Anggapan Sial Pada Bulan Safar

0
711

BincangSyariah.Com – Bulan Safar merupakan bulan kedua tahun Hijriah. Sebagian orang beranggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial, sehingga banyak acara pernikahan dan acara bepergian serta aktivitas lainnya digagalkan. Rupanya tasa’un (anggapan sial) di bulan Safar masih ada hingga zaman sekarang, padahal itu adalah sisa-sisa keyakinan bangsa Arab zaman Jahiliah.

Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah:

لا عدوى ولا طيرة ةلا هامة ةلا صفر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد

“Tidak ada wabah (yang menyebar secara sendirinya), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga Safar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.”

Menurut Ibnu Utsaimin rahimahullah, kata Safar dalam hadis tersebut memiliki makna yang bervariasi. Namun yang paling kuat menurut umat Jahiliah adalah sebagai bulan kesialan, sehingga sebagian orang jika selesai melakukan pekerjaan tertentu pada hari kedua puluh lima dari bulan Safar merasa lega, dan berkata, “Selesai sudah hari kedua puluh lima dari bulan Safar dengan baik.”

Zaman (waktu) tidak ada sangkut pautnya dengan pengaruh dan takdir Allah. Ia sama seperti waktu- waktu yang lain, ada takdir buruk dan takdir baik. Bukankah semua yang terjadi adalah atas izin Allah dan kehendakNya? Sedikit kita berpijak ke Q.S. At-Thagabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Terkait terjadinya sesuatu tersebut melalui takdir dan kehendak Allah, Ibnu Katsir menjelaskan lebih detail bahwa barangsiapa yang tertimpa musibah dan dia mengetahui bahwa itu dengan takdir dan ketetapan Allah, lalu dia bersabar, berharap pahala dan berserah kepada ketetapan Allah, maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik dan memberikan petunjuk dalam hatinya.

Baca Juga :  Bulan Safar di Masa Bangsa Arab Jahiliyah

Jika kita beranggapan kalau bulan Safar adalah bulan sial, maka yang ada adalah pikiran kita disibukkan dengan perkara-perkara tersebut, sehinnga kita pun tidak akan terlepas dari dua keadaan.

Pertama: menuruti perasaan sialnya itu dengan mendahulukan atau meresponsnya, maka ketika itu dia telah menggantungkan perbuatannya dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya.

Kedua: tidak menuruti perasaan sial itu dengan melanjutkan aktivitasnya dan tidak memedulikan, tetapi dalam hatinya membayang perasaan gundah atau waswas. Meskipun ini lebih ringan dari yang pertama, tetapi seharusnya tidak menuruti perasaan itu sama sekali. Hendaknya bersandar hanya kepada Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here