Resensi: Alquran dan Kodrat Perempuan (Sebuat Tawaran Pembacaan Metodologis atas Realitas Masyarakat)

0
324

BincangSyariah.Com – Buku yang akan saya resensi kali ini ditulis oleh salah seorang dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kusmana, Ph.D. Buku ini awalnya merupakan penelitian individual yang ia lakukan pada tahun 2013. Penelitian ini dilakukan, karena beliau terinspirasi dari penelitian program doktornya mengenai persepsi kodrat perempuan di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

Sebagian dari konten buku ini bersumber dari jurnal ilmiah yang ditulis beliru dengan judul  “Refleksi tentang Kodrat dan Pemberdayaan Perempuan di Indonesia: Mendayung di antara Penafsiran Islam dan Feminisme”. Beliau banyak merujuk kepada buku-buku yang ikut mengulas wacana kodrat Perempuan dari perspektif Islam. Diantaranya adalah buku Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas wacana Agama dan Gender karya Hussein Muhammad;  Kodrat Perempuan dalam Perspektif al-Quran dalam Memposisikan Kodrat: Perempuan dan Perubahan dalam Perspektif Islam karya Nasaruddin Umar; Bangga Jadi Perempuan:Perbincangan dari Sisi Kodrat dalam Islam karya Faqihuddin Abdul Qadir; dan masih banyak lagi.

Materi yang disajikan dalam buku ini disampaikan dengan bahasa yang lugas dan sederhana sehingga mudah dipahami pembaca dan bisa menjadi rujukan lintas kalangan, mulai dari akademisi, praktisi, hingga masyarakat umum. Khusus untuk yang terakhir buku ini membantu memberikan pengalaman dan menginformasikan makna eksistensi kodrat perempuan yang sampai saat ini masih banyak diperdebatkan di kalangan masyarakat.

Tulisan yang dimuat dalam buku ini terdapat 5 bab yang mengupas dan memberikan jawaban yang sangat lugas kepada para pembaca mengenai relevansi antara al-Quran dan Kodrat Perempuan. Dalam buku ini, penulis mengutip argumentasi sekian mufasir mulai dari zaman klasik hingga kontemporer, misalnya al-Qurthubi, Sayyid Qutb, sampai Quraish Shihab. Penulisnya juga mengambil argumentasi dari para pemikir Islam tentang kodrat perempuan seperti Katherine Robinson, Zaitunah Subhan, dan Faqihudin Abdul Qadir.

Para pakar itu mencoba membahas kodrat perempuan baik secara dimensi esensial maupun empiris. Kemudian, ia menyinggung makna kodrat perempuan yang ditinjau dari segi budaya. Diantaranya tentang peranan dan kedudukan perempuan dilihat dari tingkat-tingkatan harapan, nilai dan keadaban sosialnya. Dan yang terakhir, penulisnya menggabungkan beberapa relevansi kodrat perempuan dengan membaginya menjadi tiga bagian, diantaranya relevansi Qurani, relevansi Persepsional, dan relevansi Konseptual.

Baca Juga :  Cak Nur dan Modernisasi Pesantren: Refleksi Buku "Bilik-bilik Pesantren" Nurcholish Madjid

Kodrat diambil dari bahasa Arab yaitu qudrah. Penulis melacak kata qudrah itu sendiri – dengan bantuan kamus al-Maurid. Kata qudrah dalam bahasa Arab, diartikan dengan “a pre-determined God given nature or distinctive, original and natural quality of being”. Pengertian lain juga bisa kita ambil sebagai “menetapkan segala sesuatu dengan adil dan bijaksana yang mana hal tersebut sesuai dengan kehendak dan ketetapan mutlak yang menaungi atau melingkupinya”.

Kata qudrah sendiri beserta varian perubahan katanya terdapat dalam beberapa ayat dalam Alquran. Seperti yang terdapat dalam QS.Al-Syuara’/42:27 yang diartikan sebagai ukuran, QS.an-Nisa/4:133 diartikan sebagai kekuasaan, dan yang terakhir QS.al-Muddatstsir/74:18 yang diartikan sebagai ketentuan.

Dua orang mufasir Indonesia, Quraish Shihab dan Nasaruddin Umar mewakili pandangan mayoritas ulama Islam di Indonesia dalam hal pewacanaan kodrat perempuan. Mengenai hal ini, Quraish Shihab menjelaskan relevansi kodrat perempuan dengan semangat kebijaksanaan yang ada. Dimana posisi perempuan memiliki posisi ruang dan kesempatan yang sama seperti lelaki dengan syarat tidak melupakan kadratnya sebagai perempuan.

Kemudian, Nasaruddin Umar ikut andil dalam memberikan argumennya mengenai pewacanaan kodrat. Apa yang Umar sampaikan memilki perspektif yang sama dengan Shihab. Hanya saja Umar lebih memanfaatkan ilmu kesehatan / kedokteran untuk mengulas wacana kodrat perempuan ini. Sedangkan Shihab lebih mengarah kepada aspek psikologi sebagaimana rujukan pikirannya mengambil dari Helen Deutsch, seorang pakar psikolog yang menerangkan tentang kejiwaan perempuan.

Faqihuddin Abdul Qadir, pemikir islam dan penulis buku Qira’ah Mubadalah ini juga ikut menyinggung akan hal ini. Menurutnya, ia lebih menjelaskan makna perempuan dengan menggunakan perspektif mubadalah (kesalingan). Melalui perspektif ini, ia mendiskusikan isu-isu fundamental dan eksistensial kemanusiaan dengan cara pandang kesalingan, dimana laki-laki dianggap bagian dari kehidupan perempuan, dan begitupun sebaliknya.

Relasi antara keduanya harus dibangun atas kesetaraan, kebersamaan, keseimbangan, kesalingan dan kerjasama. Yang menarik, ia membahas isu-isu perempuan ini dengan perspektif mubadalah ternyata terinspirasi dari sebuah hadis yang merupakan pernyataan Ummu Salamah RA. Teks hadis lengkapnya sebagai berikut:

Baca Juga :  Unduh Gratis Buku Saku Panduan Ibadah di Bulan Syawal

عن أمّ سلمة زوج النّبيّ صلّى اللّه عليه وسلّم أنّها قالت فلمّا كان يومًا من ذالك والجارية تمشطني فسمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم يقول أيّها النّاس فقلت للجارية استأخري عنّي قالت إنّما دعا الرّجال ولم يدع النّساء فقلت إنّي من النّاس.

“Ummu Salamah RA, Istri Rasulullah SAW berkata,”Pada suatu hari, ketika rambutku sedang disisir pelayan, aku mendengar Rasulullah SAW memanggil, “Wahai manusia (kemari berkumpullah); Aku pun berkata pada sang pelayan, ‘Sudah dulu, biarkan aku pergi (memenuhi pangggilan tersebut); tetapi, ia berusaha menimpali (berusaha mencegah), sambil berkata ‘Nabi, kan, memanggil para lelaki(saja), tidak memanggil perempuan; ‘Aku menjawab’ (Nabi memanggil manusia), dan aku adalah manusia.” (H.R Muslim)

Jadi, kesadaran bahwa perempuan bukan bagian dari “manusia” ini mengakar dalam masyarakat sebagaimana yang ditunjukkan oleh pernyataan pelayan Ummu Salamah RA. Sehingga, ketika ada pernyataan, panggilan, atau bahkan teks-teks secara umum yang berbicara subjektif manusia, seringkali difahami oleh beberapa orang bahwa hal itu ditunjukkan kepada kaum lelaki.

Tetapi, setelah kita melihat bagaimana tindakan Ummu Salamah RA, istri Rasulullah, dan ia merupakan salah satu sahabat perempuan yang cerdas, berkat inspirasi ajaran yang mendasar dalam Islam, ia mendeklarasikan dengan tegas bahwa perempuan adalah manusia. Karena pada hakikatnya perempuan adalah sama sebagaimana laki-laki.

Perempuan dan laki-laki tercipta dari esensi yang sama. diturunkan ke muka bumi dengan misi yang sama yaitu sebagai khalifah untuk menebarkan kesejahteraan, kebaikan, kemasalahatan dan keadilan bagi manusia dan semesta alam. Dimulai dari urusan  dari rumah tangga hingga persoalan-persoalan kemanusiaan yang lebih luas di masyarakat, bahkan sampai puncak global penduduk dunia.

Setelah dijelaskan beberapa versi argumen mengenai kodrat perempuan, penulisnya memberikan salah satu contoh wacana kodrat perempuan di masyarakat. Yang jadi contoh adalah masalah kepemimpinan yang ditemui di kabupaten Tasikmalaya. Pada saat proses pemilihan kepala daerah pada akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011, salah satu kandidat partai golkar adalah seorang perempuan, ia bernama Dedeh T.Widarsih. Dedeh telah berhasil menjabat sebagai ketua partai Golkar di kabupaten tersebut. Selain itu, ia juga menduduki sebagai politisi senior yang aktif di masyarakat.

Baca Juga :  Kitab Bantahan Imam Suyuthi Tentang Maulid itu Bid'ah

Bahkan, yang lebih unik lagi, salah satu partai PPP yang telah kalah dalam pencalonan sebagai kepala daerah di Tasikmalaya meminta Dedeh untuk menjadi partner dalam pencalonan kepala daerah selanjutnya. Sebenarnya, kualitas Dedeh yang cukup berkualitas membuatnya sangat mampu untuk naik tingkat menjadi Bupati. Tetapi sayang, kesempatan itu tidak diambil. Dedeh lebih memilih menjadi calon wakil Bupati dan mendorong salah satu delegasi kader laki-laki dari partai PPP untuk menjadi calon Bupati.

Salah satu alasan yang disampaikannya adalah karena dia seorang perempuan dan masyarakat Tasikmalaya lebih mempercayai atau memberikan hak lebih kepada laki-laki sebagai pemimpin dari pada perempuan. Tentu hal ini sangat terlihat dari sikap masyarakat kabupaten Tasikmalaya bagaimana memandang perempuan dan memposisikannya sebagai urutan kedua setelah lelaki.

Poin yang dapat diambil dari tulisan ini adalah bahwa kodrat perempuan pada dasarnya memiliki pengertian yang sangat luas. Keluasan maknanya bukan hanya meliputi aspek esensial saja, tetapi ia mampu memasuki aspek historis yang menimbulkan persepsi yang berbeda-beda. Adapun salah satu tantangan yang serius agar mewujudkan keadilan gender adalah cara pandang yang dikotomis pada laki-laki dan perempuan.

Keduanya berbeda dan pastinya akan terjadi pertentangan satu sama lain. Dan ini akan menyebabkan laki-laki diletakkan secara superior, sedangkan perempuan di posisi inferior, sebagai pengabdi mereka. Justru, cara pandang ini akan melahirkan stigmatisasi pada perempuan. Stigma ini selanjutnya akan melahirkan ketidakadilan gender berupa kekerasan, subordinasi, dan peminggiran. Jika kejadian ini terus berlanjut, akan mempengaruhi sistem kehidupan yang melibatkan keduanya di berbagai level. Dan dampak negatifnya akan merata dari kehidupan perkawinan, masyarakat, hingga global. Jadi, dikotomi bukanlah jalan satu-satunya cara pandang pada perbedaan. Perbedaan  bahkan keragaman bukanlah sumber konflik, melainkan modal sosial untuk maju bersama.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here