Kisah Maryam dari Al-Qur’an dan Injil

0
1084

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an sebagai sumber hikmah bagi umat islam banyak mengabadikan sosok perempuan melalui kisah-kisahnya yang inspiratif dan memberikan hikmah bagi umat Islam. Dari sekian banyak perempuan-perempuan Al-qur’an yang notabene disebut secara abstrak atau tersirat dengan term Zaujun atau Imroatun, ada sosok perempuan yang disebut secara Konkret atau tersurat di dalamnya, yaitu Maryam Binti Imran ibunda Al-masih Isa As. Dalam panggung sejarah, sudah jamak diketahui bahwa ia terpandang sebagai perempuan yang suci, baik di mata orang-orang islam ataupun orang yahudi-kristen. Ia juga memiliki gelar seperti Al-Adzra’ (Perawan), Al-Bathul (Selalu Beribadah) dls. Ia telah dipilih oleh Tuhannya agar senantiasa menjadi wadah yang suci bagi pengejawantahan kalam-Nya di dunia.

Kita barangkali sebatas mengetahui secara singkat potongan kisahnya dengan segala Mukjizatnya melalui kitab suci. Maka dari itu buku yang berjudul Maryam tersebut dapat menjadi jembatan bagi pembaca untuk mengetahui kisahnya lebih jauh. Karya berikut merupakan transliterasi dari karya orisinil tokoh sejarawan sekaligus sastrawan muslim dunia ‎bernama Fathi Fauzi Abdul Mu’thi yang mengupas kisah maryam dan perjalanan hidupnya secara kronologis. (Baca: Manfaat Surah Maryam untuk Ibu Hamil)

Ketika membicarakan sosok Maryam, tentu tidak terlepas dari keluarga Imron bin Matsan dengan seorang istrinya Hanna Bint Faqad, keluarga terpilih yang diabadikan dalam Al-Qur’an (Lih: Qs. Ali Imron: 33).  Maka karya tersebut dimulai dari kisah sosok wanita Shalihah bernama Hanna yang sudah berumur senja dan tidak kunjung dikaruniai anak. Oleh orang-orang sekitar ia dinggap sebagai wanita mandul yang tidak mungkin dikaruniai keturunan.  Ia sendiri sangat mendambakan seorang putra untuk melengkapi kehidupan keluarganya. Hingga pada suatu hari ketika ia tengah berjalan di padang sabana ia memerhatikan seekor induk burung yang terbang menuju anak-anaknya dengan membawa makanan di paruhnya. Kicauan anak burung seolah sedang bernyanyi menyambut kedatangan induknya itu (Hal. 14-15). Hanna tidak pernah putus harapan, ia selalu panjatkan doa agar dapat dikaruniai anak. Bahkan ia bernadzar akan menjadikan putranya kelak seorang abdi di Baitul Maqdis.

Baca Juga :  Unduh Gratis Buku Panduan Zakat

Allah telah mengabulkan doanya dan menerima nadzarnya, kabar tersebut disampaikan kepadanya oleh suaminya, Imran sepulang dari Baitul maqdis. Ia merasa bahagia bukan kepalang,  dan setelah kehamilannya semakin membesar ia mengharapkan sosok bayi laki-laki yang kelak akan mengganti posisi suaminya di Baitul maqdis. Akan tetapi takdir berkehendak lain. Ia melahirkan sosok bayi perempuan yang cantik. Perasaan Hanna lalu berubah antara bahagia dan takut, merasa bahagia akan sosok bayi yang Allah anugerahkan setelah bertahun-tahun lamanya begitu mendambakan keturunan, disisi lain ia khawatir Allah tidak akan menerima putrinya sebagai pemenuhan nadzarnya. Kekhawatiran itu juga beralasan karena pada saat itu, kaumnya tidak pernah menjadikan seorang perempuan untuk menjadi pelayan tuhan dan menjadi abdi di Baitul Maqdis. Kendati demikian, Allah memberikan kemudahan kepada keluarga Imron dalam menempatkan Maryam di Baitul Maqdis. (Hal.39-43)

Maryam tumbuh menjadi perempuan cantik, lincah dan Shalehah. Maryam dikenal sebagai perempuan suci. Dengan kesabaran dan keimanannya yang kokoh, ia mampu bertahan menghadapi segala ancaman bahaya dan  sekalipun menjadi orang yang termarjinalkan di antara kaumnya. Dalam kehidupannya, sayembara juga seringkali digelar. Hal ini beralasan karena orang-orang di sekitar berupaya untuk menjadi pendamping dan juga pengasuhnya. Sayembara pertama digelar ketika para pemuka yahudi berbeda pendapat tentang siapakah yang layak menjadi pengasuh Maryam setelah Hanna menyerahkannya untuk dijadikan abdi di Baitul Maqdis. Entah apakah dari kalangan kerabatnya seperti Zakaria, ataukah dari kalangan sahabatnya seperti Ya’zir?  Lalu seorang pemuka yahudi bernama Saul menjadi penengah diantara mereka. Ia melakukan sayembara dalam rangka menentukan siapakah diantara mereka yang paling berhak mengasuh Putri Imron. Mereka menuliskan kalamnya masing-masing lalu mencelupkannya pada air suci. Dan barangsiapa yang kalamnya mengambang, tidak tenggelam, maka dia-lah yang berhak mengasuh Maryam. Semua kalam tenggelam kecuali satu yang mengambang. Yaitu milik Zakaria. (Hal. 54-56)

Baca Juga :  Kekuatan Doa Hannah Ibunda Siti Maryam untuk Sang Putri

Sayembara kedua digelar ketika Maryam mulai tumbuh menjadi gadis dewasa. para lelaki sangat bersukacita dengan adanya sayembara tersebut, berharap menjadi suami dari seorang gadis yang suci. Mereka merasa yakin akan mendapatkan berkah ilahiah dan kebaikan hidup apabila Maryam menjadi permaisuri mereka. Setiap lelaki yang hadir  mengikuti sayembara, memegang tongkat yang telah dinamai dengan namanya masing-masing. Mereka memanjatkan doa dan bermunajat kepada tuhan agar menjadi orang terpilih. Sedang Zakaria juga memanjatkan tembang permohonan di Baitul Maqdis. Beberapa saat kemudian, orang-orang melihat kemunculan seekor burung berwarna putih berputar cukup lama di awang-awang lalu hinggap di salah satu tongkat diantara laki-laki itu sebagai tanda bahwa pemilik tongkat yang dihinggapi adalah pilihan tuhan untuk menjadi pasangannya. Ternyata si pemilik tongkat itu adalah Yusuf An-najjar  seorang yang dikenal sebagai orang biasa dan bukan pula kalangan pemuka yahudi. (Hal. 76-77)

Kehidupan Maryam juga sarat dengan keajaiban dan Mukjizat yang dirasakan olehnya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mulai dari hidangan yang disuguhkan oleh malaikat hingga mimpi secercah cahaya yang kelak termanifestasi secara nyata, terlahir menjadi Al-Masih Isa As. Yang dinanti-nanti. Cahayanya menggiring para gembala yahudi menuju jambang bayi Isa As, menggiring kaum majusi pada kebenaran serta memadamkan api dan sinar kekuasaan romawi yang zalim di tangan raja Herodes. (Hal. 153-188)

Buku yang diterjemahkan oleh Dedi Slamet Riyadi. M ini cukup menarik untuk dibaca sebab cerita yang dirangkai dengan memadukan antara Al-Qur’an dan injil. Maka tidak heran kemudian apabila dalam kisah tersebut terselip kisah-kisah bernuansa Israiliyyat. Seperti halnya sayembara pasangan Maryam, di mana Islam telah menafikan kisah tersebut karna berpotensi menimbulkan stigma buruk dan prasangka yang bersifat probabilitas terhadap kesucian Maryam. Kisah yang di tulis oleh penulis Sejarah Kakbah ini secara kronologis akan membawa pembaca tidak merasa bosan. Di negeri pertiwi ini penulis bernama Dian Yasmina Fajri juga menulis kisah Maryam berjudul Maryam: Perempuan Penghulu Surga. Berbeda dengan Fathi Fauzi, ia lebih cenderung memperkaya pustaka dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir dan lain sebagainya. Wallahu A’lam.

Baca Juga :  Belajar Tegar Menghadapi Cercaan dari Maryam binti Imran; Ibunda Nabi Isa

Judul Buku      : Maryam: Kisah Hidup Sang Perawan Suci

Penulis            : Fathi Fauzi Abdul Mu’thi

Penerbit           : Qaf Media

Cetakan           : Pertama, Februari 2020

Jumlah Hlm    : 244 Hlm

ISBN               : 978-602-5547-71-3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here