Resep Memperoleh Mutiara Kebaikan

0
469

BincangSyariah.Com- “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al-Furqan: 23). Begitulah Allah telah menjanjikan bahwa kelak semua akan diperhitungkan dan dipertanggung jawabkan sesuai dengan amal perbuatan selama di dunia.

Manusia diciptakan dengan dibekali akal. Sudah seharusnya akal digunakan untuk membendung nafsu yang tak ubah layaknya anak kecil yang masih dalam susuan. Satu yang membedakan malaikat dengan setan, malaikat patuh dengan semua perintah-Nya sedang setan ingkar dengan perintah-Nya. Adapun manusia diciptakan untuk mengabdi pada Tuhannya, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Inilah yang disebut dengan dua rukun takwa.

Islam adalah ajaran akhlak. Sebagaimana Nabi saw pun diutus tiada lain adalah untuk menyempurnakan akhlak. Begitu istimewanya akhlak sehingga Nabi bersabda “Ibadah sambil makan yang haram seperti mendirikan bangunan di atas pasir atau air” Imam Ja’far ash-Shadiq, “Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu”.

Pada hari kiamat nanti, sabda Nabi Saw “Berkaum-kaum datang dengan membawa kebaikan sebesar rangkaian gunung Tihamah. Tapi kebaikan itu semua diperintahkan untuk dibakar api. Allah menjadikan amalnya bagaikan debu yang berterbangan” orang bertanya “Ya Rasul Allah, apakah mereka melakukan salat?” Nabi Saw menjawab “Mereka melakukan salat dan puasa serta mengambil sebagian malamnya untuk beribadah, tetapi apabila dari jauh terlihat sedikit saja keuntungan dunia, mereka melompat padanya dengan cepat”. (hlm. 109)

Buku ini lebih dekat dengan psikologi tasawuf, ia tidak persis seperti stasiun-stasiun atau manzilah tasawuf. Manusia dengan ajaran agama dilatih untuk sebisa mungkin menghindari dosa. Upaya untuk menghindari dosa ini disebut warak. Orang yang warak, ia akan senantiasa berhati-hati dalam segala tingkah lakunya. Jangan sampai ada sesuatu yang bahkan itu belum jelas kebolehannya masuk dalam dirinya. Ada takwa yang menyelimuti jiwanya.

Baca Juga :  Hadis Kelima Kitab "Al-Mawaidh Al-'Ushfuriyah"; Keutamaan Rutin Baca Kalimat Tahlil

“Demi Allah, sekiranya kepadaku diberikan tujuh dunia dengan segala isinya di bawah langit agar aku menentang Allah dengan mengambil sebutir gandum dari mulut seekor semut, aku tidak akan melakukannya” (hlm. 58).

Salah satu dosa yang akan menghambat perjalanan bertemu Sang maha segalanya adalah zalim. Zalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Iblis diusir dari surga karena ia juga zalim, yaitu tidak menempatkan dirinya sesuai dengan tempat yang seharusnya. Ia sebagai makhluk yang sudah menjadi kewajibannya adalah mengerjakan perintah Tuhannya, namun dengan kesombongannya, ia tak meletakkan perintah tersebut pada tempatnya. Akhirnya, dikeluarkanlah iblis dari surga hingga ia meminta dispensasi untuk menggoda manusia hingga datang hari akhir. Maka, jangan jadikan kezaliman menyelamatkan agama orang lain tapi membinasakan agama sendiri.

Rasulullah mengajarkan tentang bahaya munculnya orang atau kelompok yang merasa paling benar, paling saleh, paling beragama. Sesudah itu ia mengkafirkan, memusyrikkan, bahkan menghalalkan darah orang yang tidak sepaham dengannya. Sikap “holier than thou” pasti menimbulkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Penulis melalui kisah-kisah dalam buku ini mencoba menggambarkan bagaimana hidup dengan berhiaskan indahnya kebersamaan. Inilah hidup dengan damai.

Jalaluddin Rakhmat memberikan salah satu contoh suri tauladan melalui kisah Gubernur Salman. Ketika Salman berjalan di pasar yang ramai, kemudian ada seorang pedagang dari Syam melihat Salman dan menduganya sebagai kuli pasar. Ia memanggil Salman dan berkata “Pikul barangku dan ikuti aku”. Setelah orang tersebut mengetahui bahwa yang ia perintahkan untuk memikul tersebut adalah seorang gubernur ia segera malu dan takut lalu memohon maaf. Namun Salman menolaknya. Ia mengantarkan barang milik pedagang itu sampai tujuannya. Ia berkata “Dengan memikul barang itu, aku melakukan tiga hal yang utama: aku menanggalkan kepongahan, aku menolong kaum muslimin memenuhi keperluannya, dan aku menghindarkan orang Islam lain yang lebih lemah dari ku dari makianmu” (hlm. 77)

Baca Juga :  Dicintai Allah, Kata Kunci Menghadapi Kematian dan Kiamat

Bagian akhir dari buku ini adalah tentang perjalanan amal ke langit. “Bila amal itu dilakukan tanpa kedengkian, tanpa gunjingan, tanpa kezaliman, tanpa pengkhianatan, tanpa takabur, tanpa riya, tanpa dosa besar, maka naiklah ia jauh di atas langit ke tujuh. Amal itu bercahaya bagaikan kilat. Setiap kali ia melewati para malaikat, mereka semua memohonkan ampunan bagi pengamalnya dan malaikat mengantarkannya sampai ‘illiyyin, tingkat paling tinggi.

Buku yang sangat cocok untuk menambah ghirrah dan menguatkan iman. Bagaimana sikap yang harus ditempuh supaya iman tak gentar. Pesan utama yang hendak disampaikan penulis dalam buku ini adalah jangan remehkan racun walau setetes. Jangan remehkan dosa sekecil apapun. Penulis berusaha menanamkan keindahan tasawuf sehingga kelak kidung-kidung surgawi tetap bisa kita dengarkan, dan keindahannya bisa kita pandang. Pesona bidadari-bidadari yang telah dijanjikan bisa kita rasakan. Alangkah sempurnanya kebahagiaan yang menjadi dambaan setiap insan.

Judul Buku                  : Jangan Bakar Taman Surgamu

Penulis                        : Jalaluddin Rakhmat

Tahun Terbit               : November 2017

Penerbit                       : Penerbit Nuansa Cendekia, Bandung

Tebal                           : 120 hlm, 12 x 17 cm

ISBN                           :  978-602-350-156-4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here