Kitab Al-Mawaidh Al-‘Ushfuriyah; Allah Jamin Surga untuk Hamba-Nya dengan Lima Permintaan Ini

0
749

BincangSyariah.Com – Hadis yang kesembilan dalam Kitab al-Mawaidh al-‘Ushfuriyyah ini dari sahabat Muadz Bin Jabal ra. Beliau berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

يقول الله يابن ادم استحي مني عند معصيتك وانا استحي منك يوم العرض الاكبر فلا اعذبك يابن ادم تب الي اكرمك كرمة الانبياء يابن ادم لا تحول قلبك عني فانك ان حولت قلبك عني اخذلك فلا انصرك يابن ادم لو لقيتني يوم القيامة ومعك حسنات مثل اهل الارض لم اقبل منك حتى تصدقني بوعدي ووعيدي يابن ادم اني انا الرزاق وانت المرزوق وتعلم اني اوفيك رزقك فلا تترك طاعتي بسبب الرزق فانك ان تركت طاعتي بسبب رزقك اوجبت عليك عقوبتي يابن ادم احفظ لي هذه الخصال الخمس ولك الجنة

Allah Swt. berfirman : Wahai anak Adam, malulah pada-Ku ketika ingin berbuat maksiat, maka Aku pun akan malu padamu saat hari pembalasan kelak. Aku tidak akan menyiksamu. Wahai anak Adam, tobatlah padaku, maka aku akan memberikan karomah para nabi untukmu. Wahai anak Adam, jangan palingkan hatimu dari-Ku. Karena jika kau lakukan itu, maka Aku akan mengabaikanmu. Aku tak akan menolongmu.

Wahai anak Adam, andaikan kau menghadap-Ku kelak pada hari kiamat dengan membawa kebaikan penduduk bumi, maka Aku akan menolak semua itu sampai kau meyakini atas semua janji dan ancaman-Ku. Wahai anak Adam, Aku adalah Dzat Pemberi rezeki. Engkau adalah yang diberi rezeki. Engkau tahu bahwa hanya aku yang dapat mencukupi rezekimu. Maka jangan tinggalkan ketaatan pada-Ku sebab rezekimu. Karena jika engkau lakukan itu, maka Aku wajibkan siksa untukmu. Wahai anak Adam, jagalah 5 perkara tersebut untuk-Ku, maka surga sebagai balasan untukmu.

Lima hal dalam hadis Qudsi tersebut merupakan satu kesatuan. Dalam artian bukan sebuah pilihan. Semuanya harus dikerjakan.

Baca Juga :  Ini Enam Tips Agar Dipermudah Menuju Surga

Pertama, jangan bangga dengan kemaksiatan yang telah diperbuat. Malulah pada Allah Swt. saat hendak bermaksiat. Jika sudah terlanjur bermaksiat, maka malulah pada Allah Swt. dengan segera bertobat. Dengan begitu maka Allah. Swt. ikut malu juga untuk menyiksanya.

Merasa bangga saat bermasiat termasuk kemaksiatan juga. Termasuk sebagian orang yang bangga atas kemaksiatannya adalah menceritakan pada orang lain dengan tanpa ada penyesalan dan rasa bersalah. Misal bercerita bahwa dirinya baru saja berhasil mencuri barang, mencuri hati (pacaran), dan lain sebagainya. Seharusnya ia malu pada orang lain, khususnya pada Allah Swt. atas maksiatnya.

Kedua, bertobat kepada Allah Swt. atas semua dosa yang pernah dilakukan. Memperbanyak baca istighfar dan dzikiran yang lain pada Allah Swt. sebagai penebus dosa. Dengan bertobat, maka Allah Swt. akan memberikan kemuliaan pada hamba-Nya.

Ketiga, hati tetap berpijak kepada Allah Swt. Jangan sekali-kali berpaling dari-Nya. Karena ketika kita menjauh dari-Nya, maka Dia akan lebih menjauh lagi. Tidak harapan untuk mendapatkan pertolongannya kelak di saat tidak ada yang bisa memberikan pertolongan selain-Nya.

Keempat, jangan andalkan kebaikan yang dimiliki. Sebanyak apapun amal yang dimiliki, bahkan sebanyak amal penduduk bumi sekalipun, itu tidak akan berarti apa-apa jika tanpa didasari dengan keyakinan pada Allah Swt. Percuma beramal banyak jika kita tidak meyakini adanya janji dan ancaman Allah Swt.

Kelima, meyakini bahwa Allah Swt. Dzat Pemberi rezeki, sedangkan kita adalah yang diberi rezeki. Hanya Allah Swt. yang dapat mencukupi dan memenuhi rezeki kita. Kita tidak boleh meninggalkan ketaatan hanya dikarenakan sibuk mencari rezeki. Karena jika demikian, maka siksa yang dijanjikan untuk kita.

Yang petani, yang pedagang, yang pegawai, dan lain sebagainya jangan sampai meninggalkan sholat lima waktu hanya karena sibuk bekerja. Jangan tukar ibadah dengan penghasilan yang tak seberapa. Bagaimanapun kita bekerja, rezeki tetap Allah Swt. yang mengatur. Oleh karenanya jangan sampai menjauh dari Dzat Pengatur rezeki jika tidal ingin semakin rumit dan ruwet kehidupan dan penghidupanya.

Baca Juga :  Inilah Delapan Tingkatan Surga dan Namanya

Kita tidak perlu khawatir dengan urusan rezeki. Baik untuk diri sendiri atau keluarga. Yang perlu diutamakan adalah ibadah. Bekerjalah sebagai washilah saja untuk mendapatkan rezeki. Allah Swt. berfirman dalam QS. Thaha (20) : 132,

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ  لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepAdamu, Kamilah yang memberi rezeki kepAdamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.

Pasrahkan semua urusan rezeki pada Allah Swt. Seluruh makhluk di muka bumi, baik manusia ataupun makhluk lainnya sudah terlahir dengan kadar rezeki masing-masing. Allah Swt. berfirman dalam QS. Hud (11) : 6,

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

 Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). Wallahualam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here