Sekilas tentang Kitab Ihya Ulumuddin Karya Imam al-Ghazali

2
12123

BincangSyariah.Com – Nama panjang Imam al-Ghazali ialah Abu Hamid Zain al-Abidin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad at-Tusi. al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 hijriyyah (1058 M) dan wafat pada tahun 505 hijriyyah (1111 M). Abu Hamid ini dikenal sebagai al-Ghazzali dengan konsonan rangkap z.

Dijuluki al-Ghazzali karena bapaknya adalah seorang penenun wol dan menjualnya miliknya di wilayah Tus. Versi lain juga menyebut bahwa namanya ialah al-Ghazali tanpa konsonan rangkap z. al-Ghazali sendiri merujuk kepada nama salah satu perkampungan di kota Tus, Ghazalah. Nama al-Ghazali ini yang kemudian dianggap paling benar di sebagian akademisi yang meneliti sejarah hidup imam al-Ghazali.

Kalau kita melihat al-Ghazali bukan saja sekedar sebagai pribadi namun sebagai fenomena pemikiran dalam kebudayaan Arab-Islam, tentu pertanyaan yang muncul ialah apa jadinya pemikiran Arab-Islam setelah al-Ghazali kalau tidak ada al-Ghazali? Secara lebih konkretnya, pertanyaannya bisa diringkas demikian: apa yang hilang dari kebudayaan Islam jika al-Ghazali tidak memiliki karya-karya monumentalnya?

Tentu jawaban mudahnya, perpustakaan Arab sampai saat ini tidak akan memiliki karya-karyanya yang berjumlah ratusan; sebagian ada karya asli al-Ghazali, sebagian ada karya yang dinisbahkan kepada al-Ghazali, sebagian lain ada karya-karya yang masih diragukan penisbahannya kepada al-Ghazali. Meski karyanya mencapai empat ratusan seperti yang pernah dihitung oleh pakar-pakar yang menulis biografinya,  ada tiga karya al-Ghazali yang sangat penting dan berpengaruh: kitab Ihya Ulumudin, Tahafut al-Falasifah dan Mi’yar al-Ilm.

Selain ketiga karya ini, karya-karya al-Ghazali dapat diklasifikasikan menjadi tiga kerangka dasar: pertama, ada karya al-Ghazali yang signifikansinya tidak terlalu penting; kedua,  ada karya yang isinya secara substansi sudah terangkum dalam tiga kitab yang telah disebut di atas seperti kitab Misykat al-Anwar yang secara kandungan sudah bisa terwakili oleh kitab Ihya atau kitab Mizan al-Amal yang sudah terwakili oleh kitab Mi’yar al-Ilm; ketiga, ada juga karya al-Ghazali yang secara substansi sama pentingnya dengan karya-karya ulama lain.

Baca Juga :  Al-Ghazali dan Kitab Nasihat untuk Para Pemimpin

Untuk jenis yang ketiga ini, sebut saja kitab al-Mustasfa min Usul al-Fiqh yang kalau tidak ditulis al-Ghazali, kitab ini dapat digantikan dengan kitab-kitab usul fikih lainnya seperti kitab al-Mu’tamad karya Abdul Jabbar atau at-Talkhis karya Imam al-Juwaini. al-Mustasfa sendiri tidak lain hanyalah ringkasan dari beberapa karya usul fikih sebelumnya.

Jadi hanya tiga karyanya saja dari sekian karya-karyanya yang berjumlah ratusan yang kalau tidak dituliskan, maka al-Ghazali tidak akan pernah hadir secara terus menerus dalam kebudayaan Arab-Islam sampai saat ini. Tanpa ketiga kitab ini, al-Ghazali akan ditelan oleh sejarah.

Kita bahas terlebih dahulu karya monumental al-Ghazali yang paling terkenal: kitab Ihya Ulumudin. Kalau tidak ada kitab Ihya Ulumuddin, tasawwuf dalam kebudayaan Islam tidak akan berkembang begitu pesat pasca al-Ghazali. Memang betul jika dilihat dari segi tema-tema pembahasan yang dikemukakan, kitab ini memiliki konten yang sama dengan kitab ar-Ri’ayah li-Huquq Allah karya al-Muhasibi dan kitab Qutul Qulub karya Abu Thalib al-Makki. Demikianlah seperti yang pernah diamati oleh Ibnu Taymiyyah al-Harrani. Kendati demikian, nilai kitab al-Ihya bukan hanya terletak pada tema-tema pembahasannya namun juga cara penyajian dan mekanisme pengembangan materinya.

al-Ghazali membagi tasawwuf menjadi dua: pertama, ilmu muamalah dan kedua, ilmu mukasyafah. Lebih jauh lagi al-Ghazali menjadikan kitab Ihya sebagai ilmu muamalah. Yang dimaksud ilmu muamalah ialah ilmu yang sama dengan ilmu fikih. Sebut saja ilmu muamalah itu ialah ilmu fikih yang menjelaskan tatacara menjalankan kewajiban-kewajiban agama seperti taharah, shalat, puasa, haji, zakat dan lain-lain yang semuanya dilaksanakan secara fisik dan secara sosial.

Namun tidak sampai di situ, al-Ghazali menjadikan ilmu muamalah juga sebagai ilmu yang menjelaskan tatacara pelaksanaan ritual-ritual seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain secara spiritual. Karena itu, dalam kitab Ihya Ulumuddin ini, fikih bisa dikatakan dapat dibagi menjadi dua bagian; pertama, fikih yang mengatur ritualitas keagamaan secara fisik yang sangat birokratis dan kedua, fikih yang mengatur ritualitas keagamaan secara spiritual.

Baca Juga :  Unduh Gratis Buku Saku Fikih Kurban

Berangkat dari sini, tasawwuf yang sebenarnya merupakan ilmu asing yang banyak ditolak di zamannya dimasukkan oleh al-Ghazali ke dalam ilmu-ilmu keislaman dari gerbang yang resmi, yakni melalui fikih. al-Ghazali merancang dengan sangat cerdas agar tasawwuf dapat diterima sebagai bagian dari agama. Dulunya ilmu ini, seperti yang banyak diamati oleh para orientalis, ditolak secara mentah-mentah oleh ahli fikih dan ahli hadis. Namun al-Ghazali menggunakan strategi jitu  dan efektif ketika memasukkan ilmu yang bukan berasal dari Islam tersebut ke dalam ilmu-ilmu keislaman sehingga ilmu tasawwuf layak disejajarkan dengan ilmu hadis dan fikih.

al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan:

إن الرغبة من طلبة العلم صادقة في الفقه

“Kebanyakan para penuntut ilmu lebih tertarik kepada ilmu fikih.”

Melihat animo umat yang begitu tinggi terhadap fikih, al-Ghazali memasukkan tasawwuf melalui jalur fikih agar dapat diterima oleh masyarakat luas terutama oleh para ulamanya.

Dalam Ihya Ulumuddin juga disebutkan tujuan dari dimasukkanya tasawwuf melalui jalur fikih ini:

جاء تصوير الكتاب بصور الفقه تلطفا في استدراج القلوب.

“Kitab Ihya yang berisi ajaran-ajaran tasawwuf ini ditulis dengan menggunakan genre penulisan kitab fikih. Hal demikian dilakukan agar dapat menarik minat orang-orang untuk membacanya.”

Itulah tasawwuf sebagai ilmu muamalah dalam perspektif al-Ghazali. Secara singkatnya, tasawwuf sebagai ilmu muamalah memberikan baju spiritual atau ruhani bagi ilmu fikih yang terkesan berfokus kepada birokrasi ritual tanpa semangat ruhani yang jelas. Sedangkan ilmu tasawwuf dengan jenisnya yang kedua, yakni ilmu mukasyafah dijelaskan oleh al-Ghazali dengan menggunakan bahasa-bahasa kiasan atau metafor.

Ilmu mukasyafah seperti yang dijelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin ini dicukupkan  dengan mengikut model para Nabi dalam menyampaikan risalahnya kepada umat. Maksudnya, al-Ghazali mengikut cara pengajaran para nabi yang lebih banyak menyampaikan ajaran-ajarannya melalui isyarat-isyarat dan simbol-simbol. al-Ghazali dalam hal ini mencukupkan penyampaian materi tentang ilmu mukasyafah ini sebatas pada:

Baca Juga :  Membincang Hadis tentang Lima Hal yang Membatalkan Puasa dan Wudu

الرمز والإيماء على سبيل التمثيل والإجمال

“Simbol-simbol dan isyarat-isyarat yang mengandung banyak metafor dan perumpamaan.”

Kendati demikian, ketika menjelaskan ilmu mukasyafah dalam Ihya Ulumuddin al-Ghazali mengajak pembacanya untuk membaca karya-karyanya yang lain. Cara seperti ini menunjukkan kelihaian al-Ghazali dalam memengaruhi pembacanya. Hal demikian agar pembaca tertarik mempelajari dan mempraktekan tasawwuf dalam pengertian muamalah dan mukasyafah sekaligus. Karya-karya al-Ghazali tentang tasawwuf dalam pengertian mukasyafah biasanya memiliki judul-judul yang menggugah daya tarik.

Karya-karya al-Ghazali yang mengajarkan ilmu mukasyafah ini sebagiannya disampaikan dengan bahasa yang penuh kiasan dan metafor dan sebagian lainnya dikemukakan dengan bahasa yang eksplisit. Penggunaan bahasa yang penuh kiasan ini agar tidak mengundang reaksi keras dari ulama-ulama fikih atau ulama hadis. Ajaran-ajaran al-Ghazali tentang tasawwuf dalam pengertian mukasyafah ini dapat kita temukan dalam karya-karyanya yang berjudul Misykat al-Anwar, Jawahir al-Quran, al-Maqsad al-Asna, Ma’arij al-Quds fi Ma’rifat an-Nafs, al-Ma’arif al-Aqliyyah, al-Madhnun bihi ala Ghoiri Ahlihi dan lain-lain.

Secara ringkasnya, al-Ghazali menjadikan tasawwuf sebagai ilmu fikih lain yang tidak bertentangan dengan ilmu fikih pada umumnya. al-Ghazali memberikan warna spiritual bagi ilmu fikih formal ini. al-Ghazali bahkan menjadikan ilmu muamalah atau sebut saja fikih ritual formal dengan warna spiritual ini sebagai aspek batinnya syariat.  Ilmu muamalah ini menjadi tahapan awal untuk masuk ke dalam ilmu mukasyafah yang menjadi aspek batinnya akidah.

Sampai di sini, kita melihat al-Ghazali telah berhasil memasukkan ilmu tasawwuf dengan dua jenisnya kepada kalangan Ahli Sunnah wa al-Jama’ah melalui jalur sunnah sendiri, yakni melalui fikih. Sejak era al-Ghazali, tasawwuf yang merupakan ilmu asing bagi Islam menjadi salah satu komponen ilmu-ilmu keislaman dalam jagad pemikiran Arab-Islam. Allahu A’lam.

2 KOMENTAR

  1. JIKA ORANG-ORANG BODOH IKUT BICARA

    لِأَجْلِ الجُهَّالِ كَثُرَ الخِلَافُ بَيْنَ النَّاسِ
    وَلوْ سَكَتَ مَنْ لَايَدْرِيْ لَقَلَّ الخِلَافُ بَيْنَ الخَلْقِ

    “Karena orang-orang dungulah terjadi banyak kontroversi di antara manusia. Seandainya orang-orang yang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan di antara sesama.”
    (Al Imam Al-Ghazali dalam kitab “Faishilut Tafriqah bainal Islâm wal Zindiqah”)

    Kebodohan memang seyogianya melahirkan semangat untuk belajar dan menahan diri mengomentari segala hal. Ketika mereka secara leluasa turut berbicara apa pun yang ada di sekelilingnya, saat itulah sebuah malapetaka bisa terjadi.

    Menurut Imam *al-Ghazali*, perselisihan di dunia ini dipicu oleh ketidasanggupan kaum bodoh untuk berhenti menanggapi hal yang tidak ia pahami dan kuasai dengan baik. Harus diingat pula, manusia senantiasa dalam keterbatasan. Pandai dalam segala hal adalah sesuatu yang mustahil. Misalnya, orang yang mahir soal seni belum tentu ia mahir pula soal ekonomi; orang yang pandai tentang politik, belum tentu pandai pula di bidang agama. Begitu juga sebaliknya. Sehingga, yang dibutuhkan adalah rasa tahu diri akan kapasitas diri sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here