Resensi Buku: Islam Tuhan Islam Manusia: Dialog Islam yang Penuh Cinta

0
3215

BincangSyariah.Com – Jika kesulitan menemukan buku Islam inklusif, bacalah buku Islam Tuhan Islam Manusia. Lalu, lanjutkan membaca buku-buku karya Ahmad Syafii Maarif dan Ahmad Mustofa Bisri. Buku ini memuat pemikiran Haidar Bagir dalam bentuk esai. Esai-esai yang berserakan di media massa dikumpulkan, dikategorikan berdasarkan tema, lalu disusun menjadi buku.

Lantaran dikemas baik, buku ini seperti autobiografi intelektual atau perjalanan pemikiran
seorang tokoh muslim dalam bentuk esai yang merangkum permasalahan di dunia Islam
sekaligus memberikan solusi atas masalah, salah satunya adalah dengan spiritualitas.
Beberapa esai ditulis puluhan tahun yang lalu, tapi masih sangat relevan.

Haidar mengupas permasalahan dalam dunia Islam dimulai dengan masalah kebangsaan,
politik, hingga ekonomi dan sejarah. Lewat pendekatan hermeneutik, ia mengajak
pembacanya menyelami dunia Islam lebih dalam, memungut akar permasalahan yang
sebenarnya, dan menyelesaikan masalah dengan solusi yang dihadirkan, hasil dari
perenungannya.

Haidar menggunakan bahasa yang tak muluk-muluk. Meski dipenuhi referensi buku dan
menyempil banyak pemikiran tokoh di dalamnya, buku ini layak dinikmati terutama di saat-saat santai. Sebab, selain ada banyak informasi di dalamnya, buku ini juga sangat reflektif. Haidar menyeret kita berpikir dengan runtut atas permasalahan yang terjadi dalam dunia Islam.

Ia memulai buku ini dengan menyajikan bagan isi buku. Tabel paling atas bertuliskan “Islam (dalam tafsir) Manusia.” Ia ingin menegaskan bahwa segala hal yang ia bahas dalam buku ini adalah semata Islam yang ditafsirkan oleh manusia, bukan Islam Tuhan. Sebab, ajaran Islam di dunia (bumi) memang hanya hasil tafsiran manusia sehingga kebenarannya bersifat relatif, tidak mutlak.

Ajaran Islam memang diturunkan Allah Swt. lewat Al-Qur’an, tapi ketika ditafsirkan
manusia, Islam berubah menjadi Agama Manusia, bukan Agama Tuhan lagi. Alangkah sia-
sianya jika kita saling berseteru lantaran penafsiran kita sendiri yang sudah pasti akan
berbeda-beda.

Baca Juga :  Kemuliaan Wanita di Mata Islam

Esai naratif sebagai prolog berjudul Aku dan Islamku… mengukuhkan epistemologi tulisan-
tulisan Haidar. Prinsipnya dalam berislam mencakup tiga hal yakni prinsip-prinsip
keterbukaan, pluralisme, dan demokrasi. Ia juga menekankan bahwa kita mesti mencontoh
Imam Al-Ghazali yang berkata: “sebelum berhak mengkritik, kita harus berupaya untuk bisa memahami pendapat yang akan kita kritik itu seperti pemahaman para penganutnya.”
Sederhananya, kita tak bisa mengkritik jika tak paham.

Selanjutnya, ia membagi isi buku dalam lima bagian. Ada bagian masalah, khazanah,
pendekatan dialog intra-Islam, pendekatan dialog antar agama peradaban budaya, lalu ditutup dengan solusi. Dalam masalah, Haidar menyoroti fenomena takfirisme yang semakin marak. Baginya, takfirisme adalah masalah yang sangat serius sehingga mesti ada solusi yang dimunculkan.

Sayangnya, takfirisme bukan hanya satu-satunya masalah yang menjangkiti dunia Islam.
Selain takfirisme, ada pula problem dunia kita yang sangat kompleks, terutama masalah
sosial, politik, dan ekonomi. Tak lupa, ada ketunabudayaan yang juga menjangkiti
masyarakat, tak hanya di Indonesia tapi juga hampir di seluruh belahan dunia.

Dalam bab Khazanah, Haidar memaparkan optimismenya bahwa umat Islam punya filsafat
Islam, hal yang telah ditinggalkan begitu lama. Orang-orang banyak yang tak mau susah-
susah mempelajari filsafat sehingga pemahaman Islam pada dirinya menjadi sangat tekstual, tak mengindahkan sejarah dan konteks yang ada. Dengan akal dan daya berpikir manusia, Haidar yakin, permasalahan dalam Islam akan bisa diselesaikan.

Selanjutnya, ada pembahasan tentang penafsiran modernistik, relativisme mazhab, dialog
antar golongan intra Islam, dan persatuan Islam. Ia juga menulis soal dialog peradaban,
bahwa non-muslim tak identik dengan kafir, serta hubungan Islam dan budaya lokal. Dalam bab Solusi, ia menawarkan spiritualisme, Islam cinta, dan dakwah yang damai.

Baca Juga :  Resensi Buku Wacana Ideologi Negara Islam

Haidar telah menyampaikan Islam yang damai adalah jalan keluar bagi segala permasalahan dalam dunia Islam seperti takfirisme, radikalisme, permainan ekonomi-politik, dan lain sebagainya. Dialog damai itu telah terbuka. Kini, giliran kita yang memastikan: kapan dialog itu akan terwujud, kita duduk bersama dengan golongan yang berbeda lantas membahas Islam dengan penuh cinta?

Sudah saatnya kita mengakhiri ketegangan antar golongan intra Islam. Imam Syafi’i pernah berkata: “Pendapatku benar, namun sangat potensial keliru; sementara pendapat orang selainku itu keliru, namun sangat mungkin benar.” Semua Islam Manusia adalah relatif. Islam diturunkan untuk kebahagiaan manusia, bukan untuk saling mengklaim kebenaran sendiri.[]

Judul : Islam Tuhan Islam Manusia (Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau)
Penulis : Haidar Bagir
Penerbit : Mizan
Cetakan II : Juli 2019
Tebal : 314 halaman
ISBN : 978-602-441-108-4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here