Lelucon Abadi, Khazanah Islam Klasik

0
900

BincangSyariah.Com– Tak hanya dalam menyusun strategi, dalam hal yang bisa dikatakan “receh” pun butuh kecerdasan dalam menyusun kata dan waktu yang pas supaya menghasilkan ledakan tawa yang tepat. Acap kali seseorang menjadi tersinggung karena lelucon yang diutarakan oleh yang lain. Melucu itu ada seninya. Bahkan, tingkat tertinggi dari humor adalah menertawakan diri sendiri.

Seorang ulama negarawan, K.H. Abdurrahman Wahid pun melontarkan humor yang unik dan berkelas. Ia mengolah humor yang meledek diri sendiri. Tentu saja humor yang ia lontarkan akan berbeda dengan lelucon yang dilontarkan oleh komedian pada umumnya.

Melihat selera humor seorang Gus Dur, kurang indah rasanya jika kita hidup secara monoton, hati dan pikiran tegang, serta menyiratkan kebencian. Jika seorang waliyullah saja memiliki selera humor tinggi, mengapa kita harus menyebarkan aura tawuran? Islam adalah agama yang mencintai damai, bahkan kata Islam sendiri pun memiliki arti damai.

Maka, mengutip perkataan Rizal Mumazziq Z dalam pengantar buku Mati Ketawa Cara Salafi, “Tidak ada ceritanya teroris punya selera humor tinggi. Mereka terlalu serius menyikapi kehidupan, namun konyol dalam perbuatan. Dalam kajian psikologis, untuk menjadi teroris, seseorang harus dimatikan dulu selera humornya dan dipupuk jiwa psikopatnya”.

Buku yang ditulis oleh Juman Rofarif ini adalah kumpulan humor yang disarikan dari kitab Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin (Kabar tentang Orang-Orang Dungu). Kitab yang berisi tentang kedunguan dan orang-orang dungu. Seorang ‘arabiy (pedalaman) berdoa, “Ya Tuhan, ampunilah aku; aku aja, jangan yang lain.” Dia kemudian ditanya kenapa meminta Tuhan mengampuni dia seorang, padahal ampunan Tuhan itu luas. “Aku enggak mau nyusahin Tuhan,” katanya. (hlm. 39)

Membaca berbagai cerita lucu dalam buku Mati Ketawa Cara Salafi ini akan membuat kita terkekeh atau paling tidak kita akan tersenyum. Sebenarnya bukan pada kelucuan atau keunikan cerita, namun lebih pada pertanyaan kita, “kok ada orang semacam ini?”. Namun, karena cerita-cerita jenaka ini berasal dari kitab berbahasa arab, maka tak semuanya akan mudah kita pahami dan terkesan lucu bagi orang ‘ajam.

Maka, untuk memberikan komentar terhadap lelucon yang disajian, buku ini didesain dengan lima emoji pada tiap satu cerita yang bisa mewakili tingkat kelucuan menurut selera pembaca.

Baca Juga :  Kitab Bantahan Imam Suyuthi Tentang Maulid itu Bid'ah

Terlepas dari itu, kisah-kisah dalam buku ini juga mengajarkan bagaimana pentingnya mengenal diri sendiri. Melalui kisahnya, kita bisa mengukur, apakah kedunguan orang-orang yang ada dalam alur cerita sesungguhnya juga mengambarkan sisi gelap kita. Atau bahkan saat kita menertawakan kedunguan mereka, sesungguhnya kita juga sedang menertawakan diri kita sendiri.

Salah satu cerita kedunguan yang datang dari Juha. “Juha mengubur uang dirhamnya di satu tempat di gurun. Supaya tidak lupa, dia menandai tempat tersebut dengan awan yang menaunginya saat dia mengubur uang tersebut”

“Aku dengar teriakan kesakitan dari rumahmu”, kata seseorang kepada Juha. “Iya”, kata Juha. “Ini bajuku jatuh dari atas”. “Baju jatuh? Terus, teriakannya?” “Eh, dungu! Kalau bajumu jatuh dan kamu sedang memakai baju itu, bukannya kamu juga ikut jatuh?” (hlm. 22-23)

Membahas “dungu”, Ibnu Jauzi mencatat bahwa ada 40 sinonim dari kata “dungu” dalam bahasa Arab. Menurutnya, jika pun orang dungu tidak memiliki keutamaan maka banyaknya nama tersebut bisa menjadi keutamaan untuknya.

Kata “dungu” yang acap kali diungkapkan dengan intensi agak merendahkan, maka dengan memperkaya pengetahuan kita melalui membaca akan menambah wawasan tentang kedunguan dan orang-orang dungu dengan cita rasa lucu dan spiritual. Sebab dalam cerita-ceritanya akan menyajikan kelucuan dari tingkat “receh” hingga lelucon yang penuh hikmah.

Disebutkan juga melalui salah satu cerita yang ada, bahwa Rasulullah pun adalah sosok yang sangat manusiawi, memiliki selera guyon. Maka, tak berlebihan jika dikatakan bahwa lelucon juga termasuk bagian dari sunnah Nabi. Perkara sunnah kerap kali menjadi perdebatan di kalangan sesama muslim, bahkan sampai mencuatkan kata bid’ah serta menyesatkan pada sesama saudaranya. Padahal, melaksanakan sunnah adalah sesuai dengan waktu, tempat, dan keadaan. Tak cukup hanya dengan semangat melakukan sunnah namun tak mengerti kapan waktu yang tepat serta tanpa didasari pada keilmuan yang memadai.

Baca Juga :  Gapai Kebahagiaan dengan Qalbun Syakirun (Hati yang Bersyukur)

Penulis menyampaikan, buku ini diberi judul Mati Ketawa Cara Salafi yang dinisbatkan kepada salaf, leluhur, nenek moyang. Di antara nenek moyang ilmu keislaman kita adalah Imam al-Ghazali, Ibnu al-Jauzi, dan Fariduddin Attar. Ini lah cara ngakak guling-guling gara-gara lelucon gaya salaf, gaya leluhur, gaya nenek moyang. Selamat menikmati, selamat berseri-seri, mari hidup dengan santai.

Judul Buku      : Mati Ketawa Cara Salafi

Penulis            : Juman Rofarif

Penerbit           : Lentera Hati

Tahun Terbit   : Cet. 1, Juli 2019

Halaman         : xxiv + 116 hlm

ISBN               : 978-602-7720-91-6

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here