Bernalar Ketika Mencintai dan Membenci

0
381

BincangSyariah.Com – Mendekati pilpres 2019, atmosfer media sosial semakin memanas, menggaduh. Tak hanya elit politik yang saling sikut membela jagoannya, para partisipan kedua kubu pun ikut masuk ke dalam arus deras politik ini. Kedua kubu cenderung mengagung-agungkan jagoannya dan cenderung membenci lawannya. Alih-alih bernalar ketika mencintai dan membenci, wacana substansial dari politik itu sendiri meredup, tenggelam dimakan derasnya kegaduhan.

Nalar menjadi penting bagi umat muslim, mengapa? Karena dalam redaksinya, Alquran kerap kali menyinggung tentang pentingnya berpikir kritis. Lalu jika nalar ditinggalkan baik dalam hal mencintai apalagi membenci, sungguh kita telah lupa dengan apa-apa yang diperintahkan agama.

Mari kita kembalikan nalar kita dalam momentum pilpres ini dengan cara mengingat kembali bahwa kedua pasangan capres-cawapres adalah manusia biasa. Mereka adalah makhluk Allah yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang perlu kita amati adalah rekam jejak mereka, apa visi misinya untuk Indonesia, dan bagaimana perangainya dalam kontestasi ini. Bukan justru kita terjebak dalam lumpur kefanatikan satu kubu, lalu cenderung membenci kubu yang lain.

Tentu dalam hal ini, kita bisa menentukan pilihan, bukan golput sama sekali. Hanya saja, perihal dukung-mendukung menjadi hal yang patut kita kritisi agar jangan sampai kita terjebak dalam wacana yang justru menghilangkan substansi penting dari politik: rakyat. Patut diingat, tentu kita segera ingin pindah status dari negara berkembang ke negara maju bukan? Oleh karena itu, mari kita awali dari diri kita terlebih dahulu untuk berpikir kritis terhadap dua kubu.

Mencintai dan membenci berlebihan adalah larangan dalam agama. Segala bentuk kefanatikan dalam hal apapun, tidak baik untuk kelangsungan hidup umat manusia. Rasulullah menganjurkan kita untuk berlaku biasa-biasa saja terhadap apa yang kita cintai ataupun yang kita benci. Rasul bersabda:

Baca Juga :  Muawiyah dan Soal Kelihaian Berpolitik

احبب حبيبك هوناما عسي ان يكون بغيضك يوماما وابغض بغيضك هوناما عسي ان يكون حبيبك يوماما

Artinya: “Cintailah kekasihmu secara sedang-sedang saja, siapa tahu kelak ia akan menjadi musuhmu. Dan bencilah orang yang kau benci dengan sedang-sedang saja, siapa tahu kelak ia akan menjadi kecintaanmu.”

Mengembalikan nalar mencintai hari ini menjadi penting agar kita selalu ingat bahwa di atas langit masih ada langit. Segala bentuk kesempurnaan ataupun keburukan dalam pandangan kita tentang manusia, adalah sebuah fatamorgana. Dan setiap fatamorgana adalah kepalsuan dalam dahaga. Di tengah dahaga, patutlah kita merujuk kembali dua pusaka Islam yang agung: Alquran dan sunnah.

Perihal mencintai berlebihan, tokoh pewayangan Semar pernah mengatakan: “Tahukah kau hal sia-sia apa yang ada di dunia ini? Yakni, menasihati orang yang sedang jatuh cinta,”. Jatuh cinta yang disinggung Semar mungkin tidak hanya sebatas antara sejoli yang memadu kasih, tapi bisa dikaitan juga dengan konteks sosial politik hari ini. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang enggan mendengar, membaca, dan meresapi kembali segala petunjuk yang telah diberikan Allah Tuhan Semesta Alam untuk tetap berpikir kritis.
Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here