Menuju Nikmat Munajat dengan Sikap Moderat

0
166

BincangSyariah.Com – Temuilah sahabat dan musuhmu dengan ikhlas tanpa menghinakan dan tiada mengagungkan, menghormati tanpa kesombongan, dan tawaduk tanpa kerendahan. Bersikap moderatlah dalam segala hal. Sebab sangat cenderung pada satu sisi pada setiap perkara adalah tercela.

Islam sangat berhati-hati terhadap suatu kemaksiatan, bahkan ia menjaga agar umat Islam tak terjerumus dalam kesesatan yang dilakukan oleh sesamanya. Manusia dibekali dengan akal yang harus digunakan dengan bijak. Buah dari akal yang diberikan itu adalah tingkah laku atau akhlak yang sesuai dengan tuntunan Islam.

Sifat rahman Allah yang diberikan kepada seluruh makhluknya tak terkecuali untuk bisa menggapai hidayah-Nya. Hidayah yang merupakan buah ilmu, ia memiliki awal dan akhirnya, ada lahir dan batinnya. Seseorang tidak akan mencapai hidayah akhir sebelum mengetahui hikmah pada permulaannya. Begitu pula mustahil mencapai hidayah batin jika belum merasakan lahirnya.

Dunia dengan segala fatamorgananya menawarkan kelezatan-kelezatan yang tampak indah namun sesungguhnya ia adalah racun dan tipudaya setan. Maka, jangan sekali-kali terjebak tunduk pada bujukan setan dengan segala tipu muslihatnya. Guru akhlak kita, Imam al-Ghazali dalam bidayah al-hidayah menjelaskan bagaimana adab yang seyogyanya dimiliki seorang muslim. Setidaknya ada tiga tatakrama yang harus ditanamkan dalam diri. Tatakrama dalam dimensi ketaatan, dimensi larangan, dan tatakrama pergaulan.

Imam al-Ghazali dengan pandangan-pandangannya terkait sufisme banyak diterima oleh banyak sufi generasi berikutnya seperti Jalaluddin Rumi, Ibn Rusyd, dan Syah Waliyullah yang menulis buku dengan mengemukakan kembali gagasan-gagasan Imam al-Ghazali. Buku Bidayah al-Hidayah adalah salah satu buah karya Imam al-Ghazali dalam spiritual dan moral.

Di dalam buku ini dijelaskan proses awal seorang hamba dalam menyongsong hidayah dari Allah. Ia berisi tiga bagian. Perihal dimensi ketaatan dijelaskan bagaimana tatakrama mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Tatkrama bersuci, shalat, bahkan takrama mulai dari terbit hingga tergelincirnya Matahari, dan tatakrama puasa. Adapun dimensi larangan diterangkan perihal maksiat-maksiat hati, dan kesemuanya itu diakhiri dengan bahasan perihal adab, tatakrama pergaulan.

Baca Juga :  Hadis Ketiga Kitab “Al-Mawaidh Al-'Ushfuriyah”; Allah Malu Siksa Orang Tua Renta karena Kemuliannya

Agama memiliki dua dimensi, yaitu dimensi melaksanakan ketaatan dan dimensi meninggalkan larangan. “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan, sementara orang yang berjihad adalah orang yang melawan hawa nafsu kesenangannya” (hlm. 69)

Barang siapa membantu dalam kemaksiatan walau hanya dengan sebaris kalimat, jadilah ia partner dalam kemaksiatan tersebut”.

Sadar tak sadar, manusia akan cenderung melakukan maksiat pada Allah dengan anggota badannya, padahal anggota badan adalah nikmat anugerah yang diberikan oleh Allah kepada masing-masing hamba-Nya. Anggota badan adalah amanat yang dititipkan Allah pada makhluk-Nya. Disebutkan dalam salah satu subbab bahwa menggunakan nikmat karunia untuk mendurhakai-Nya adalah puncak kekafiran. Pengkhianatan atas amanat yang dititipkan adalah puncak tirani.

Anggota badan adalah permisalan rakyat, maka bagaimana kita memelihara rakyat itu menjadi tanggung jawab kita. Kelak di sidang pengadilan akhirat, seluruh anggota badan akan bersaksi dengan lisan yang bebas, lepas, dan cakap. Mereka akan mengungkap semua skandal makhluk Tuhan. Celakalah jika seluruh anggota badan terjebak maksiat. Maka sesungguhnya neraka memiliki tujuh pintu yang dikhususkan untuk orang yang durhaka dengan sarana ketujuh anggota badannya, yaitu mata, telinga, mulut, perut, kemaluan, tangan, dan kaki.

Maka, tak sepatunya masing-masing dari kita menganggap suci diri kita atau bahkan memuji diri kita sendiri. Sebuah aforisma orang bijak menyebutkan bahwa kejujuran yang jelek adalah memuji diri sendiri. Perilaku seperti ini akan mengurangi nilai di hadapan manusia bahkan menyulut kebencian Allah Swt.

Bahkan sejak dahulu, laku menyindir, mengolok-olok dan menertawakan manusia sangatlah dicela. Betapa banyak orang hancur sebab lisannya. Jagalah lisanmu dari perbuatan mengolok-olok bahkan menebar ujaran kebencian dalam kondisi serius dan bergurau. Laku ini adalah permulaan sikap permusuhan, kemarahan, dan kekerasan. Begitu banyak himpunan petaka-petaka mulut, maka tak heran jika banyak orang yang terbunuh oleh lisannya sendiri.

Baca Juga :  Bedah Buku Ilmu Living Quran-Hadis

Inilah buku yang mengajarkan tatakrama pada sesama hingga tatakrama bercengkrama dengan Sang Pencipta. Setiap kali hati hancur karena merasa sedih atas kelalaian menjalankan kewajiban agama, maka Dia selalu mendampingi dan menyertai. Sediakanlah saat senggang dari waktu siang dan malam untuk menyepi bercengkrama bersama-Nya dan merasakan kenikmatan bermunajat kepada-Nya.

Judul Buku                  : Bidayah al-Hidayah, Menggapai Hidayah

Penulis                        : Imam al-Ghazali

Penerjemah                 : Kamran A Irsyadi

Penerbit                       : Penerbit Marja, Bandung

Tahun Terbit               : Cetakan I, Juli 2019

Jumlah Halaman         : 120 hlm, 14.5 x 21 cm

ISBN                           : 978-602-6297-74-7

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here