Mengenal Ayang Utriza-Buku Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer (Bag 2)

2
189

BincangSyariah.Com – Dilihat dari perjalanannya, sosok Riza adalah pribadi yang masih percaya dengan tradisi negerinya, dan berusaha menunjukkan relevansi kekuatan tradisi tersebut dengan modernitas dengan cara menunjukkan kecocokkan kedua kekuatan tersebut. Nilai dan sikap mental seperti ini merupakan salah satu fenomena yang cukup umum di negeri ini. Hanya saja keumuman fenomena tersebut menjadi bernuansa lain di tangannya karena dia memiliki kemampuan lain yang karakternya cukup berbeda dengan sifat alamiah (nature) dari budaya asli (cultural indigenous)-nya, yaitu penyerapan nilai-nilai modernitas melalui perkuliahan (by training), khususnya nilai modernitas di Prancis. (Baca: Mengenal Ayang Utriza Yakin; Intelektual Muslim Indonesia Jebolan Prancis)

Kekuatan tradisi yang menginternalisasi dalam dirinya adalah nilai-nilai wasatiyyah atau moderasi. Sebenarnya, norma wasatiyyah atau moderasi adalah norma dominan yang tidak lepas dari kontroversi. Nilai ini mengidealkan pencarian kebaikan dari semua sisi. Padahal dalam faktanya banyak realita yang struktur isinya seperti koin mata uang, dia adalah satu tapi memiliki dua sisi. Satu sisi dengan lainnya tidak bertemu, tetapi satu. Baik, ya baik, jahat ya jahat. Terhadap fakta yang kodrat (nature) dari realitanya seperti koin mata uang, sebenarnya kita akan sulit untuk menyikapinya secara moderasi, namun harus jelas.

Dalam tradisi ilmu pengetahuan, misalnya, tradisi “jelas dan pasti” (clear and cut) atau objektif menjadi tumpuan untuk mencari kebenaran, karena kalau ilmuan tidak menjaga sikap objektifnya, dikhawatirkan ilmu yang dihasilkannya tidak dapat dipercaya (reliable). Hal ini tentunya saya tidak sedang mengatakan semua keilmuan harus ‘jelas dan pasti’, karena objektifitas itu sendiri misteri di mana tidak sedikit keilmuan yang sejati faktanya bersumber dari jalan subjektivitas, misalnya dalam disiplin keilmuan humaniora.

Disiplin keilmuan humainora mengukur keobjektifan dari jalur subjektivitas melalui pencarian verstehen (pemahaman), denotasi (yang tersurat) dan konotasi (yang tersirat). Disiplin keilmuan semiotika dan hermeneutika, misalnya menggunakan metodologi konstruksi keilmuan seperti itu.

Oleh karenanya, mesti ditanyakan ulang, apa sebenarnya yang dimaksud dengan  kekuatan nilai moderasi di sini? Darimana Riza menyerap nilai tersebut? Dan kenapa pilihannya mengambil nilai tersebut ditengah dia sebenarnya ditempa sampai level puncak dalam tradisi positivisme dan verstehen yang menjunjung objektivisme keilmuan?

Dalam bukunya yang dibedah ini, Riza tidak menyediakan penjelasan yang memadai. Dia hanya mengatakan, “Buku ini diberi judul Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer karena artikel-ertikel yang terdapat di buku ini menggambarkan pandangan penulis yang berada di tengah-tengah, wasatiyyah, di dalam melihat persoalan-persoalan tersebut. Oleh karena itu, buku ini diberikan judul Islam Moderat.” (Ayang Utriza Yakin: Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer: Demokrasi, Pluralisme, Kebebasan Beragama, Non-Muslim, Poligami, dan Jihad, Kencana)

Dilihat dari kutipan ini, dia hanya mengartikan moderasi sebatas pengambilan posisi tengah antara tradisi yang ada dalam Islam Indonesia dengan kekuatan modernitas. Pengambilan posisi tengah ini dapat diartikan sebagai upaya dia untuk mengambil apa-apa yang dianggap positif, berguna atau bermanfaat, atau baik dari tradisi Timur dan Barat. Misalnya dia menunjukkan sikap moderasinya melalui diskusi persoalan bernegara, bermasyarakat, dan berumah tangga, dan interaksi sosial antar individu, grup dan negara dengan cara menunjukkan yang baik-baik dari tradisi di Indonesia, Islam secara umum dan khusus di Indonesia, dan tradisi di dunia Barat khususnya periode modern.

Baca Juga :  Filsafat Ar-Razi dalam Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah; Ulasan mengenai Substansi dan Aksiden

Dengan cara demikian dia berhasil melakukan “jalan pintas” dalam melakukan penggarapan wacana-wacana yang sebenarnya pelik dan rumit, secara sederhana tapi gamblang. Ini tentunya kekuatan dan kita sekalian bisa belajar banyak dari buku ini. Kekuatan tulisan-tulisannya termasuk tulisan dari buku ini terlihat dari diterimanya proposal yang dia ajukan baik untuk kepentingan meneruskan belajar S2 dan S3 di luar negeri, maupun untuk keperluan penelitian di mana usulannya diterima di pusat-pusat studi ternama dunia.

Selain keterampilan penguasaan beberapa bahasa asing, Riza berhasil menangkap “nalar” dunia akademik Barat, yaitu menjelaskan sesuatu sejauh kemampuan manusia secara alamiah dapat berbuat, berpikir dan berimajinasi, dengan penyajian yang mumpuni dan jelas. Cara penyajian narasi seperti ini hanya dapat dilakukan kalau semua data dan cara penyajiannya ada dalam bingkai ruang dan waktu atau ada dalam sejarah (traceable).

Selain kemampuan bahasa Arab dan Inggris seperti dimiliki oleh para sarjana kajian Islam pada umumnya, kemampuan bahasa Prancisnya menolong dia untuk mengakses sumber-sumber sejarah yang tercatat dalam Bahasa Prancis. Hal ini memberikan nuansa tersendiri dalam tulisannya. Tentunya pengaruh kemampuan bahasa Perancisnya tidak hanya mempengaruhi akses data sejarah saja tapi juga nalar akademiknya, yaitu dalam pandangan keilmuan sejarahnya.

Namun apabila kita coba resapi lebih dalam, apa metode analisis yang digunakan Riza sudah memadai atau tidak? Bagaimana sebaiknya isu yang digarap dia bangun sehingga memberi gambaran yang lebih dekat dengan apa yang sesungguhnya terjadi dan dengan arah yang sesungguhnya dituju? Untuk menguji poin ini, secara sederhana bisa ditunjukkan pada sisi kebalikan dari nilai-nilai positif dan baik yang disampaikannya? Bagaimana sesungguhnya sejarah kekerasan di Indonesia? Seberapa besar ummat Islam menyumbang sejarah tersebut? Apa ideologi atau akar nilai yang menopang kekerasan tersebut? Bagaimana hubungan antara tradisi kekerasan dan kedamaian terjadi, apa hubungan tersebut seperti minyak dan air atau ada arah menuju satu titik pertemuan (konvergensi)? Unsur air jeruk/lemon apa yang membuat dapat terjadinya konvergensi tersebut? Bagaimana pengaruhnya? Apakah sikap moderasi berfungsi seperti air jeruk yang dapat melebur unsur minyak dan air? Dan seterunya. Satu hal yang membuat kita risau adalah, faktanya Indonesia, termasuk Muslim Indonesia mempunyai tradisi nilai-nilai kekerasan yang cukup mengkhawatirkan.

Baca Juga :  Rekomendasi Prof. Quraish Shihab Untuk Mewujudkan Moderasi Beragama

Kalau disebutkan bahwa Islam datang ke Indonesia datang secara damai dan membawa pesan-pesan perdamaian dan ini dikonstruksi sebagai warisan nilai luhur bangsa dan Islam Indonesia? Apakah leluhur kita tidak memiliki kekerasan? Apa tidak ada impor kekerasan ke dalam negeri kita? Lebih khusus lagi, apakah Islam yang masuk ke Indonesia menyumbang juga nilai dan budaya kekerasan di negeri ini?

Sejarah mencatat, budaya kekerasan mulai muncul ketika terjadi pertentangan antara kaum sufi dan fikih, tumbalnya adalah dibunuhnya Syekh Siti Jenar dan Perang Paderi di akhir abad 19. Sejak itu, budaya kekerasan di Indonesia juga mendapat siraman dari kalangan modernis. Semboyan kembali kepada Alquran dan Hadis, kalangan modernis sampai batas tertentu juga menyemai sikap fundamentalis beragama. Terakhir kaum Salafi menyemai kembali nilai-nilai tersebut. Dengan kata lain budaya kekerasan pun seperti budaya moderasi dan damai selalu mendapat siraman dan pupukkan, sehingga kedua kekuatan tradisi tersebut pada faktanya selalu berada dalam kontestasi.

Dengan demikian dalam menjelaskan nilai moderasi diperlukan juga penjelasan mengenai hubungannya dengan budaya nilai kekerasan. Kearifan sesungguhnya terletak tidak pada memperlihatkan tradisi nilai moderasi secara sepihak dan esensial, tapi pada proses dan hasil dari kontestasi keduanya. Hanya dengan memperlihatkan kontestasinya kekuatan sesungguhnya dari nilai-nilai moderasi di tanah air kita dapat mengukur kekuatan sebenarnya dan dapat mengukur cara memupuknya dan memanfaatkannya untuk melawan tradisi kekerasan dengan cara membongkar akar-akar kekerasan itu sendiri melalui gerakan deradikalisasi filosofis, ideologis, dan praktis.

Pengambilan makna moderasi sebenarnya sama dengan pengertian khayr al-umūr awsatuha (sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya). Kata bijak yang berasal dari hadis ini  ini di dalam sejarah diterjemahkan ke dalam gerakan pemikiran dan juga aktivisme yang membentuk salah satu karakter bangunan keislaman secara keseluruhan baik fikih, teologi maupun pemikiran filosofis dan sufistik. Bangunan keislaman tersebut dikenal dengan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Figur-figur besar yang menopang bangunan ini adalah Imam Syafi’i (w. 204 H.) dalam bidang fikih, Imam Asy’ari (w. 330 H.) dalam bidang teologi, dan Imam al-Ghazali (w. 505 H.) dalam bidang pemikiran dan filsafat.

Menurut Nasr Hamid Abu Zaid, mereka adalah pendiri moderatisme dalam Islam. (Nashr Hamid Abu Zaid, Imam Syafi’i: Moderatisme, Eklektisme, Arabisme, LKiS) Imam Syafi’i memaknai sikap moderasinya dengan sikap hati-hati dalam ijtihad hukumnya, membangun ideologi moderat di bidang fikih dan syariah, Imam Asy’ari mengembangkan teologi tengah antara sikap affirmatif dan menerima, membangun ideologi yang sama di bidang akidah, serta Imam al-Ghazali mengembangkan sikap berpikir “yang aman” untuk memagari akal dengan wahyu dengan membangun pemikiran dan filsafat keislaman berdasarkan fikih dan syariah yang dibangun Imam Syafi’i dan akidah yang dirumuskan Asy’ari. ((Nashr Hamid Abu Zaid, Imam Syafi’i: Moderatisme, Eklektisme, Arabisme, hlm 3).

Baca Juga :  Hadis Kedua Kitab “Al-Mawa'idh Al-'Ushfuriyah”; Ahli Maksiat yang Dicintai Allah

Melalui pendekatan al-ta‘āmul al-naqdī (pertemanan kritis), (M. Jadul Maula, dalam Imam Syafi’i: Moderatisme, Eklektisme, Arabisme, h. viii) Abu Zaid sejatinya ingin menunjukkan keniscayaan membaca ulang hubungan antara “keyakinan” dan “pemahaman,” praktek berbagai implikasi pemakaian hubungan keduanya telah berdampak besar dan berkaitan dengan problematika ummat Islam itu sendiri. Moderatisme dalam bacaan Abu Zaid digunakan sebagai model bacaan yang melihat adanya potensi “bahaya” kemunduran umat Islam dalam bentuk kebodohan, kemiskinan, kemarahan, kebencian, sikap masa bodoh (apatisme), diskriminasi, dan main hakim sendiri. Untuk keluar dari potensi bahaya tersebut dan yang bisa jadi sebagian dari potensinya sudah menjadi aktualita, Abu Zaid mencoba mengurai persoalan sesungguhnya dengan mengusulkan pertanyaan baru untuk memungkinkan pemahaman yang lebih baik, “Bagaimana seharusnya memperlakukan warisan intelektual (tradisi)? Dan “Bagaimana mungkin tradisi yang asalnya adalah “daya kritis”, kita perlakukan sekarang sebagai benda mati “yang antik”?” (M. Jadul Maula, dalam Imam Syafi’i: Moderatisme, Eklektisme, Arabisme, h. viii)

Dua pertanyaan hermeneutik tersebut menuntun Abu Zaid untuk mendudukkan perkembangan ajaran Islam sebagai perkembangan pemikiran atau wacana secara terbuka. Ideologi[1] moderatisme didudukkan terbuka untuk dikritik dan dirubah sesuai dengan perkembangan zaman. Persoalannya dalam pandangan Abu Zaid moderatisme terjebak dengan ideologi awal yang bisa jadi di awal perkembangannya bersifat kritis dan dinamis karena sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi dalam perkembangan sejarah menjadi ideologi tertutup.

Dalam bukunya Riza, atau Ayang Utriza Yakin, belum mendiskusikan bagaimana sikap dia dalam merespon potensi ketertutupan ideologi moderatisme. Dia langsung saja memaknai moderatisme sebagai sikap tengah yang menerima kebaikan tradisi Islam dan Barat. Hal ini menjadi ruang dan kesempatan bagi penulis buku ini untuk menyempurnakan buku dengan memberi pengantar teoritis di cetakan yang akan datang. Selain itu juga mungkin baik dipertimbangkan, tugas tersebut diserahkan kepada sarjana lain yang lebih memungkinkan untuk melakukan penjarakan dalam proses kontekstualisasi objektif dengan perkembangan wacana yang ada.

—————————

[1] Ideologi dapat dirumuskan sebagai “pandangan dunia yang memberikan kepada manusia norma norma benarsalah, pahala-siksa, boleh dilarang, dalam pengerriannyayalng sosiologis.” Maula, dalam Imam Syafi’I, h. viii.


Tulisan ini merupakan tulisan berseri berjudul asli Agensi dan Diskursus Pemikiran Keagamaan di Indonesia: Memahami “Ayang Utriza Yakin” Melalui Bukunya “Islam Moderat dan Isu-Isu Kontemporer”. Judul tulisan diubah menyesuaikan standardisasi yang berlaku di media daring Bincang Syariah. Baca: Mengenal Ayang Utriza-Buku Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer (Bag 3)

2 KOMENTAR

  1. […] Tulisan ini merupakan tulisan berseri berjudul asli Agensi dan Diskursus Pemikiran Keagamaan di Indonesia: Memahami “Ayang Utriza Yakin” Melalui Bukunya “Islam Moderat dan Isu-Isu Kontemporer”. Judul tulisan diubah menyesuaikan standardisasi yang berlaku di media daring Bincang Syariah. Baca: Mengenal Ayang Utriza-Buku Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer (Bag 2) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here