kota tersebur tersebut memiliki bangunan yang berarstitektur modern. Seperti Istana Nurul Iman, tempat kediaman resmi sultan dan kedudukan pemerintahan serta Masjid Omar Ali Syaefuddin, dan Gedung Royal Belgia, tempat menyimpan berbagai tanda kebesaran Kesultanan Brunei. Selain gedung-gedung berciri khaskan modern, terdapat juga bangunan-bangunan lama yang khas, seperti Kampong Ayer. Bangunannya masih berbentuk rumah kayu lama di atas air dan kegiatan di atas sampan.

Saat ini Brunei dipimpin oleh sultan ke-29, Sultan Hassanal Bolkiah. Brunei benar-benar menggunakan Islam sebagai ideologi bernegara dan pandangan hidup rakyatnya. Dalam mewujudkannya, sultan membentuk jabatan Hal Ehwal Agama yang bertugas menyebarluaskan paham Islam, baik kepada pemerintah beserta aparatnya juga kepada rakyat. Selain itu, pemerintah juga mendirikan Pusat Dakwah demi kepentingan penelitian agama Islam dan program dakwah serta pendidikan Islam kepada masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here