Bicara Riba di KOMUJI; Menyikapi Perbedaan Ulama dalam Masalah Riba

0
254

BincangSyariah.Com – Semua ulama sepakat bahwa riba haram sebab hal tersebut dinyatakan dalam Al-Quran, bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Akan tetapi para ulama tidak satu suara mengenai hukum bunga bank apakah juga termasuk riba ataukah bukan.

Praktisi ekonomi syari’ah, Mirza A. Karim menjelaskan riba adalah suatu tambahan terhadap pertukaran barang sejenis yang tidak ada alas haknya, atau tambahan terhadap suatu pembayaran Tangguh yang tidak ada alas haknya atau dasarnya.

“Kita menukar 10 ribu dengan 15 ribu yang tidak ada alas haknya, tapi kalau ada alas haknya bukan riba,” jelas Mirza dalam Piknikustik Komunitas Musisi Mengaji (KOMUJI) yang bertemakan BICARA RIBA, di Gedung Medco, Ampera, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/9/19).

Namun, jelas Mirza, pendapat yang mengatakan riba sama dengan bunga bank merupakan persoalan yang diperdebatkan. Para pertemuan alim ulama NU di Lampung, jelas Mirza, muncul tiga pendapat tentang bunga bank. Pertama,  haram karena sama dengan rjba , boleh seban bukan termasuk riba, dan syubhat. Demikian juga Majelis Tarjih Muhamadiyah berbeda ada yang bilang haram dan boleh.

“Bunga bank belum tentu atau tidak otomatis riba, karena dia tidak otomatis riba maka dia tidak otomatis haram,” ujar Mirza.

Ulama internasional yang menghalalkan bunga bank di antaranga Syaikh al-Azhar Mahmud Syaltut, Syaikj at-Tanthawi, Syaikh Ali Jum’ah, menyatakan bahwa bunga bank boleh. Dengan alasan karena bunga bank adalah suatu keniscayaan yang akan digunakan untuk pembangunaan umat dan kemaslahatanya terlihat.

Menurut Ketua Jurusan Ilmu Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rifqi Muhammad menuturkan dalam hadis Rasulullah sendiri memperjelas lagi tentang riba yang seperti apa, sih, yang diharamkan itu? Terdapat sebuah hadis Imam Bukhari yang menyatakan bahwa tidak ada riba kecuali yang nasiah atau yang berlipat ganda.

Maka dari dalil tersebut, ada dua pendapat ulama terkait definisi riba. Pertama riba itu haram karena ada kelebihannya, sehingga semua yang lebih adalah riba dan haram. Kedua pendapat yang mengatakan riba diharamkan bukan karena lebihnya tapi karena unsur berlipat ganda, dzalim dan eksploitatif.

Baca Juga :  KOMUJI Hadirkan Remaja yang Pernah Terpesona Propaganda ISIS, Ini Kata Tokoh Muda NU

“Eksploitatif yang di zaman Nabi itu yang seperti rentenir kalau zaman sekarang. Ada unsur eksploitatif dan tipu-tipu yang licik. Maka sebagaian ulama mengatakan bahwa yang haram adalah yang nasiah/ yang berlipat ganda,” ujar Rifki.

Sehingga dalam menghukumi bunga bank, para ulama pun memiliki pendapat yang berbeda pula. Ada yang mengatakan mutlak haram sebab ada penambahan, tapi ada pula yang tidak mengharamkannya sebab tidak ada unsur berlipat ganda dan eksploitatif.

“Saya ingin menggaris bawahinya bahwa beragama itu bukan harga mati harus satu pendapat. Riba haram, okeh. Tapi sebentar riba seperti apa? Bunga haram, sebentar, yang mana dulu?,” ujar Rifki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here