Mengenal Ayang Utriza-Buku Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer (Bag 3)

0
124

BincangSyariah.Com – Dua pertanyaan lainnya mengenai agensi, Riza mengenai asal usul nilai moderatisme yang diserapnya, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pilihan peran sebagai intelektual sekaligus sebagai dai? Mengenai persoalan pertama, jawabannya ada pada setidaknya dua pengalaman: pengalaman menyaksikan ayahnya merubah pilihan dari pekerja swasta menjadi pendakwah, dan kedua dari renungan hidup dan pengamatan kenyataan hidup di sekitarnya.

Pertama, keputusan ayahnya berpindah profesi dari pekerja menjadi pendakwah berpengaruh besar kepada Riza, dan dia menjadikan peran ayahnya sebagai “role model.” Hal ini dapat dimengerti, semua kita anak manusia mengambil pelajaran pertamanya dari madrasah ula, sekolah pertama, yaitu ibu dan ayah. Miskin harta tapi kaya hati itulah pelajaran dari madrasah pertamanya, dan pelajaran ini cukup terinternalisasi dalam diri Riza. Ayang, panggilan yang lebih akrab, tumbuh besar dan berkembang dengan kesadaran kemanusian yang empati dan peduli.

Pilihan untuk memupuk kesadaran kemanusiaan empatiknya dia jatuhkan pendidikan, tetapi dengan bentuk aktualisasi yang tidak lepas dari “uswah hasanah” Ayah-nya di masa kecilnya yaitu dakwah dan memperhatikan masyarakat sekitar. Sejauh saya mencermati gairah-nya dalam berdakwah, ia mulai dikenal masyarakat sejak ia menempuh pendidikan di Perancis. Tentu, kebiasaan berdakwah bisa saja dapat dirunut lebih awal lagi baik ketika menjadi mahasiswa di IAIN/UIN Jakarta atau sebelumnya, saat di Pesantren Ngabar.

Saya termasuk yang diundang dan menjadi peserta (pasif) di pengajian virtualnya. Social engagement (terlibat aktif di masyarakat) Riza sebagai pendakwah berlanjut sejak dia bergabung mengabdi dengan salah satu organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia: Nahdatul Ulama (NU). Saat ini bahkan dia dipercaya sebagai Wakil Ketua Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU.

Selain Pendidikan sosial keagamaan melalui dakwah, Riza juga aktif dalam Pendidikan usia dini. Pada tahun 2013 dia mendapat amanah menjadi kepala sekolah salah satu SD swasta di Bekasi. Selain pelajaran SD pada umumnya, dia juga perkenalkan Bahasa Perancis kepada anak-anak. Kalau dirunut sepertinya pilihan untuk mengajar mereka tidak terlepas dari aktivitas sosial kemasyarakatannya yang sudah dia geluti lebih dari 20 tahun. Saya menangkap hal ini juga karena ada dua jalan menuju kaya: kaya hati dan kaya harta. Strategi Riza adalah kaya hati dan kaya harta akan mengikuti dan lebih siap dihadapi. Kaya harta tapi tidak kaya hati lebih lemah.

Baca Juga :  Mengenal Ayang Utriza-Buku Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer (Bag 2)

Masih dalam kerangka pendidikan, Riza juga tentunya tidak menyia-nyiakan dan meninggalkan capaian tertinggi akademiknya hanya berfungsi secara semitiotika kosong saja. Hal ini dilihat dari komitmennya untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan akademiknya, seperti mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah, menjadi ketua peyunting di Studia Islamika, journal kebanggan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta karena terindeks Sopus dengan Q-2, menjadi peneliti tamu di pusat-pusat studi terkenal, dan aktif dalam penelitian dan penulisan, termasuk untuk penerbitan buku ini.

Apa yang dilakukan Riza adalah pilihan dan hidup adalah pilihan juga (life, at last, is about choice too). Setiap pilihan adalah kemulian, yang masalah adalah yang susah membuat pilihan. Hanya saja setiap pilihan juga ada kemulian dan kelapangan, dan pada saat yang sama ada akibat logis. Riza adalah seseorang yang memenuhi syarat intelektual secara sangat memadai.

Secara normatif, bagusnya, dia mengambil karir di dunia akademik, karena modal kemampuan akan bersinergi dengan kesempatan. Sinergi tersebut membuka jalan utuk mengembangkan karir secara gilang gemilang dan berjaya. Pilihan dia tidak hanya itu, namun juga terlibat aktif di tengah masyarakat melalui keterlibatannya dalam kegiatan dakwah dan pendidikan dasar. Sekilas Riza berhasil mengemban keduanya dan saya yakin dia meyakini begitu. Sedikit pertanyaan nakal dengan maksud sebagai berbagi pendapat saja: pastinya kapasitas akademik akan membantu kegiatan dakwah seseorang, tapi sebaliknya apakah dakwah akan membantu kegiatan akademiknya?  Atau kapasitas akademik tidak mempunyai hubungan timbal-balik (resiprokal)?, but it certainly affects time management.

Pada bagian akhir, saya ingin mendiskusikan contoh bagaimana penulis mengimplementasikan sikap jalan tengah dalam buku Islam Moderat. Dalam buku ini, dia mendiskusikan moderatisme dalam beberapa isu kontemporer melalui perbandingan warisan Islam dan Barat yang dianggap berhubungan, mulai dari diskusi piagam Madinah dan masyarakat madani dengan demokrasi dan HAM, sejarah toleransi dalam masyarakat Islam dengan pluralisme, kebebasan beragama, non-muslim, poligami, sampai mendiskusikan konsepsi jihad. Seperti disinggung di atas, penulis dengan cerdik menyajikan tema-tema tersebut secara selektif, tetapi historis.

Baca Juga :  Fakhruddin ar-Razy dan Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah; Ulasan Mengenai Teologi

Dengan cara seperti ini penulis berhasil menghadirkan suatu narasi “ideal” yang mungkin sangat dinanti oleh banyak pembaca baik Muslim atau non-Muslim yang merindukan tawaran gagasan yang menyejukkan tapi progressif. Misalnya, diskusi tentang poligami (Bab 6 dan Bab 7) penulis mengambil strategi menghadirkan sikap jelas dan tegas tentang poligami, yaitu haram.

Kesimpulan poligami haram adalah jawaban yang sangat ditunggu oleh kalangan feminis, pemerhati gender, dan “ulama perempuan” yang peduli akan nasib perempuan dan anak-anak. Keberpihakan penulis ke arus yang sedang mengalir deras dan masuk ke dalam ini (penetratif) dibangun di atas argumentasi rasional dan historis dengan sedikit “pemaksaan” makna di sana sini. Pilihan makna poligami haram adalah relevan dengan salah satu kekuatan masyarakat modern, yang menjadi bagian dari bangunan peradaban kontemporer yang menjunjung keadilan dan non-diskriminasi.

Dengan sikap tersebut kemudian satu sisi mencari jangkar wacana agensi seperti Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, Najman Yasin, Mahmoud Muhamad Thoha, dan ke pemikiran seperti Maqasid Syariah, ataupun kelembagaan, seperti praktek negara yang mengharamkan poligami (Tunisia). Argumentasinya mengerucut pada rasionalisasi QS. Al-Nisa/4: 3, QS. Al-Nisa/4: 129, dan QS. Al-Ahzab/33: 50, dan praktik sosial yang terjadi dalam sejarah. Dua ayat pertama, dijadikan dasar untuk kesimpulan dan rekomendasi monogami dan menggugurkan kebolehan poligami karena ketidakmungkinan berlaku adil atau sangat sulit berlaku adil.

Berlaku adil lebih dititikberatkan antar istri pertama dengan istri lainnya, dan tidak pada antar anak yang dimiliki para istri. Hal ini mungkin karena isyarat ayat yang kuat di QS. Al-Nisa/4: 129. Dan QS. Al-Ahzab/33: 50 dijadikan dasar praktek poligami sebagai kekhususan Nabi Muhammad melakukannya, yaitu 24 kali pernikahan. Pendapat penulis jelas dan tegas, tapi menyimpan ruang untuk kontroversi.

Hal ini karena redaksi ayat yang menyebut kebolehan poligami dan praktek poligami dalam sejarah khususnya sejarah awal Islam. Ruang kosong itu kemudian di isi oleh Tiar Anwar Bachtiar. Kalau diskusi ini diandaikan ditanggapi oleh lebih banyak lagi pembaca dari latar belakang yang beragam, niscaya akan menerima perhatian yang beragam pula.

Baca Juga :  Kemuliaan Wanita di Mata Islam

Salah satu pendapat yang menarik diangkat dalam diskusi poligami ini adalah argumentasi yang ditawarkan Muhammad Syahrur. Dalam bukunya, Nahwa Ushul al-Jadidah li al-Fiqh al-Islami: Fiqh Mar’ah, Syahrur berbeda dari Abduh yang membolehkan poligami hanya pada level darurat saja, membolehkan poligami dengan syarat yaitu calon istri kedua harus janda yang mempunyai anak, dan syarat kedua adalah memperlakukan adil antar anak/anak-anak istri pertama dengan anak/anak-anak istri kedua, ketiga, dan keempat. (Muhammad Syahrur, Nahwa Ushul al-Jadidah li al-Fiqh al-Islami: Fiqh Mar’ah, Damaskus: Dar al-Ahali, 2000, h. 301-4) Kenapa Syahrur mempersyaratkan demikian, karena pembahasan mengenai poligami jangan dilepaskan dari misi kemanusiaan Islam yaitu menolong dan mengangkat derajat manusia ke arah yang lebih baik.

Yang menarik dari diskusi poligami kontemporer adalah pembahasan poligami tidak sebatas mendiskusikan kebolehan poligami, namun bagaimana Muslim dalam mengarungi rumah tangga juga dapat mengusung nilai-nilai luhur kemanusiaan yang saling menghargai, menghormati dan juga mengangkat derajat kemanusiaan. Penulis buku yang sedang saya bahas memilih tidak mengambil resiko berpoligami yang bisa terjatuh pada penistaan perempuan dan anak-anak dalam praktek poligami, lainnya melihat kebolehan sebagai jalan Tuhan. Di luar yang didiskusikan dalam buku, ada pendapat yang lebih hati-hati, membolehkan poligami namun bersyarat yang diambil dari konteks ayat, untuk melihat kejadian awal dan untuk menjamin penjagaan penghormatan kemanusiaan.

Secara umum, buku yang dibahas ini berbobot ilmiah dengan penyajian yang argumentatif dan historis dan layak untuk dibaca oleh masyarakat umum maupun para ahli kajian Islam. Selamat membaca karya dari intelektual muda yang potensial! Wallahu a’lam bishawab.

——————–

Tulisan ini merupakan tulisan berseri berjudul asli Agensi dan Diskursus Pemikiran Keagamaan di Indonesia: Memahami “Ayang Utriza Yakin” Melalui Bukunya “Islam Moderat dan Isu-Isu Kontemporer”. Judul tulisan diubah menyesuaikan standardisasi yang berlaku di media daring Bincang Syariah. Baca: Mengenal Ayang Utriza-Buku Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer (Bag 2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here