Nasihat Meraih Kebahagiaan Pernikahan

0
1141

BincangSyariah.Com – Mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum manusia mencapai kedewasaan dan merupakan suatu dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Kesendirian sungguh menghantui manusia, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang selalu ingin bersama. Sewaktu-waktu manusia memang akan merasakan senang dalam kesendiriannya, namun tidak untuk selamanya. (Kumpulan Artikel tentang Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Menikah)

Dahulu, Hawa diciptakan salah satunya karena Adam merasa kesepian, sehingga ia memohon kepada Allah agar didatangkan teman hidupnya. Akhirnya, Allah menciptakan Hawa. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, namun pendapat yang lebih masyhur sesungguhnya tulang rusuk hanyalah majaz akan karakter yang menjadi kodrat wanita. Layaknya sifat pada tulang rusuk, maka pasangannya harus bijak menghadapi sifat keras dan bengkoknya.

Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu menyadari (kebesaran Allah)” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 49)

Pernikahan adalah jalan yang bisa menghalalkan hubungan dua insan. Terkadang pernikahan hanya diartikan sebagai pemenuh nafsu belaka, atau untuk mendapat keturunan saja. Namun, lebih dari itu, pernikahan adalah bagian dari sunnah Nabi yang dengannya ibadah kita akan dinilai sempurna, karena pernikahan yang diridhai Allah akan meyempurnakan separuh agama kita.

Hal yang menjadikan bimbang seorang yang hendak menikah adalah memilih calon pasangan. Dahulu, orang cenderung dipilihkan “jodohnya” oleh orang tua. Namun kurang elok juga jika pilihan sepenuhnya hanya diserahkan kepada calon pengantin.

Menjadikan pilihan semata-mata di tangan calon pengantin tidaklah bijaksana, bukan saja karena pikiran bersama/banyak pihak lebih matang daripada pikiran seorang, tetapi juga karena perkawinan bukan hanya melibatkan kedua calon, tetapi juga keluarga keduanya. Karena itu, yang bijaksana adalah anak memiliki hak veto, dan ibu-bapak pun memiliki hak veto, sehingga kalau anak memiliki pilihan yang tidak disetujui orang tua, maka orang tua dapat memvetonya. Demikian juga sebaliknya pilihan orang tua dapat diveto oleh anaknya. (hlm. 88)

Baca Juga :  Filsafat Ar-Razi dalam Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah; Ulasan mengenai Substansi dan Aksiden

Ketika sudah sampai pada tahap pernikahan, maka mulailah perjuangan ini dengan keyakinan bahwa pasangan kita adalah pilihan Allah dan diridhai oleh rasul-Nya. Keyakinan seperti ini bukan berarti sebagaimana perkataan orang bahwa lahir, jodoh, dan mati berada di tangan Allah Swt. Sesungguhnya tak hanya tiga hal itu yang berada di tangan Allah, namun segala yang terjadi adalah atas kehendak-Nya.

Hanya saja, pada saat yang sama Ia memerintahkan kita untuk berusaha, menimbang baik-buruknya, dan memohon petunjuk-Nya. Ketika hati sudah bulat, maka kita melangkah dengan tenang. Begitu pula dengan pernikahan. Bila kita sudah berusaha, salat istiharah telah kita lakukan, hati dan pikiran semua pihak telah sepakat, maka dengan itu seakan Allah memberi isyarat bahwa yang dipilih adalah pasangan yang juga pilihan-Nya.

Pernikahan adalah bersatunya dua “aku” dengan segala perbedaan karakter yang menyertai. Pernikahan yang didasari oleh penyatuan jiwa tidak akan pernah punah atau layu dalam kehidupan dunia ini. Tak lekang oleh panas, tak juga lapuk oleh hujan. Ia akan terus bersemai sejalan dengan berlangsungnya waktu.

Pernikahan yang didasari oleh cinta yang suci, maka pasangan suami istri tak akan merasa jemu, tak juga sebagai rutinitas yang membosankan dalam hidup. Bahkan ia berpotensi untuk melahirkan hal-hal baru, terutama jika hidup bersama dengan orang yang dikasihnya. Inilah pernikahan yang dikehendaki agama. (hlm. 152)

Puncak dari pernikahan adalah sakinah. Menurut Qurasih Shihab, sakinah tidak datang begitu saja tetapi ada syarat bagi kehadirannya. Sakinah diperoleh setelah kalbu dikosongkan dari segala sifat tercela, lalu memutuskan “hubungan dengan masa lalu” yang kelam, disusul dengan perjuangan melawan sifat tercela dengan sifat terpuji dengan terus berdzikir mengingat-Nya.

Baca Juga :  Tukar Cincin Saat Akad, Bolehkah Laki-Laki Menggunakan Cincin Emas?

Inilah yang disebut usaha menghias diri dengan ketabahan dan takwa. Saat hati telah mencapai kata ini, maka betapapun hebatnya kecemasan akan berubah menjadi ketenangan, betapapun mencekamnya kehidupan akan berubah menjadi ketenteraman, bahwa sakinah telah bersemayam.

Judul Buku      : Pengantin Al-Qur’an

Penulis            : M. Quraish Shihab

Penerbit           : Lentera Hati, Tangerang Selatan

Tahun Terbit   : November, 2015

Halaman         : 239 hlm

ISBN               : 978-602-7720-38-1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here