Cara Menjemput Kebahagian Menurut Al-Ghazali

1
27

BincangSyariah.Com – Dalam kitab Kimiya’us Sa’adah ini, Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali menjelaskan tentang bagaimana cara menjemput kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan. Kebahagiaan akan dicapai dengan cara mengenal diri sendiri terlebih dahulu, lalu kemudian memikirkan tentang Tuhannya. Karena kunci mengenal Allah adalah mengenal dirinya sendiri.

Mengenali dirinya sendiri yaitu dengan merenungkan kembali tentang penciptaan manusia dan untuk apa ia didatangkan ke dunia fana ini. Manusia diciptakan sebagai representasi yang baik bukan hanya dalam hal etik-moralitas luhur tetapi juga dalam pengembangan peradaban yang lebih berwajah manusiawi dan menjanjikan bagi masa depan yang lebih baik.

Perhatikan penjelasan Imam Ghazali tentang diri manusia. Menurutnya, dalam diri manusia terkumpul berbagai karakter yang bersemayam, antara lain karakter hewan, karakter binatang buas, dan karakter malaikat. Perbuatan-perbuatan buruk yang berupa makan, minum, dan kawin (senggama) merupakan budi pekerti hewan.

Perbuatan-perbuatan angkara murka seperti memukul, membunuh, dan bermusuhan adalah budi pekerti bintang buas. Perbuatan-perbuatan nafsu setan seperti tipu daya, khianat, korupsi dan sebagainya adalah budi pekerti setan. Dan perbuatan-perbuatan berbudi yang berupa kasih sayang, pengertian dan kebajikan, adalah pekerti malaikat (hlm. 83).

Kita sebagai manusia harus mengerti dan memahami bahwa di antara ketiganya yang mana yang aksidental dan yang esensial. Tanpa menyingkap rahasia itu, tentu saja sulit bagi kita menemukan kebahagiaan sejati itu. Semua

Pentingnya memahami antara ketiganya karena kita hidup dalam konteks kehidupan masyarakat plural. Dalam catatan Siti Musdah Mulia, bahwa urutan penduduk Indonesia menempati urutan ke-4 di dunia setelah RRC, India, dan USA. Ditambah lagi dengan kondisi penduduk yang kian majemuk, terdiri dari sekitar 215 juta jiwa.

Baca Juga :  Hadis Keenam Kitab "Al-Mawaizh Al-'Ushfuriyah": Kemulian Hari Jumat

Keanekaragaman ini rentan dengan timbulnya konflik yang diakibatkan oleh disparitas individu ataupun kelompok. Konflik, baik kecil ataupun besar, tentu saja sangat merugikan bukan hanya bagi mereka yang berkonflik tetapi juga terhadap orang lain.

Terjadinya konflik itu karena mereka belum mengetahui tugas-tugas pokok manusia secara esensial. Agama sendiri mengajarkan pemeluknya pentingnya hidup damai dan saling menghormati antar sesama. Selain itu, Islam juga memiliki ajaran yang menekankan pada dua aspek sekaligus; aspek vertikal dan horizontal.

Aspek vertikal merupakan ajaran Islam yang berisi seperangkat ajaran kewajiban manusia kepada Allah, sementara aspek horizontal berisi seperangkat tuntunan yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan alam sekitar. Dalam realitasnya aspek-aspek demikian ini kurang mendapatkan perhatian.

Padahal, ciri utama seseorang mengenali Tuhan adalah bahwa ia memiliki kearifan dan kebijaksanaan. Ketika seseorang lupa caranya menjalin kemesraan dengan Tuhan, maka yang tampak darinya adalah karakter hewan dan karakter binatang buas itu tadi. Kebahagiaan binatang buas, menurut Al-Ghazali, terletak pada penghantaman dan terkaman, sedang kebahagiaan setan pada tipu daya, kejahatan, dan pengelabuan (hlm. 39).

Menurutnya, kelakuan mereka yang mirip dengan kelakuan di atas ini pada dasarnya belum bisa dikatakan mengenal Tuhan, karena nama-nama Tuhan belum sepenuhnya termanifestasi dalam dirinya, dan belum bisa menjadi asisten Tuhan menyebarkan kebaikan dan perdamaian di muka bumi.

Menariknya dari buku ini, pertama adalah catatan atau khasyiahnya. Untuk memperoleh manfaat yang lebih besar sengaja dalam buku ini dimuatkan catatan, komentar, dan keterangan beberapa ulama, antara lain adalah dari Universitas Al-Azhar Kairo, yang pernah membahas risalah kecil Imam Al-Ghazali ini.

Kedua, adalah bahwa penulis berusaha memberikan jalan terhadap pembaca dalam mengintegrasikan perkembangan intelektual (akal dan panca indera) dan spiritual dalam memahami dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Pentingnya mengintegrasikan perkembangan intelektual dan spiritual untuk melahirkan manusia yang berkarakter dan berbudi pekerti yang luhur.

Baca Juga :  Tahafut al-Falasifah: Kitab al-Ghazali yang Melemahkan Filsafat

Untuk melahirkan manusia yang berkarakter yaitu dengan menjaga dan atau menjauhkan hati dari perilaku hina (radzail), sekaligus mengisinya dengan perilaku mulia (fadhail). Menjaga hati itu penting sekali, dan itu adalah organ manusia yang amat penting fungsinya.

Menurut Al-Ghazali, tidak ada sesuatu kenikmatan yang lebih besar daripada Allah. Kenikmatan hati terutama ialah makrifatullah. Karena untuk itulah hati diciptakan (hlm. 119). Walkahu a’lam.

Judul Buku: Proses Kebahagiaan, Mengaji Kimiya’us Sa’adah Imam Ghazali

Penulis: Imam Ghazali

Penerjemah: K. H. A. Musthofa Bisri

Penerbit: Qaf Jakarta

Cetakan: I Agustus 2020

Tebal: 146

ISBN: 978-602-5547-56-0

Peresensi: Ashimuddin Musa

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here