Mendaras Kitab “Pelajaran Ilmu Nahu” Karya Ulama Antik Betawi

2
1063

BincangSyariah.Com – Di dalam kitab Mukhtasor Jiddan, karya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, dijelaskan bahwa hukum mempelajari ilmu nahu dan ilmu bahasa Arab adalah wajib kifayah untuk suatu penduduk, dan wajib ain bagi mereka yang ingin mendalami ilmu tafsir dan hadis. Abuya KH. Abdurrahman Nawi dengan kitabnya, Pelajaran Ilmu Nahu (PIH), hadir untuk menjembatani mereka yang ingin mengkaji ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab). dan ilmu bahasa Arab secara umum.

Dengan terang Abuya menjelaskan dalam mukaddimahnya, bahwa tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk memudahkan orang-orang yang ingin mempelajari ilmu nahu, tetapi belum menguasai bahasa Arab. Abuya berharap kitabnya tersebut menjadi modal para pengkaji ilmu nahwu untuk mempelajari ilmu tersebut di kitab-kitab berbahasa Arab.

Seperti kitab-kitab karangan Abuya lainnya, kitab Pelajaran Ilmu Nahu ini dijelaskan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang ditulis dengan tulisan arab-melayu. Hal tersebut senada dengan apa yang Abuya harapkan dalam mukadimahnya, yaitu untuk memudahkan mereka yang ingin belajar ilmu nahu, namun belum menguasai bahasa Arab.

Dalam mukadimahnya, Abuya juga menyajikan riwayat-riwayat, kaul ulama serta syair-syair perihal pentingnya mempelajari ilmu nahu dan bahasa Arab. Di antaranya adalah: (arti mengikuti terjemahan dalam kitab aslinya).

تعلموا العربية فإنها تزيد في العقل والمروءة

“Pelajarilah ilmu bahasa Arab, maka ia dapat menambah kecerdasan akal dan keberanian.”

النحو يصلح من لسان الألكن # والمرء تكرمه إذا لم يلحن

“Ilmu nahu itu dapat membetulkan lidah yang gagap # dan seorang itu kamu muliakan apabila ia tidak cedera (salah bacaan).”

والنحو أولى أولا أن يعلما # إذ الكلام دونه لن يفهما

“Ilmu nahu itu ilmu yang lebih utama (untuk) pertama kali dipelajari # Karena kalam tanpa ilmu nahu itu tidak dapat dipahami.”

كلام بلا نحو طعام بلا ملح # ونحو بلا شعر ظلام بلا صبح

Baca Juga :  Hadis Ketiga Kitab “Al-Mawaidh Al-'Ushfuriyah”; Allah Malu Siksa Orang Tua Renta karena Kemuliannya

“Kalam tanpa ilmu nahu itu sama halnya dengan makanan tanpa garam # dan ilmu nahu tanpa syair itu sama halnya dengan gelap tanpa terang.”

Di dalam kitab ini terdapat dua belas pembahasan dasar-dasar ilmu nahu. Kedua belas pembahasan itu adalah sebagai berikut:

1. Jumlah Mufidah/Kalam

2. Pembagian Jumlah/Kalam

3. Pengertian Isim

4. Macam-macam Fiil

5. Pengertian Huruf

6. Pembagian Isim

7. Pengertian dan Pembagian Jamak

8. Pengertian Isim yang lima (al-Asma al-khamsah)

9. Isim Nakirah dan Makrifah

10. Isim yang Akhirnya Terdapat Alif dan Lam

11. Kata Muzakkar dan Muannas

Masing-masing dari setiap bab, Abuya memberikan sub-bab secara runtut. Mulai dari pengertian, contoh, penjelasan, kesimpulan, kaidah, latihan-latihan, hingga kosa-kata yang mesti dihafalkan oleh pembaca.

Dalam bagian kaidah, Abuya mengutipnya dari kitab an-Nahwu al-Wadhih, karangan Syekh Ali Al-Jarim dan Syekh Mustafa Amin. Selain itu dari setiap contoh yang disajikan, Abuya selalu menyertakan artinya. Jadi selain mendapatkan pelajaran mengenai ilmu nahu, para pembaca kitab Pelajaran Ilmu Nahwu ini juga mendapatkan kosakata-kosakata baru bahasa Arab.

Meski mengambil contoh dari kitab an-Nahwu al-Wadlih, metode penyajian materi ilmu nahu yang digunakan Abuya dalam kitabnya itu berbeda. Bila kitab an-Nahwu al-Wadlih menggunakan metode induktif /at-Thariqah al-Istinbatiyah, yaitu suatu penyajian materi yang dimulai dengan memberikan contoh-contoh dahulu lalu diikuti dengan kaidah serta pengertiannya.

Sedangkan Abuya di dalam kitab Pelajaran Ilmu Nahu-nya menggunakan metode deduktif /at-Thariqah al-Qiyasiyah, yaitu suatu metode penyajian materi yang dimulai dengan memberikan suatu pengertian materi yang akan diajarkan, lalu diikuti dengan pemberian contoh-contoh.

Kitab ini sangat cocok dipelajari oleh para pemula. Baik dari pengertian, contoh, hingga penjelasan, semua dijelaskan dan diterangkan dengan sangat sederhana oleh Abuya. Di pondok pesantren Al-Awwabin, kitab ini dipelajari oleh para santri tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga kelas satu Madrasah Tsanawiyah. Berbekal kitab sederhana ini, para santri mampu memahami materi-materi ilmu nahwu pada kitab-kitab berbahasa Arab di jenjang yang lebih tinggi.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here