Mengoreksi Hadis-Hadis yang Bermasalah di Masyarakat

1
957

BincangSyariah.com- Antusias umat muslim di Indonesia terhadap ajaran agama islam saat ini begitu menggelora. Banyak dijumpai dari berbagai pengajian yang dikemas dalam bermacam-macam metode, turut meramaikan dakwah mengenai islam. Momen ini bisa dilihat di sekitar kita, seperti pengajian yang diadakan di kampung dan kota, pengajian di stasiun televisi, hingga pengajian online yang diadakan banyak oknum.

Seperti halnya pengajian-pengajian yang ada, biasanya terdapat sesi tanya-jawab yang disediakan untuk para jamaah. Disini adalah waktu yang tepat bagi pendengar untuk mengungkapkan keresahannya mengenai masalah tertentu. Tak ayal, berbagai pertanyaan yang dilayangkan biasanya adalah seputar dalil-dalil mengenai problem yang dialami para jamaah. Kurang lebih dalam pertanyaan tersebut, jamaah menyelipkan kalimat seperti ini,

Apakah diatur dalam islam?”;

Bagaimana islam melihat ini?”;

Adakah dalil tentang persoalan ini?”;

Bagaimanakah status dalil ini?”.

Inilah yang sekiranya menjadi corak sebagian besar pembahasan dalam buku yang bertajuk Hadis-Hadis Bermasalah karya Prof. K.H. Ali Mustafa Ya’qub (1952-2016). Buku ini memuat pelbagai persoalan yang menggema di masyarakat muslim Indonesia mengenai dalil (hadis) yang banyak ditanyakan jamaah. Pembahasan dalam buku ini dirangkum dengan metode cerita (qishash) dan dialog (hiwar) dengan bahasa yang santai dan mudah dipahami. Bahkan Kiai Ali sering memberikan pernyataan-pernyataan jenaka dalam uraiannya.

Pendiri Ponpes Luhur Ilmu Hadis Darussunnah di Ciputat-Tangerang ini, mencoba meluruskan pemahaman-pemahaman terhadap masyakarat terhadap hadis-hadis tertentu. Persoalan yang banyak dikaji adalah seputar hadis-hadis yang masyhur di masyarakat, namun mempunyai kualitas yang dipermasalahkan dalam kaidah ilmiah ‘ulum al hadis.

Seperti halnya diatas, persoalan-persoalan ini muncul dari berbagai momen. Seperti pertanyaan jamaah dalam suatu pengajian, respon Kiai Ali terhadap suatu peristiwa yang terjadi di masyarakat, hingga tanggapan Kiai Ali terhadap jawaban seorang da’i (Ustadz, Khotib, dll) yang menyampaikan hadis kontroversial kepada para jamaah.

Baca Juga :  Khazanah Astronomi Islam Ulama Nusantara

Hadis-hadis yang termuat dalam buku ini sebanyak 30 dalam 33 cakupan bahasan. Dari 30 tersebut, yang dinyatakan palsu atau semi palsu hanya 26. Jumlah ini terkesan sangat sedikit dibandingkan dengan hadis-hadis yang shahih. Namun tetap saja, Kiai Ali menilai bahaya juga apabila hadis yang bermasalah ini masih lekat di benar masyarakat Indonesia.

Kiai Ali juga menguraikan pembahasannya dengan penelitian sanad dan matan secara sederhana yang tetap berdasar pada argumentasi para ‘ulama ahli Hadis. Tak jarang juga Beliau mengungkap makna linguistik serta kritik terhadap hadis yang sedang dibahas. Dari penelaahan ini, Kiai Ali menarik benang merah dari pembahasannya, menjadi sebuah produk pemahaman yang bisa dikonsumsi masyarakat yang salah memahami sebuah dalil.

Selain itu, Guru Besar Ilmu Hadis IIQ Jakarta ini, juga melihat terkadang masyarakat terkecoh dan keliru dalam menetapkan dalil untuk dijadikan dasar beribadah. Misalnya pada kasus shalat tarawih (hlm. 136-159), umat muslim Indonesia banyak yang terpaku pada jumlah rakaat mana yang benar, 8 atau 20?. Padahal menurut Kiai Ali, hadis-hadis yang berbicara mengenai angka shalat tarawih berkualitas lemah sekali. Sedangkan dalil shalat tarawih (Qiyam Ramadhan) yang seharusnya dipakai adalah yang tidak dibatasi jumlah rakaatnya dengan kualitas shahih.

Berbicara mengenai hubungan kausalitas antara hadis yang dianggap bermasalah dengan masyarakat sangatlah erat. Karena Kiai Ali melihat hadis-hadis kontroversial ini banyak dijadikan dasar (hujjah) dalam ibadah dan pengaruh keagamaan mereka. Tentu ini adalah sebuah kebohongan yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang merupakan perbuatan dosa. Sebagaimana bunyi hadis berikut ini,

لا تكذبوا علي، فإنه من كذب علي فليلج النار

Artinya:

“Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk neraka” (H.R. Bukhari no. 106)

Baca Juga :  Resep Memperoleh Mutiara Kebaikan

Kiai Ali Mustafa Ya’qub mencoba mem-purifikasi kembali pemahaman umat muslim di Indonesia terhadap hadis nabawi. Karena Beliau melihat penting untuk meluruskan perkara-perkara tertentu yang dijadikan umat sebagai pedoman, ternyata tidak tepat, sebab tidak mempunyai kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Seyogyanya buku ini dapat dibaca oleh masyarakat luas, sehingga dapat memberikan angin segar bagi khazanah keilmuan hadis bagi pengalaman keagamaan pribadi masing-masing muslim.

Wallahu A’lam bi as Showaab

 

Judul               : Hadis-Hadis Bermasalah

Penulis            : Prof. K.H. Ali Mustafa Ya’qub

Penerbit           : PT. Pustaka Firdaus-Jakarta

Cetakan           : Keenam, tahun 2008

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here