Soekarno dan Kaum Pergerakan dari Pesantren: Telaah Buku Ketika Santri Membaca Sang Proklamator

0
478

BincangSyariah.Com – Per hari ini, kita mungkin tidak akan bisa menghitung berapa buku, artikel, dan karya yang sudah ditulis tentang Soekarno. Setiap tahun hampir bisa dipastikan lahir sebuah buku yang lagi-lagi menjadikan Soekarno sebagai obyeknya. Soekarno memang seksi. Namanya adalah kata kerja, simbol totalitas dan representasi paling nyata kalau kita ingin berbicara tentang Indonesia.

Sayangnya, riuh proyek penulisan sosok Soekarno tidak dibarengi oleh keinginan maupun ambisi untuk menelisik hingga poros gagasan, ide, dan nalarnya yang paling dalam. Dampaknya, di tengah bejibunnya karya mengenai Soekarno, justru kita semakin bingung untuk menjawab sebuah pertanyaan, “buku apa dan mana yang paling representatif tentang Soekarno?”

Artinya, historiografi Soekarno per hari ini masih berupa suguhan data parsial dan kronologis. Ia masih didasarkan pada asumsi-asumsi dikotomistik, atau kontroversialitas yang selama ini masih diyakini sebagai bagian yang paling laku dijual dari sosok Soekarno. Entah itu dalam soal politik, hubungan uniknya dengan kaum perempuan dan lain sebagainya. Dengan kata lain, kerja pembacaan yang ada selama ini masih mengandalkan model analisa konvensional yang meletakkan Soekarno dalam peta kesejarahan yang kronologis dan diposisikan layaknya sejarah ide-ide.

Buku yang ditulis oleh Hilmy Firdausy ini, pertama kali ingin melepaskan diri dari cara baca model lama yang sudah terlanjur menjadi zona nyaman tersebut. Apa yang hendak saya sasar adalah organ-organ utama dalam anatomi nalar Soekarno. Saya istilahkan sebagai “nalar”, karena memang nantinya ia yang menjadi dinamo bagi seluruh ide, gagasan dan aksi Soekarno. Cara kerja nalar sendiri saya yakini mirip dengan cara kerja mimpi. Ia melampaui sekat ruang dan waktu. Otomatis, ada satu model pembacaan baru yang turut saya tawarkan dalam buku ini untuk membaca persinggungan-persinggungan diakronik dalam nalar Soekarno tersebut.

Baca Juga :  "Futuhat Al-Asrariyah" dan Polemik "Wahdatul Wujud" di Palembang 

Ada beberapa naskah yang saya pilih sebagai sampel utama untuk melihat itu. Naskah Mentjapai Indonesia Merdeka, Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme dan Surat-Surat Islam dari Endeh. Selain itu, saya juga membaca naskah lain yang berkaitan, yang saya jadikan sebagai data interteks penguat bagi kesan yang saya temukan dalam naskah utama. Saya juga menggunakan beberapa pidato Soekarno, cerita-cerita dan anekdot sebagai bahan sekunder lainnya.

Setelah seluruh naskah saya baca secara struktural – cara baca yang saya timba dari orang pesantren di desa-desa -, saya menemukan sebuah fenomena baru dari diri Soekarno yang bisa menjelaskan banyak hal. Sejauh apa yang telah saya baca, dari ketiga ideologi coba diintergrasi, Islamisme menjadi PR besar dan problem utama bagi Soekarno dibanding kedua ideologi lainnya. Ini yang berusaha ditambal dan disempurnakan Soekarno seumur hidupnya. Dan sebagaimana yang saya tampilkan, sikap membaca Soekarno terhadap Islamisme jauh sekali dari kritisisme yang biasa Soekarno perlihatkan ketika membaca Marxisme dan Nasionalisme.

Dari celah inilah saya tahu bahwa hubungan Soekarno dengan orang pesantren bukan hanya strategi politik, tapi lebih jauh, ia adalah hubungan yang sangat ideologis, subyektif dan personal. Dari kedekatannya dengan orang-orang pesantren, Soekarno lambat laun mengisi dirinya, mengambil inspirasi sekaligus memperkental gagasannya tentang sebuah bangsa. Maka kita pun bisa menyaksikan dalam sejarah, bagaimana intensitas Soekarno dengan kaum pergerakan yang berasal dari pesantren.

Pada akhirnya saya pun bisa memahami, mengapa naskah Soekarno dibaca layaknya kitab kuning di desa-desa, di kalangan santri dan kaum pergerakan Islam. Dan karena motif inilah sudah seharusnya naskah Soekarno tetap dibaca oleh kaum santri dan diperlakukan sama seperti Fathul Qarib dan kitab kuning lainnya. Karena dari sana, api revolusi Marhaenisme akan tetap terpercik dan membara.[]

Baca Juga :  Kritik Terhadap Kitab "Uqud al-Lujain" Karya Syekh Nawawi al-Bantani; Resensi Buku “Kembang Setaman Perkawinan”

[Resensi buku ‘Soekarno Studies: Ketika Santri Membaca Sang Proklamator’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here