Membincang Hadis tentang Lima Hal yang Membatalkan Puasa dan Wudu

0
590

BincangSyariah.Com – Puasa yang dalam bahasa Arab disebut al-shawm artinya adalah menahan. Maksudnya adalah, menurut para ahli fikih, menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar (thulu’ al-fajr) hingga terbenamnya matahari (ghurub al-syams). Para ahli fikih bersepakat yang membatalkan puasa adalah makan, minum, atau mengeluarkan mani baik akibat bersetubuh maupun mengeluarkannya sendiri.

Dalil umum yang digunakan tentang kewajiban puasa (untuk puasa Ramadan) adalah ayat 183 surah al-Baqarah yang terjemahannya adalah sebagai berikut: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kalian bertakwa”

Nah, dalil ini kemudian tidak dipahami bahwa jika orang yang berpuasa tidak bertakwa, katakanlah karena berbuat keburukan misalnya, itu tidak menyebabkan puasanya segera menjadi batal.

Kenapa saya mulai dengan ulasan dalil tersebut – meskipun sudah ada cara menjawabnya dalam ushul fikih karena ini tentang bagaimana cara memahami dalil – karena kita akan membahas sebuah riwayat hadis tentang lima hal yang membatalkan puasa.

Ulasan tersebut telah menjadi sebuah buku yang ditulis Rizqa Fathurrahmah (selanjutnya disingkat RF), yang pada awalnya adalah risalah takhrij hadis di Pesantren Darus-Sunnah, dengan judul “Five Matters Invalidate Fast and Ablution” (Lima Hal Yang Membatalkan Puasa dan Wudu).

Risalah takhrij ini adalah di antara risalah takhrij sebagai syarat kelulusan dari Pesantren Darus-Sunnah yang ditulis dalam bahasa Inggris. Karya-karya seperti ini sangat baik jika bisa tersebar dengan luas bahkan diluar Indonesia untuk menunjukkan bahwa literasi keagamaan masyarakat Indonesia – khususnya di Indonesia – terus berkembang.

Penggunaan bahasa asing tidak melulu hanya identik untuk kajian bernafaskan sains ataupun ilmu sosial murni, tapi juga kajian keagamaan. Dan seperti harapan penulisnya,

the writer hopes this book can give some benefits. She has avoided some unnecessary details, and techinal language as far as possible

“Penulis berharap buku ini dapat memberikan aneka manfaat. Dia menghindari beberapa detail yang masih diperdebatkan dan istilah teknis sebisa mungkin.”

Baca Juga :  Agar Kembali ke Quran Hadis Kalian Tidak Sesat, Baca Buku Ini

Kualitas Hadis = Palsu

Konten hadis yang diteliti adalah tentang lima hal yang membatalkan puasa:

خمس خصال يفطرن الصائم وينقضن الوضوء: الكذب والغيبة والنميمة والنظر بشهوة واليمين الكاذبة

“Lima hal yang membatalkan puasa dan wudu: berbohong, membicarakan (aib) orang lain, mengadu domba, melihat dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”

Dari segi kualitas hadis, RF sepakat dengan ulama-ulama sebelumnya dan tidak menemukan temuan baru, bahwa hadisnya memang palsu. Tanpa melakukan pengecekan terhadap sanadnya, indikasinya begitu kuat karena RF menemukan hadis tersebut dengan mencantumkan buku-buku yang memang mengkompilasikan hadis-hadis palsu, seperti al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadith al-Mawdhu’ah karya al-Suyuthi, al-Mawdhu’at karya Ibn al-Jawzi, atau ‘Ilal al-Hadith karya Abu Hatim al-Razi.

Meski nanti ada perdebatan bahwa hadis-hadis di dalam al-Mawdhu’at Ibn al-Jawzi tidak semuanya palsu (hanya lemah saja), namun ini sudah menjadi indikasi kalau hadisnya memang palsu.

Meskipun begitu, penulisnya masih mencoba mencari kemungkinan positif. Ia mendapatkan hadis ini terdapat dalam kitab al-Gharaib al-Multaqatah min Musnad al-Firdaus karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, penulis Fath al-Bari SYarh Shahih al-Bukhari yang masyhur itu.

Perlu diketahui, Musnad al-Firdaus adalah kumpulan hadis-hadis yang tidak bersanad karya al-Dailami. Kemudian, Ibn Hajar mencoba menemukan sanad di setiap hadis tersebut.

Dalam konteks hadis ini, hasilnya rupanya juga tidak menunjukkan tanda lebih baik. Penulisnya melakukan uji kualitas sanad yang disajikan Ibn Hajar dan Ibn al-Jawzi dalam al-Mawdhu’at (kitab ini mencantumkan sanad hadis secara lengkapnya). Hasilnya, kedua jalur tersebut fix bermasalah, di mana satu rawi dengan rawi lain acapkali tidak bertemu (diistilahkan dengan inqitha’/hadisnya disebut munqathi’). Baik sanad yang ditemukan Ibn Hajar (sanadnya al-Dailami) dan sanad Ibn al-Jawzi, sebenarnya muaranya sama, Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad al-Bina’, guru dan guru al-Bina’ yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Ja’far, diidentifikasi sebagai pendusta. Di atasnya beliau, ada lagi rawi pendusta dan rawi yang tidak teridentifikasi (majhul).
Akhiran, hadis ini memang palsu dari segi sanad. Dan tentu saja, seperti maklum dipahami dalam kajian hukum Islam, tidak bisa dijadikan dalil untuk berfikih.

Baca Juga :  Apakah Berbohong Membatalkan Puasa?

Palsu, Tapi Dari Segi Konten Bagus

Tapi yang perlu diapresiasi juga adalah, di setiap bab (misalnya tentang kualitas hadis di Bab Pertama), penulisnya menyajikan pengantar keilmuan bagaimana mengetahui kualitas hadis. Artinya, RF, dalam hal ini mencoba ‘menepati janjinya’ dengan tidak membiarkan pembacanya terbingungkan oleh istilah-istilah teknis.

Dan, di bab kedua, RF mengulas bagaimana memahami hadis yang secara sanad palsu ini. Dari segi konten, ia memulai dengan menjelaskan bahwa hadis ada yang bisa dipahami secara tekstual ada juga yang harus dipahami secara kontekstual (h. 71).

Hal lain yang ia ulas adalah perdebatan soal bolehkah menggunakan hadis lemah (daif). Ada yang menolak sama sekali seperti Ibn Sayyid, al-Bukhari, dan Muslim. Menerima karena lebih baik menggunakan hadis daif daripada logika belaka, demikian menurut Abu Dawud dan Ahmad.

Dan terakhir menerima selama konten hadis tidak berkaitan dengan persoalan hukum, tapi hanya keutamaan beramal (fadhail al-a’mal) dan kelemahan hadisnya tidak parah. Pendapat terakhir tidak menyebut siapa tokohnya namun penulisnya mengutip Imam al-Suyuthi dalam kitab Tadrib al-Rawi (h. 72-73).

Hemat kami, itu merupakan cara pandang ulama belakangan (muta’aakhirin) yang mencoba tetap mengelaborasi hadis lemah karena sebenarnya dari segi kontennya baik dan dapat dicarikan “pembenarnya” dari hadis lain yang sahih.

Nah, RF, menggunakan sudut pandang terakhir nampaknya untuk menjelaskan bahwa meskipun dari segi jalur sanad banyak problemnya, namun kontennya ada pembenarannya dalam dalil lain yang sahih. Padahal, sudut pandang terakhir mengatakan bahwa hadis bisa digunakan sebagai fadhail a’mal jika hadis tersebut kelemahannya tidak parah. Bukankah palsunya hadis ini menunjukkan parahnya kelemahan hadis tersebut.

RF kemudian mengulas bahwa kajian fikih menunjukkan bahwa lima hal dalam hadis palsu ini memang tidak ada yang mengatakan sebagai pembatal puasa dan wudu. Namun, lima hal tersebut masing-masing memiliki dalil yang sahih sebagai sesuatu yang buruk. Di setiap hal, RF di bagian akhirnya akan menyimpulkan bahwa hal tersebut memang bukan membatalkan (invalidate) puasa, namun mengurangi/menggugurkan (alleviate) nilai dari puasa itu sendiri (Lihat: h. 88, 89, 100, 106, 108).

Baca Juga :  Hukum Merokok pada Siang Ramadan

RF pun menyimpulkan bahwa hadis ini memang keliru baik dari segi jalur periwayatan maupun konten, namun setiap hal dalam konten tersebut ada pembenarnya dalam hadis-hadis sahih. Artinya, hadis ini memang tidak dipakai.

Di bagian akhir, RF menemukan bahwa memang ada hadis yang menunjukkan bahwa esensi dari puasa itu bisa gugur dan tidak tersisa apapun kecuali lapar dan haus. Yaitu hadis yang diantaranya ada dalam kitab Sunan Ibn Majah:

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر

“Boleh jadi orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar. Dan boleh jadi orang yang salat (malam), tidak mendapatkan apa-apa kecuali terjaga di sepanjang malam.”

Hadis ini tidak menunjukkan apapun yang membatalkan puasa, karena masih ada rasa lapar yang merupakan dampak zahir dari puasa itu sendiri.

Sebagai penutup, penulis ingin mengutipkan pernyataan RF tentang pentingnya kritis terhadap sebuah informasi, apalagi yang berkaitan dengan persoalan agama,

We are as Muslims have to be more critical and aware toward everything especially related to Islamic Science. It is extremely important for the speaker and listener even the writer and reader to be more critical and aware on quoting, receiving, and implementing hadith.

“Kita sebagai musim, harus lebih kritis dan peduli terhadap apapun yang berkaitan dengan ilmu agama. Sangat penting sekali bagi pembicara dan pendengar termasuk penulis dan pembaca (dalam persoalan agama) untuk lebih kritis saat mengutip, menerima, dan menerapkan hadis.”

Dan RF sudah melakukan ikhtiar tersebut, dengan melakukan praktik menganalisis hadis. Apalagi tidak ditulis dengan bahasa hariannya, namun oleh bahasa yang kini “didaku” sebagai bahasa dunia itu, bahasa Inggris. Terakhir, dan wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here