Kitab Bantahan Imam Suyuthi Tentang Maulid itu Bid’ah

1
1339

BincangSyariah.Com – Imam Suyuthi adalah salah satu imam terkemuka pada abad 9-10 Hijriyah. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat alim dalam semua bidang ilmu keislaman. Mulai dari tafsir, ilmu tafsir, hadis, ilmu hadis, hingga fikih dan ushul fikih telah beliau kuasai. Bahkan beliau memiliki buah karya dari masing-masing ilmu tersebut.

Di samping itu, beliau juga memiliki karya yang ditulis untuk membantah ulama lain yang berbeda pendapat dengannya. Salah satunya adalah Husnul Muqshid Fi Amalil Maulid. Kitab ini membahas  tentang dalil disyariatkannya Maulid Nabi saw. sekaligus sebagai bantahan terhadap kalangan yang membid’ahkan perayaan Maulid Nabi saw.

Kitab yang berisi dua puluh satu halaman ini juga ditulisnya khusus untuk membantah kitab karya Syekh Tajuddin Umar bin Ali Al-Lakhami As-Sakandari yang lebih dikenal dengan Al-Fakihani. Ulama dari kalangan mazhab Maliki tersebut mengarang kitab Al-Maurid Fil Kalam Ala amalil Maulid.

Imam Al-Fakihani mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi saw. belum ia ketahui dalilnya sama sekali baik di dalam Alquran maupun sunnah. Imam Suyuthi melalui karyanya tersebut memberikan bantahannya dengan mengatakan bahwa tidak adanya pengetahuan (tidak tahu) itu bukan berarti selalu berimplikasi pada tidak adanya dalil.

Padahal Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani telah mengeluarkan hadis tentang dalil Maulid Nabi saw. Hadis tersebut terdapat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim yang berisi tentang Nabi saw. yang menanyai alasan orang Yahudi yang berpuasa di hari Asyura. Jawaban Yahudi adalah karena sebagai bentuk syukur atas ditenggelamkannya Firaun pada hari itu sehingga Nabi Musa as. pun selamat dari kejarannya.

Oleh karena itu, Nabi saw. juga menyuruh umatnya agar juga berpuasa di hari Asyura dan sekaligus hari Tasu’a (hari kesembilan bulan Muharram) sebagai pembeda dengan kaum Yahudi. Hadis ini menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa dikarenakan atas anugerah Allah berupa diberikannya nikmat atau dihindarkan dari bencana. Selain itu hadis ini juga menjadi dalil bahwa bentuk syukur itu bisa diekspresikan dalam berbagai bentuk ibadah, bisa sujud, puasa, shadaqah dan membaca Alquran.

Baca Juga :  Unduh Buku Pendidikan Seks dalam Islam

Sementara nikmat yang sangat besar yang patut kita syukuri adalah lahirnya Nabi Muhammad saw. Maka, orang yang tidak mau memperhatikan hal ini, pasti ia tidak akan memperdulikan perayaan Maulid Nabi saw.

Selain itu, Imam Al-Fakihani juga mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi saw. hanyalah dibuat-buat oleh orang-orang yang bodoh/dungu saja. Imam Suyuthi pun membantahnya bahwa ulama-ulama telah mengatakan dahulu raja-raja yang adil dan alim telah merayakan Maulid Nabi saw. sebagai bentuk taqarrub kepada Allah. Bahkan acaranya pun dihadiri oleh ulama dan orang-orang saleh tanpa ada yang mengingkarinya. Hal ini pun telah diterangkan oleh Imam Ibnu Dahiyyah di dalam karyanya bahwa ulama rida dan mengakui peringatan Maulid Nabi saw., mereka tidak ada yang mengingkarinya.

Pendapat Al-Fakihani berikutnya adalah bahwa perayaan Maulid Nabi saw. tidak disunnahkan, karena pada hakikatnya hal yang disunnahkan adalah yang dituntut oleh syariat. Tanggapan Imam Suyuthi terkait ini adalah bahwa tuntutan syariat itu kadang berasal dari teks (Alquran dan hadis), kadang pula berupa qiyas. Oleh karena itu, jika tidak ada dalilnya di dalam Alquran dan hadis secara jelas, maka dalilnya adalah diqiyaskan kepada teks yang ada di dalam Alquran dan hadis (seperti argumen Imam Ibnu Hajar di atas).

Selain kitab Husnul Muqsid fi Amalil Maulid berisi bantahan Imam Suyuthi kepada Imam Al-Fakihani, Imam Suyuthi juga memaparkan argumen-argumen dan pendapat para ulama lain seputar disyariatkannya Maulid.  Di antaranya ulama yang beliau kutip pendapatnya adalah Imam Ibnu Hajar, Ibnul Jazari di dalam kitabnya Arfut ta’rif bil maulidis Syarif dan Imam Syamsuddin Ad Dimasyqi di dalam kitabnya Maurids shadi fi maulidil hadi. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

  1. JIKA CARA TSB BOLEH KENAPA IMAM MAZHAB TIDAK ADA YANG MEREKOMENDASIKAN?

    SIAPA BILANG PERINGATAN MAULID NABI BID’AH

    https://youtu.be/A0jI8koFqzs

    Peringatan Maulid Menurut 4 Madzhab

    Bagaimana pendapat ulama imam 4 madzhab tentang peringatan maulid? seperti Imam as-Syafii…

    Jawab:

    Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

    Kita semua mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua memuliakan beliau. Kami, anda, mereka, semua muslim sangat mencintai dan memuliakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Yang menjadi pertanyaan, apakah perayaan maulid merupakan cara benar untuk mengungkapkan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

    Kita tidak tahu pasti kapan pertama kali maulid ini diadakan. Namun jika kita mengacu pada keterangan al-Maqrizy dalam kitabnya al-Khathat (1/490), maulid ini ada ketika zaman Daulah Fatimiyah, daulah syiah yang berkuasa di Mesir. Mereka membuat banyak Maulid, mulai dari Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain. Dan Bani Fatimiyah berkuasa sekitar abad 4 H.

    Al-Maqrizy adalah ulama ahli sejarah dari Mesir. Wafat tahun 845 H.

    Mengenai siapa bani fathimiyah, bisa anda pelajari di: Mengenal Kerajaan Syiah Daulah Fatimiyah

    Inilah yang menjadi alasan, kenapa para ulama ahlus sunah yang menjumpai perayaan maulid, menginkari keberadaan perayaan ini. Karena pada hakekatnya, mereka yang merayakan peringatan maulid, melestarikan kebudayaan daulah Fatimiyah yang beraqidah syiah bathiniyah.

    Kita akan simak penuturan mereka,

    [1] Keterangan Tajuddin al-Fakihani (ulama Malikiyah w. 734 H),

    لا أعلم لهذا المولد أصلاً في كتاب ولا سنة، ولا ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكون بآثار المتقدمين، بل هو بِدعة أحدثها البطالون

    Saya tidak mengetahui adanya satupun dalil dari al-Quran dan sunah tentang maulid. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan ini adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil. (Risalah al-Maurid fi Hukmi al-Maulid, hlm. 1).

    [2] Keterangan as-Syathibi (w. 790 H)

    فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة وكل بدعة ضلالة

    Semua paham bahwa mengadakan maulid seperti yang ada di masyarakat di masa ini adalah bid’ah, sesuatu yang baru dalam agama. Dan semua bid’ah adalah sesat. (Fatawa as-Syatiby, hlm. 203).

    [3] Keterangan as-Sakhawi (ulama Syafiiyah dari Mesir, muridnya Ibnu Hajar al-Asqalani),

    أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة

    Asal perayaan maulid as-Syarif (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak dinukil dari seorangpun dari ulama salaf yang hidup di tiga generasi terbaik. (al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, hlm. 12)

    [4] Pujian as-Suyuthi terhadap keterangan Abu Amr bin al-Alla’ (w. 154 H)

    ولقد أحسن الإمام أبو عمرو بن العلاء حيث يقول: لا يزال الناس بخير ما تعجب من العجب – هذا مع أن الشهر الذي ولد فيه رسول الله وهو ربيع الأول هو بعينه الشهر الذي توفي فيه، فليس الفرح بأولى من الحزن فيه

    Sungguh benar yang dinyatakan Imam Abu Amr bin al-Alla’, beliau mengatakan, “Masyarakat akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih merasa terheran. Mengingat bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rabiul Awal, yang ini juga merupakan bulan wafatnya beliau. Sementara bergembira di bulan ini karena kelahirannya, tidak lebih istimewa dari pada bersedih karena wafatnya beliau. (al-Hawi Lil Fatawa, 1/190).

    Kebahagiaan mereka di tanggal 12 Rabiul awal dengan anggapan sebagai hari maulid, bertepatan dengan hari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mana yang lebih dekat, peringatan kelahiran ataukah peringatan kematian.

    [5] Keterangan Imam Ibnul Hajj (w. 737 H) menukil pernyataan al-Allamah al-Anshari

    فإن خلا – أي عمل المولد- منه – أي من السماع – وعمل طعاماً فقط، ونوى به المولد ودعا إليه الاخوان، وسلم من كل ما تقدم ذكره – أي من المفاسد- فهو بدعة بنفس نيته فقط، إذ إن ذلك زيادة

    Jika kegiatan maulid itu bersih dari semua suara-suara musik, hanya berisi kegiatan makan-makan, dengan niat maulid, mengundang rekan-rekan, dan bersih dari semua aktivitas terlarang yang tadi disebutkan, maka status perbuatan ini adalah bid’ah hanya sebatas niatnya. Karena semacam ini termasuk tambahan. (al- Madkhal, 2/312)

    [6] Pengakuan tokoh sufi, Yusuf ar-Rifa’i,

    Bahkan seorang tokoh sufi Yusuf Hasyim ar-Rifa’i menyatakan dalam kitabnya bahwa perayaan maulid, termasuk yang bentuknya berkumpul untuk mendengarkan pembacaan sirah nabawi, baru ada jauh setelah para imam madzhab meninggal dunia. Yusuf ar-Rifa’i mengatakan,

    إن اجتماع الناس على سماع قصة المولد النبوي الشريف، أمر استحدث بعد عصر النبوة، بل ما ظهر إلا في أوائل القرن السادس الهجري

    Orang berkumpul untuk mendengarkan pembacaan kisah maulid as-Syarif, adalah amalan baru setelah zaman kenabian. Bahkan kegiatan ini belum semarak kecuali di awal abad ke-6 hijriyah. (ar-Rad al-Muhkim al-Mani’, hlm. 153).

    [7] Keterangan Muhammad Rasyid Ridha,

    هذه الموالد بدعة بلا نزاع، وأول من ابتدع الاجتماع لقراءة قصة المولد أحد ملوك الشراكسة بمصر

    Peringatan maulid ini statusnya bid’ah tanpa ada perbedaan diantara ulama. Sementara orang pertama yang membuat bid’ah kumpul-kumpul untuk menceritakan kisah Maulid adalah salah satu raja Circassians di Mesir. (al-Manar, 17/111)

    Maulid Menurut Ulama 4 Madzhab

    Lalu bagaimana pandangan para ulama imam madzhab, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad terkait peringatan maulid?

    Jawabannya:

    Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan keterangan dari mereka tentang maulid, sementara peringatan maulid belum pernah ada di zaman mereka..

    Allahu a’lam.

    Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

    Read more https://konsultasisyariah.com/26137-perayaan-maulid-menurut-ulama-madzhab.html

    Allah SWT berfirman:

    وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ رَاَيْتَ الْمُنٰفِقِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْكَ صُدُوْدًا 

    “Dan apabila dikatakan kepada mereka, Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul, (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 61).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here