Kunci Memahami Al-Quran dengan Benar

0
701

BincangSyariah.Com – Sungguh Kami (bersumpah bahwa Kami) telah mempermudah al-Qur’an untuk menjadi pelajaran, maka adakah yang ingin (bersungguh-sungguh) mengambil pelajaran (sehingga Allah melimpahkan karunia dan membantunya memahami kitab suci itu?)” (QS al-Qamar [54]: 22).

Al-Quran sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah mukjizat aqliyah yang bukan bersifat indrawi. Ia bersifat universal dan tidak bersifat local, temporal, dan material. Mukjizat yang bersifat aqliyah ini diberikan kepada Nabi Muhammad Saw karena beliau diutus kepada umat yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi dan kemampuan kognisi yang sempurna.

Masyarakat Arab pada masa itu sangat gemar dengan syair, sehingga mereka pun pernah ditantang dengan mendatangkan surat hingga ayat yang semisal dalam al-Quran. Sebagaiman firman Allah Swt dalam QS. al-Baqarah [2]: 23 -24.

Pembicaraan tentang alat bantu yang digunakan dalam memahami ayat-ayat al-Quran selama ini terangkum dalam lingkup ilmu tafsir yang mencakup pembahasan kaidah tafsir. Dalam pendahuluan penulis buku Kaidah Tafsir, M. Quraish Shihab telah menyebutkan bahwa kaidah tafsir adalah ketetapan-ketetapan yang membantu seorang penafsir untuk menarik makna atau pesan-pesan al-Quran dan menjelaskan apa yang musykil dari kandungan ayat-ayatnya. (hlm. 10)

Ketetapan tersebut sebagai patokan bagi mufassir untuk memahami kandungan dan pesan-pesan al-Quran yang dalam penerapannya memerlukan kejelian dan kehati-hatian, apalagi sebagian kaidah itu mengandung pengecualian-pengecualian.

Dewasa ini konteks uraian tentang kaidah tafsir tak dapat diabaikan. Bagaimana tidak, maraknya pertanyaan tentang hermeneutika pada era sekarang ini juga berkaitan dengan kaidah-kaidah penafsiran. Tak jarang dengan mengatas namakan hermeneutika maka akan lahir penafsiran-penafsiran baru, baik oleh mereka yang telah atau belum memenuhi persyaratan atau pemahaman hermeneutika.

Baca Juga :  Soekarno dan Kaum Pergerakan dari Pesantren: Telaah Buku Ketika Santri Membaca Sang Proklamator

Kenyataan menyebutkan bahwa tidak sedikit yang mengeluh sulit dan lama mempelajari kitab suci yang terdiri dari enam ribu ayat lebih itu. Keluhannya pun ada benarnya, apalagi mereka yang notabenenya tidak atau dangkal pengetahuannya akan bahasa arab dan ilmu-ilmu terkait.

Buku kaidah tafsir ini menyajikan informasi-informasi untuk menambah bahkan memulai belajar tentang tafsir al-Quran. Di samping itu buku kaidah tafsir juga dilengkapi dengan penjelasan kritis tentang hermeneutika dalam penafsiran al-Quran, tentu saja untuk menjawab problematika konteks kekinian.

Penulis yang merupakan Direktur Pusat Studi Qur’an (PSQ) Jakarta ini memulai goresan tintanya tentang pengantar kaidah tafsir, pesan Ilahi bagi penafsir al-Quran, tata bahasa arab, kisah dalam al-Quran, syarat-syarat mufassir, hermeneutika, baik hermeneutika romansis maupun filosofis. Ada dua puluh satu bab yang dikaji dalam buku ini.

“Kata Kami yang digunakan Allah menunjuk diri-Nya, di samping bertujuan menunjukkan keagungan-Nya, lafaz itu juga dapat berarti adanya keterlibatan makhluk dalam aktivitas yang ditunjuknya. Kalau Allah menunjuk diri-Nya dengan kata Aku maka itu antara lain mensyaratkan bahwa tidak ada selain-Nya yang boleh/dapat terlibat di dalamnya” (hlm. 16)

Salah satu bahasan ulama dalam konteks makna kosakata al-Quran adalah yang mereka namai al-wujuh wa an-nadzair. Quraish Shihab menjelaskan makna kosakata itu dengan berbagai bentuk. “al-Quran menggunakan kata dliya’ dalam berbagai bentuknya sebanyak enam kali. Kesemuanya untuk cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri.

Sebaliknya hal-hal yang disifati dengan nur merupakan pantulan cahaya Ilahi atau anugerah dari-Nya. Al-Quran melalui surat Yunus menginformasikan bahwa cahaya Matahari bersumber dari Matahari sendiri. Matahari adalah planet bercahaya, sedang bulan bukan planet bercahaya. Sinar yang terlihat darinya adalah pantulan cahaya Matahari” (hlm. 115)

Baca Juga :  Isi Pidato Lengkap Prof. Quraish Shihab di Konferensi Persaudaraan Kemanusiaan, Abu Dhabi

Dalam hal keindahan bahasa al-Quran, penulis memberikan contoh salah satunya adalah huruf wawu. Huruf wawu yang menghiasi kata futihat (artinya: dibuka) disebutkan ketika berbicara tentang dibukanya pintu-pintu surga untuk menyambut penghuni surga dan tidak disebutnya huruf tersebut ketika menguraikan tentang dibukanya pintu-pintu neraka bagi penghuni neraka. Inilah rahasia peletakan huruf wawu pada QS. Az-Zumar: 71-73. (hlm. 288)

Inilah keistimewaan al-Quran, keserasian dan keseimbangan kata-katanya. Al-Quran sendiri ia sebagai manhajul hayat dan mukjizatnya menyatu dalamnya dengan artian ia sendiri adalah mukjizat tersebut. Mukjizat al-Quran bersifat aqliyah, karena umat pada masa Nabi Muhammad Saw adalah bangsa pemikir, rasional, debatable sehingga dengan al-Quran bisa mematahkan argumen-argumen mereka yang ilmiah maupun yang rasional. Al-Quran kemukjizatannya bersifat abadi atau selamanya hingga akhir zaman. Inilah mengapa al-Quran berbeda dengan kitab sebelumnya yang hanya menjadi manhajul hayat (pedoman hidup).

Menurut penulis, kemandirian teks al-Quran walaupun secara umum ide dapat diterima, namun kemandirian tersebut tidak mutlak. Ada teks-teks ayat al-Quran yang tidak bisa dipisahkan dari penjelasan-penjelasan Nabi Muhammad Saw. Sekian banyak ayat yang tidak dapat dipahami secara berdiri sendiri tetapi harus dikaitkan dengan teks ayat yang lain. (hlm. 381)

Begitu interestnya buku kaidah tafsir ini, hingga kini tahun 2019 kembali terbit lagi dengan cetakan keempat. Ditulis oleh seorang pakar tafsir terkemuka, buku kaidah tafsir berisi hal-hal yang patut diketahui oleh siapa saja yang ingin memahami pesan-pesan al-Quran secara benar dan akurat.

Buku ini mengupas bagaimana kaidah tafsir dalam memahami al-Quran sehingga sifat al-Quran selalu tertanam dalam hati, bahwasanya al-Quran selalu mempersembahkan sesuatu yang baru, tak lekang oleh panas, pun tak lapuk oleh hujan. Inilah al-Quran sebagai mukjizat dan manhajul hayat.

Judul Buku      : Kaidah Tafsir

Baca Juga :  Unduh Buku Bijak dalam Penggunaan Media Sosial

Penulis            : M. Quraish Shihab

Penerbit           : Lentera Hati

Tahun Terbit   : Cet. I Juli 2013, Cet. IV April 2019

Halaman         : 426 hlm; 15 x 23 cm

Peresensi         : Lutfi Nur Fadhilah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here