Moderasi Beragama: Tidak Ekstrem dan Tidak Pula Menggampangkan

1
713

BincangSyariah.Com“Semua mengaku cinta pada si Jelita, tetapi si Jelita menampik cinta mereka”. Inilah perumpamanan yang diberikan Quraish Shihab menyangkut moderasi yang ada di kalangan umat ini. Bahwa semua kelompok mengakui pentingnya moderasi beragama, namun hakikat, makna, tujuan, dan cara menerapkannya yang masih acap kali kabur di antara kita. Kekaburan ini yang menyebabkan yang ekstrem maupun yang menggampangkan sama-sama menilai diri mereka yang menerapkan moderasi, padahal sikapnya jauh dari makna moderasi.

Persoalan moderasi bukan sekedar persoalan atau kepentingan orang perorang, melainkan juga urusan dan kepentingan setiap kelompok dan umat, kepentingan negara  dan masyarakat. Banyak kalangan atau kelompok yang masing-masing mengaku bahwa moderasi yang diterapkannya adalah yang benar, hingga mereka menggunakan istilah moderasi islami atau yang lainnya untuk menampik moderasi yang diakui oleh pihak yang lain. Sesungguhnya bagaimana dan kapan moderasi itu diterapkan adalah suatu hal yang perlu dipahami terlebih dahulu agar tidak memunculkan moderasi-moderasi ala-ala kelompok masing-masing.

“Allah menyifati umat ini dengan sifat wasathiyyah karena mereka tidak seperti kaum Nasrani yang melampaui batas dalam beribadah serta keyakinan mereka tentang Isa, as. Tidak juga seperti kaum Yahudi yang mengubah kitab suci, membunuh nabi-nabi serta berbohong atas nama Tuhan dan mengkufuri-Nya” (hlm. 7)

Moderasi atau yang disebut dengan wasathiyyah memiliki arti pertengahan atau adil. Bahkan, jika ditilik dari kata dasarnya, kata wasathiyyah ini bisa memiliki arti yang teramat banyak, namun kesemuanya merujuk kepada keadilan. Walau hurufnya dibolak-balik, tetap saja artinya akan menunjuk kepada makna baik, indah, kuat, mulia, dan sebagainya.

Moderasi memang memiliki arti adil atau pertengahan, namun bukan berarti kita tidak boleh mencapai puncak tertinggi dalam beribadah, atau bersikap tegas kepada orang kafir. Penafsiran dan penerapan moderasi dapat berbeda bila tidak menyadari keharusan penyesuaian sikap dengan kondisi dan situasi yang dihadapi tanpa harus meninggalkan tuntunan agama dan akhlak luhur.

Baca Juga :  Gapai Kebahagiaan dengan Qalbun Syakirun (Hati yang Bersyukur)

Sementara ada perkataan bahwa dunia dan akhirat atau ruh dan jasad tidak seimbang dalam ajaran Islam. Sesungguhnya jika kita menyadari bahwa faktor yang menyertai dunia dan jasmani manusia memiliki daya tarik yang lebih terasa sedemikian kuat dan menonjol dibanding dengan daya tarik akhirat, apalagi dengan rayuan setan, maka kita akan mengetahui dan sadar bahwa faktor itulah yang menjadikan penekanan pada uraian akhirat lebih ditonjolkan dari pada uraian menyangkut dunia. Ibarat kata, kita tak perlu menekankan perlunya makan bagi setiap orang, karena dorongan lapar akan mengantarnya mencari makanan. Tetapi kita perlu menekankan perlunya salat, karena nikmatnya salat sering kali tidak disadari.

Wasathiyyah perlu diterapkan karena keseimbangan yang melahirkan keterkaitan satu sama lain dari ciptaan-Nya demi kemaslahatan. Alam tidak akan memberi manfaat untuk makhluk kecuali dengan keseimbangan. Bahkan tanpa keseimbangan alam akan punah (hlm. 127).

Moderasi dibutuhkan bukan hanya idenya atau kesadaran akan perlunya, karena semua menyadari bahwa moderasi itu penting bahkan mendukungnya. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menerapkan moderasi dengan benar? Salah satu yang perlu diperhatikan adalah menonjolnya sikap hilm (halus). Maksudnya adalah menahan emosi agar tindakan yang dilakukan pada waktunya tidak saja memberi kesempatan kepada yang bersalah untuk memperbakinya, namun juga bagi yang akan bertindak supaya mempersiapkan diri agar tindakannya sesuai dan tidak melampaui batas/ekstrem.

Wasathiyyah adalah sistem yang menuntut pengamalnya agar menjauhi ekstremisme terhadap diri dan pihak lain, sebagaimana ia juga menuntut untuk menghindari sikap menggampangkan dalam segala bidang kehidupan (hlm. 187).

Judul Buku      : Wasathiyyah, Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama

Penulis            : M. Quraish Shihab

Penerbit           : Lentera Hati

Tahun Terbit    : September, 2019

Baca Juga :  Buku Terbaru el-Bukhari : Menjadi Manusia Rohani : Meditasi-Meditasi Ibn ‘Athaillah dalam Kitab al-Hikam

Halaman          : 204 hlm

ISBN               : 978-602-7720-94-7

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here