Langkah Awal Memahami Maqashid Syariah: Resume Buku “Dalil lil Mubtadi” Karya Jaser Audah

0
904

BincangSyariah.Com – Jaser Audah adalah seorang pemikir muslim asal Mesir yang aktif menyuarakan kajian maqashid al-syariah sebagai solusi atas persoalan metodologi hukum Islam. Ia menjabat sebagai direktur pendiri al-Maqashid Research Center Filsafat Hukum Islam (Markaz Dirasat Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyah) yang berpusat di London, suatu lembaga yang bergerak di bidang hukum Islam pada umumnya dan maqashid syariah pada khususnya. Di samping itu ia juga menjadi profesor tamu di Alexandria University, Mesir. Salah satu karya monumentalnya berjudul Maqashid al-Syariah as Philosophy of Islamic Law: a System Approach yang menunjukkan bahwa pendekatan multidisiplin harus diterapkan dalam penelitian studi Islam kontemporer.

Jaser Audah memperkenalkan sebuah pengertian praktis untuk maqashid syariah, yaitu sebuah cabang ilmu keislaman yang menjawab segenap pertanyaan-pertanyaan yang sulit, diwakili oleh sebuah kata yang tampak sederhana, yaitu “mengapa?” Ketika kita melayang jauh pada tingkatan-tingkatan pertanyaan “mengapa”, berarti kita sedang mencari maqashid dari apa yang ditanyakan. Untuk menjawabnya seringkali kita berpindah dari hal-hal yang sederhana, lalu dari isyarat-isyarat yang tampak jelas, kemudian dari tingkat perbuatan menuju tingkat hukum dan kaidah. Pada akhirnya kalau pertanyaan tersebut dilanjutkan maka kita akan sampai ke tingkat analisis kemaslahatan dan kemanfaatan bersama, prinsip-prinsip dasar serta akidah-akidah pokok seperti prinsip keadilan, kerahmatan, dan segenap sifat-sifat agung Allah SWT.

Sebagai contoh, kita sering bertanya-tanya tentang mengapa seorang muslim salat? Mengapa zakat dan puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam? Mengapa seorang muslim selalu berzikir? Mengapa berlaku baik terhadap tetangga termasuk kewajiban dalam Islam? Mengapa meminum minuman beralkohol, walaupun sedikit, adalah dosa besar dalam Islam? Dan mengapa hukuman mati ditetapkan bagi orang yang memperkosa atau membunuh secara sengaja? Dan pertanyaan kritis lainnya.

Sehingga dalam rangka ini, al-maqashid menjelaskan hikmah di balik aturan syariat Islam seperti memperkokoh bangunan sosial sebagai hikmah dari zakat dan berbuat baik terhadap tetangga, meningkatkan kualitas diri/ketakwaan sebagai hikmah dari salat, puasa, dan zikir, menjaga dan melestarikan nyawa, akal, harta benda, kehormatan, dan keturunan sebagai hikmah dari terlarangnya perbuatan membunuh, minum-minuman keras, mencuri, memperkosa dan berzina.

Baca Juga :  Hadis Kelima Kitab "Al-Mawaidh Al-'Ushfuriyah"; Keutamaan Rutin Baca Kalimat Tahlil

Selanjutnya al-maqashid dapat dianggap juga sebagai sejumlah tujuan (yang dianggap) ilahi dan konsep akhlak yang melandasi proses tasyri’ al-islami (penyusunan hukum berdasarkan syariat Islam) seperti prinsip keadilan, kehormatan manusia, kebebasan kehendak, kesucian, kemudahan, kesetiakawanan, HAM, pembangunan, dan keadilan sosial.

Perbedaan antara al-Maqashid dan al-Masalih

Kata al-maqashid merupakan bentuk plural dari kata al-maqshid dalam bahasa Arab yang berarti tujuan, sasaran, hal yang diminati atau tujuan akhir. Dalam istilah syariat, al-maqashid mempunyai beberapa makna seperti al-hadf (tujuan), al-garad (sasaran), al-mathlub (hal yang diminati), ataupun al-ghayah (tujuan akhir) dari hukum Islam. Al-Juwaini (478 H) sebagai ulama pertama yang memulai pengembangan teori maqashid menyamakan makna istilah al-maqashid dengan al-masalih al-ammah (maslahat-maslahat publik).

Lalu al-Ghazali (505 H) mengelaborasi lebih lanjut karya gurunya al-Juwaini dengan mengklasifikasikan al-maqashid dan mengkategorikannya sebagai al-masalih al-mursalah (kemaslahatan lepas). Hal senada juga disuarakan oleh Fakhruddin al-Razi (606 H) dan al-Amidi (631 H). Selanjutnya al-Thufi mendefinisikan al-maslah sebagai sebab yang mengantarkan kepada maksud al-syari’ (Allah dan rasul-Nya).

Sementara itu al-Qarrafi (1285 H) membuat kaedah “suatu bagian dari hukum Islam yang didasari oleh syariat kecuali terpaut padanya sebuah sasaran yang sah, yang dapat meraih kemaslahatan atau mencegah kemafsadatan”, artinya tujuan apapun yang termasuk al-maqashid pasti untuk menyatakan kemaslahatan manusia (mendatangkan manfaat dan menolak kemudaratan dari mereka).

Dimensi-dimensi al-Maqashid dan Perkembangannnya

Secara praktis, al-maqashid dapat diklasifikasikan berdasarkan dimensi keniscayaan (dasar klasifikasi klasik), dimensi hukum yang berusaha untuk mencapai al-maqashid, dimensi golongan manusia yang diliputi al-maqashid, dan dimensi universalitas al-maqashid. Para ulama klasik mengklasifikasikan al-maqashid berdasarkan dimensi keniscayaan menjadi 3 tingkatan, yaitu al-dharuriyyah (primer), al-hajiyat (sekunder), dan al-tahsiniyyat (tersier).

Kemudian tingkatan al-dharuriyyah mereka pecah lagi menjadi 5 tingkatan, yaitu hifz al-dien (pelestarian agama), hifz al-nafs (pelestarian diri), hifz al-mal (pelestarian harta), hifz al-‘aql (pelestarian akal), dan hifz al-nasl (pelestarian keturunan). Sebagian ulama menambahkan hifz al-‘ird (pelestarian kehormatan).

Hifz al-dien sebagai kebutuhan dasar bagi keberlangsungan kehidupan manusia, khususnya kehidupan akhirat diterapkan dengan cara menjaga prinsip-prinsip pokok dalam beragama seperti prinsip keadilan dan persamaan derajat. Hifz al-nafs diaplikasikan dengan cara memberlakukan pelarangan terhadap penyiksaan baik terhadap manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Baca Juga :  Hadis Keempat Kitab "Al-Mawaidz Al-'Ushfuriyah"; Kemuliaan Para Pencari Ilmu

Hifz al-aql diterapkan dengan cara melarang keras minum khamar, narkoba dan sejenisnya. Hifz al-maal diberlakukan dengan cara melarang sebab-musabab terjadinya krisis ekonomi seperti monopoli, riba, korupsi, dan kecurangan-kecurangan transaksi lainnya. Begitu juga dengan hifz al-nasl ditegakkan dengan cara pelarangan zina, durhaka terhadap orangtua, menelantarkan anak atau tidak berlaku adil kepadanya.

Sementara itu, tingkatan al-hajiyat (kebutuhan tingkatan kedua/sekunder) dapat dicontohkan seperti kebutuhan untuk menikah, berdagang, dan sarana transportasi. Masing-masing tidak secara langsung berkaitan dengan perkara hidup matinya seseorang, akan tetapi apabila salah satu kebutuhan itu tidak tersedia bagi sebagian besar manusia, maka ia akan berpindah dari jenjang “kebutuhan tingkat kedua” ke “keniscayaan” berdasarkan kaidah al-hajah idza ‘ammat, nazalat manzilah al-dharurah. Yaitu sebuah kebutuhan jika sudah menjadi jarang, maka ia sudah pantas untuk ditempatkan pada jenjang keniscayaan. Sementara itu, tingkatan al-tahsiniyyat (tersier) bersifat sebagai pelengkap kehidupan seperti minyak wangi, pakaian yang menarik, rumah yang asri, dan lain-lain.

Perlu digarisbawahi di sini, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Syathibi, bahwa terdapat hubungan persimpangan dan keterkaitan antar kategori atau jenjang al-maqashid tersebut. Perdagangan dan pernikahan misalnya, yang merupakan kebutuhan tingkat kedua (al-hajiyat) ternyata memiliki hubungan manfaat yang terkait erat dengan dengan pelestarian keturunan dan harta yang termasuk kebutuhan primer (al-dharuriyyah).

Namun oleh para pemikir al-maqashid kontemporer hierarki klasik seperti ini mereka kritisi dengan beberapa alasan sebagai berikut. Pertama, ruang lingkup al-maqashid klasik hanya terbatas dengan syariat secara keseluruhan sehingga ia tidak meliputi tujuan-tujuan spesifik dari sebuah hukum/teks ataupun dari sejumlah teks yang mengatur topik-topik tertentu dari syariat. Kedua, klasifikasi al-maqashid klasik hanya tertuju pada kepentingan individu (perorangan) daripada keluarga, masyarakat, ataupun manusia secara umum. Ketiga, al-maqashid klasik tidak meliputi nilai-nilai paling dasar yang diakui secara universal seperti keadilan, kebebasan, dan sebagainya. Keempat, al-maqashid klasik telah dideduksi dari tradisi dan literatur pemikiran mazhab hukum Islam, bukan langsung dari teks-teks suci (Alquran dan hadis).

Baca Juga :  Soekarno dan Kaum Pergerakan dari Pesantren: Telaah Buku Ketika Santri Membaca Sang Proklamator

Sebagai solusinya, mereka menawarkan beberapa perspektif baru seputar al-maqashid, di antaranya:

Pertama, membuat klasifikasi baru terhadap al-maqashid berdasarkan jangkauan hukumnya, yaitu al-maqashid al-‘ammah (maqashid umum) seperti prinsip keadilan, universalitas, dan kemudahan. Al-maqashid al-khasshah (maqashid spesifik) seperti kesejahteraan anak pada bab hukum keluarga. Dan al-maqashid al-juziyyah (maqashid parsial) seperti maksud menghilangkan kesukaran pada memperbolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa.

Kedua, memperluas konsep al-maqashid meliputi jangkauan yang lebih umum lagi seperti masyarakat, bangsa, bahkan umat manusia secara umum. Hal ini sebagaimana yang digagas oleh Ibn Asyur dalam mendudukkan ­al-maqashid yang berkaitan dengan bangsa (umat) pada tingkat yang lebih tinggi daripada al-maqashid yang berhubungan dengan individu. Begitu juga dengan Rasyid Ridha, memasukkan reformasi dan hak-hak perempuan dalam teori al-maqashid-nya. Dan juga Yusuf al-Qardhawi yang memasukkan harga diri manusia dan HAM dalam teorinya tentang al-maqashid. Ketiga, mengemukakan al-maqashid universal baru yang dideduksi langsung dari teks-teks suci, bukan dari literatur warisan mazhab fikih islami.

Sebagai penutup dari resume ini, penulis ingin menggarisbawahi bahwa pemikiran al-maqashid Jaser Audah ini memiliki keistimewaan dibanding karya-karya serupa dalam tema yang sama dari segi kesatuan tema dan sistematisasi alur pembahasan. Hanya saja apa yang tertera dalam buku ini baru sejauh teori yang mungkin saja membutuhkan usaha nyata untuk mewujudkannya.

Di samping itu, kami secara pribadi melihat ada beberapa tema kontroversial yang sempat dibahas oleh Jaser Audah dalam buku ini yang berpeluang besar untuk disalahpahami oleh sebagian kalangan, khususnya dalam konsep al-maqashid sebagai landasan bersama antarmazhab dan antarumat beragama.

Kendati demikian, apa yang ditulis dalam buku ini masih membuka peluang untuk didiskusikan lebih lanjut, seperti apa standar dan batasan-batasan maslahah dalam teori al-maqashid perspektif Jaser Audah sehingga dapat dibedakan dengan teori-teori al-maqashid lain yang cenderung liberal dan sembrono dalam penerapannya. Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here