Membaca Buku “Tafsir Al-Quran di Medsos”

0
110

BincangSyariah.Com – Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D. atau yang akrab dipanggil Gus Nadir, aktif mengamati fenomena para penafsir ayat Al-Quran yang hanya mengandalkan terjemahan dan hanya mengambil rujukan melalui media sosial ketimbang kitab tafsir klasik maupun modern. Amatan dan kegelisahannya tersebut kemudian dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Tafsir Al-Quran di Medsos.”

Banyak di antaranya salah kaprah lantaran tidak memahami sejarah di balik turunnya ayat-ayat tersebut. Maka, melalui buku ini, Gus Nadir mencoba mengajak umat Islam untuk betul-betul memahami konteks agar semakin menghayati dan memahami kitab suci Al-Qur’an.

Dalam tulisan-tulisannya di buku ini, Gus Nadir juga memandu pembacanya untuk memahami metode-metode tafsir. Selain itu, ia juga mengenalkan para penafsir Al-Quran di sepanjang peradaban Islam di masa silam. Hal ini dilakukan untuk menjembatani dan mengimbangi konten-konten yang bersileweran tentang penafsiran Al-Qur’an yang kerap ditulis asal-asalan.

Nadirsyah Hosen sendiri adalah putra bungsu dari Prof. Ibrahim Hosen, seorang ulama besar, ahli fiqih dan fatwa sekaligus pendiri dan rektor pertama Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Gus Nadir sendiri menempuh pendidikannya dalam dua bidang berbeda yakni Ilmu Syari’ah dan Ilmu Hukum sejak jenjang S1, lalu S2, hingga S3.

Dari sang abah, Gus Nadir mendapat sanad keilmuan melalui Pesantren Buntet Cirebon. Ia pernah berguru pada beberapa ulama besar seperti K.H. Makki Rifa’i dan K.H. Ali Mustafa Yaqub. Dari keduanya sanad keilmuan Gus Nadir menyambung pada  K.H. Hasyim Asyari, sebab kedua guru Gus Nadir tersebut sama-sama pernah belajar kepada yang pernah belajar langsung kepada Hadratus Syaikh, gelar yang disematkan kepada K.H. hasyim Asy’ari.

Kenyataan latar belakang pendidikan dari “dua tradisi” ini menjadikan Gus Nadir berada dalam posisi yang unik. Ia belajar tentang kajian klasik modern, timur barat, hukum islam-hukum dan umum. Bidang-bidang tersebut dikuasainya dengan baik.

Baca Juga :  Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i soal Panah Fitnah kepada Ulama

Kini, ia menjabat sebagai guru besar di Monash Law School Australia, salah satu universitas hukum terbaik di dunia. Selain itu, Gus Nadir juga menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama di Australia dan Selandia Baru.

Generasi milenal tak bisa dipisahkan dari gadget. Gadget membuat generasi milenial berselancar menjelajahi dunia secara virtual dan mencari informasi hanya dengan sekali klik. Keberadaan banyaknya aplikasi dan media sosial melengkapi segala kemudahan itu.

Sayangnya, banyak orang yang menggunakan media sosial dan internet untuk belajar agama. Jika dulu orang berangkat ke majelis-majelis taklim untuk belajar, kini orang-orang hanya tinggal klik seseorang bisa menimba ilmu agama dari mana saja dan kapan saja sembari melakukan apa pun.

Aplikasi seperti Facebook, Twitter, Whatsapp kini digunakan sebagai cara baru untuk berdakwah. Tapi, semua kemudahan tersebut ada efek negatifnya. Umat Islam kesulitan membedakan mana ustadz dengan keilmuan mumpuni dan ustadz mana yang karbitan. Keberadaan media sosial memunculkan banyak ustaz-ustaz dadakan.

Akibatnya, banyak sekali media sosial yang dipakai untuk menyebarkan kajian keislaman yang kurang ramah dan isinya hanya sekadar amarah yang dituliskan. Lebih parah lagi, banyak orang yang akhirnya tidak bisa membedakan mana yang sebenar-benar kajian atau mana yang hanya hoaks semata.

Gus Nadir merupakan salah satu dari sedikit orang alim yang mau “turun gunung” untuk aktif menulis di media sosial. Buku ini adalah usahanya untuk menjawab berbagai pertanyaan pengguna media sosial dan menjadi referensi yang bisa dipercaya. Bahasa dalam tulisannya yang ringan membuat kajian beliau yang kesemuanya ilmiah menjadi lebih mudah dipahami.

Buku ini berisi kumpulan esai tentang tafsir ayat-ayat dalam Al-Quran (tematik) yang telah Gus Nadir tulis di beberapa akun media sosialnya. Buku ini terdiri dari enam bagian yang masing-masing membahas tema berbeda. Ada juga pembahasan tentang tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 yang sempat ramai tahun 2016 silam.

Baca Juga :  Resensi Buku Wacana Ideologi Negara Islam

Profesor Quraish Shihab memberikan sambutan dalam buku ini untuk mengatakan bahwa upaya membahas Al-Quran lewat media sosial patut diapresiasi, apa pun konteks pembahasannya, dipandang dari sisi manapun ayat Al-Quran akan tetap memancarkan cahaya Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Tantangan bagi Gus Nadir saat ini adalah bagaimana kita bisa membumikan ajaran Islam yang tertera dalam Al-Quran kepada para pengguna media sosial. Dulu, umat Islam harus berangkat ke majelis taklim untuk menyimak para ustaz atau kiai mengajar tafsir Al-Quran. Tapi, kini, para ulama yang mendatangi kita lewat gadget yang dimiliki.

Banyak aplikasi yang digunakan untuk berdakwah, mulai dari Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp group, sampai Telegram. Itu semua adalah cara baru dalam berdakwah. Meski demikian, efek negatifnya pasti ada. Umat Islam tidak bisa memfilter mana yang “benaran” ustaz dan mana ustaz yang “benar-benar, deh”.

Bagi Gus Nadir, saat semua orang bisa mendadak jadi ustaz, maka kualifikasi dan hierarki keilmuan menjadi runtuh. Hasilnya, media sosial pun dipakai sebagai alat menyebarkan kajian keislaman yang tidak ramah, isinya marah-marah, dan lebih parah lagi menjadi kabur atau tidak jelas mana yang asli dan mana berita hoaks.

Filterisasi sangat penting dilakukan saat belajar Islam lewat internet, terutama media sosial. Buku ini adalah buku wajib yang mesti ada dalam rak buku, dibaca dan didiskusikan terus-menerus. Sebab, apa yang dibahas dalam buku ini tidak hanya menjawab permasalah masa kini, tapi juga membuka wacana untuk apa yang terjadi di masa yang akan datang.

Judul               : Tafsir Al-Quran di Medsos

Penulis            : Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D.

Penerbit           : Bunyan (Bentang Pustaka) Jogjakarta

Baca Juga :  Ulama yang Penting Buat di-"stalking" di Media Sosial

Tahun terbit     : Cetakan ketiga, Februari 2018

Tebal               : 278 halaman

Genre              : Nonfiksi, Agama Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here